ASPOST.ID- Di tengah tuntutan reformasi birokrasi dan percepatan transformasi digital, lahir satu capaian akademik yang memberi pesan kuat bahwa aparatur sipil negara tidak hanya dituntut melayani, tetapi juga mampu melahirkan gagasan ilmiah berkelas dunia.
Dr. Chaidir, S.E., M.M., aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Aceh, yang berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Manajemen dengan predikat cumlaude melalui jalur publikasi jurnal internasional bereputasi Quartile 1 (Q1), sebuah jalur akademik yang dikenal sangat kompetitif dan memiliki standar ilmiah tinggi.
Pada prosesi wisuda yang berlangsung di Gedung AAC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, Rabu (20/5/2026), Chaidir tercatat sebagai salah satu lulusan dengan capaian akademik paling menonjol pada periode tersebut.
Berbeda dengan jalur doktoral konvensional, skema berbasis publikasi Q1 menuntut mahasiswa menghasilkan riset yang memiliki kebaruan ilmiah, relevansi global, serta lolos proses peer review ketat di jurnal internasional bereputasi tinggi. Tidak hanya sekadar menyelesaikan disertasi, jalur ini juga menjadi ukuran kapasitas akademik yang mampu bersaing di level internasional.
Disertasi yang diangkat Chaidir berjudul “Peran Digital Leadership dalam Peningkatan Kinerja Akademik Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Berbasis Smart School di Provinsi Aceh.”
Melalui riset tersebut, ia menyoroti bagaimana kepemimpinan digital menjadi faktor penting dalam mendorong transformasi pendidikan modern, terutama dalam pengembangan sekolah berbasis teknologi di Aceh. Penelitian itu juga menegaskan bahwa kualitas kepemimpinan di era digital tidak lagi hanya diukur dari kemampuan administratif, tetapi juga dari kapasitas adaptasi teknologi, inovasi, dan penguatan ekosistem pembelajaran berbasis digital.
Di tengah perubahan cepat dunia pendidikan pascapandemi dan percepatan digitalisasi sekolah, tema yang diangkat Chaidir dinilai relevan dengan tantangan pembangunan sumber daya manusia Indonesia ke depan.
Dalam perjalanan akademiknya, Chaidir dibimbing oleh Prof. Dr. M. Shabri, S.E., M.Ec. sebagai promotor, didampingi Prof. Dr. Mahdani, S.E., M.M. dan Prof. Dr. Muslim, S.E., MBA selaku co-promotor.
Ia menyebut keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan dan arahan intensif para pembimbing yang selama ini mendampingi proses penelitian hingga publikasi ilmiah internasional.
“Bimbingan, motivasi, dan masukan ilmiah dari para promotor menjadi bagian penting dalam penyelesaian studi ini. Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasi yang diberikan,” ujar Chaidir.
Tak hanya itu, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Aceh yang telah memberi dukungan dan ruang bagi ASN untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral.
Menurutnya, investasi pemerintah daerah terhadap peningkatan kualitas aparatur merupakan langkah strategis untuk melahirkan birokrasi yang profesional, adaptif, dan berbasis pengetahuan.
Chaidir sendiri bukan sosok baru di lingkungan birokrasi Aceh. Ia memiliki rekam pengabdian panjang di sejumlah instansi strategis, mulai dari Bappeda Aceh, Dinas Pendidikan Aceh, Badan Pengelolaan Keuangan Aceh (BPKA), hingga kini bertugas di Dinas Sosial Aceh.
Perjalanan akademik dan karier birokrasi yang berjalan beriringan itu menjadi contoh bahwa budaya riset dan pengembangan ilmu pengetahuan dapat tumbuh di lingkungan pemerintahan.
Capaian tersebut sekaligus memperlihatkan wajah baru ASN yang tidak hanya identik dengan administrasi pemerintahan, tetapi juga mampu tampil sebagai motor penggerak inovasi dan penghasil kajian ilmiah yang berdampak pada kebijakan publik.
Di tengah tantangan era digital dan kebutuhan reformasi pelayanan publik, keberhasilan Chaidir menjadi simbol bahwa birokrasi modern membutuhkan aparatur yang tidak berhenti belajar, mampu berpikir ilmiah, serta memiliki kapasitas global tanpa meninggalkan akar pengabdian daerah. (asp)

