ASPOST.ID- Tiga bulan setelah banjir besar menerjang berbagai sudut Kabupaten Aceh Utara, jejak bencana itu belum benar-benar hilang. Lumpur memang mulai mengering, rumah-rumah perlahan dibenahi, namun satu persoalan mendasar masih menghantui warga yakni kebutuhan air bersih.
Sumur-sumur yang selama ini menjadi sumber kehidupan berubah keruh dan berbau. Sebagian jaringan air rumah tangga rusak, lainnya diduga tercemar. Di tengah keterbatasan itu, kebutuhan paling sederhana air layak minum menjadi barang langka.
Di sejumlah desa terdampak, jerigen dan galon kini berderet menunggu giliran diisi. Warga tak lagi sekadar berharap hujan berhenti, tetapi menanti truk tangki datang membawa suplai air siap konsumsi.
Sepanjang Februari 2026, distribusi air bersih kembali digerakkan oleh Yayasan Geutanyoe.Penyaluran difokuskan ke empat desa di dua kecamatan, yakni Matang Serdang dan Matang Seuke Pulot di Kecamatan Tanah Jamboe Aye, serta Alue Anoe Timu dan Alue Anoe Barat di Kecamatan Baktiya. Sasaran utamanya keluarga yang hingga kini belum memiliki akses air layak konsumsi.
Dalam sebulan, delapan kali pengiriman dilakukan. Setiap penyaluran membawa 2.000 liter air siap minum. Total 16.000 liter air telah menjangkau sekitar 842 kepala keluarga atau lebih dari 2.500 jiwa. Bagi warga, angka-angka itu bukan sekadar statistik melainkan jaminan hidup sehari-hari.
“Air ini untuk minum, masak, sampai sahur nanti,” ujar seorang ibu rumah tangga di Alue Anoe Barat, menggambarkan betapa pentingnya bantuan tersebut, terlebih menjelang Ramadan.
Tak hanya air minum, satu unit tangki berkapasitas 1.000 liter juga diserahkan sebagai penampungan bersama. Tangki itu kini menjadi pusat aktivitas warga, tempat mereka bergantian memenuhi kebutuhan harian sekaligus menjaga kebersamaan di tengah masa pemulihan.
Upaya pemulihan juga menyentuh sisi yang kerap luput dari perhatian: kesehatan mental anak-anak. Trauma banjir, kehilangan ruang bermain, hingga kecemasan berkepanjangan menjadi beban tersendiri. Karena itu, ruang aman bagi anak dibangun di Alue Anoe Timu sebagai tempat belajar, bermain, dan mendapatkan dukungan psikososial.

Bersama relawan, Yayasan Geutanyoe menggelar delapan sesi pendampingan psikososial sepanjang Februari. Anak-anak diajak menggambar, bercerita, dan berinteraksi kembali, perlahan mengembalikan rasa aman yang sempat hilang.
Koordinator lapangan, Iskandar, menilai persoalan sanitasi dan air bersih masih menjadi pekerjaan rumah besar pascabencana. Menurutnya, tanpa dukungan berkelanjutan, risiko penyakit dan gangguan kesehatan akan terus mengintai kelompok rentan.
“Sanitasi dan ketersediaan air bersih masih menjadi tantangan utama. Dukungan harus terus ada agar masyarakat, terutama anak-anak, bisa hidup lebih sehat dan aman selama masa pemulihan,” katanya.
Di Aceh Utara hari ini, pemulihan bukan lagi sekadar membangun kembali rumah yang roboh. Ia tentang memastikan setiap keluarga bisa meneguk air bersih, anak-anak bisa tertawa lagi, dan kehidupan perlahan kembali normal. Dari setetes air, harapan itu tumbuh kembali.(asp)

