ASPOST.ID- Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza kian memburuk. Untuk pertama kalinya dalam sejarah di luar Afrika, wilayah ini secara resmi diklasifikasikan mengalami kelaparan oleh Integrated Food Security Phase Classification (IPC), menurut laporan terbaru yang dirilis Jumat (22/8/2025).
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa 514.000 orang hampir seperempat populasi Gaza saat ini menderita kelaparan, dan angka itu diperkirakan akan meningkat menjadi 641.000 jiwa pada akhir September. Sebagian besar dari mereka berada di wilayah utara, termasuk Kota Gaza, yang kini menjadi pusat krisis setelah hampir dua tahun konflik berkepanjangan antara Israel dan Hamas.
“Ini adalah bencana kelaparan yang bisa dicegah,” tegas Tom Fletcher, Kepala Kemanusiaan PBB. Namun makanan menumpuk di perbatasan karena hambatan sistematis oleh Israel.
Kelaparan Meluas, Dunia Bereaksi
Laporan IPC memperingatkan bahwa kelaparan akan meluas ke wilayah tengah dan selatan, termasuk Deir al-Balah dan Khan Younis, jika kondisi saat ini berlanjut. Wilayah utara, menurut IPC, kemungkinan menghadapi kondisi lebih parah, meskipun akses data terbatas membuat penilaian lebih rinci sulit dilakukan.
Ini menjadi catatan kelaparan kelima dalam sejarah IPC, setelah Somalia (2011), Sudan Selatan (2017 & 2020), dan Sudan (2024).
Sebuah wilayah dikategorikan mengalami kelaparan jika 20% populasi mengalami kekurangan pangan ekstrem, 1 dari 3 anak menderita malnutrisi akut,
dan 2 dari 10.000 orang meninggal setiap hari akibat kelaparan atau penyakit terkait.
Israel Membantah, Dunia Menekan
Pemerintah Israel dengan tegas menolak temuan IPC, menyebutnya sebagai “kebohongan total”.
“Israel tidak memiliki kebijakan kelaparan. Justru kami telah memungkinkan masuknya dua juta ton bantuan sejak awal perang—lebih dari satu ton per orang,” ujar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, seperti dikutip Reuters.
Namun, berbagai negara Barat, termasuk Inggris, Kanada, Australia, dan sejumlah negara Uni Eropa, menilai laporan IPC sebagai “peringatan serius”. Mereka menyerukan akses kemanusiaan penuh dan mendesak Israel untuk menghentikan hambatan distribusi bantuan.
“Dakwaan Moral”: PBB Sebut Ini Bencana Buatan Manusia
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menggambarkan krisis ini sebagai bencana buatan manusia, dakwaan moral, dan kegagalan kemanusiaan itu sendiri.
Ia menyerukan gencatan senjata segera, pembebasan seluruh sandera, dan akses kemanusiaan tanpa syarat ke seluruh wilayah Gaza.
Kepala HAM PBB Volker Turk juga memperingatkan bahwa kematian akibat kelaparan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang, tuduhan yang kembali dibantah keras oleh pemerintah Israel.
Krisis Kemanusiaan Tak Terbendung
Sejak perang meletus pada 7 Oktober 2023, lebih dari 62.000 warga Palestina dilaporkan tewas, menurut otoritas kesehatan Gaza. Konflik ini dipicu oleh serangan Hamas yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan menyandera 250 lainnya.
Dengan situasi yang terus memburuk, tekanan terhadap komunitas internasional untuk mengambil tindakan nyata semakin besar. Gaza kini menjadi simbol krisis kemanusiaan global bukan hanya karena perang, tetapi karena kelaparan yang seharusnya tak perlu terjadi. (sindonews/asp)
