ASPOST.ID- Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa jalur strategis Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional, meski secara tegas memperingatkan bahwa akses bagi Amerika Serikat dan sekutunya dapat dibatasi di tengah meningkatnya eskalasi konflik kawasan.
Dalam konferensi pers di Teheran, Araghchi menyatakan bahwa Iran memandang selat tersebut tetap dapat dilalui oleh komunitas global, namun tidak bagi pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh. Ia menegaskan langkah tersebut merupakan bagian dari hak Iran untuk mempertahankan kedaulatan di tengah ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
“Dari perspektif kami, selat itu terbuka, tetapi tidak untuk musuh dan sekutu mereka,” ujar Araghchi, seraya menegaskan bahwa Iran akan terus melakukan perlawanan dengan penuh keyakinan.
Ia juga membantah adanya upaya dari Teheran untuk mengajukan gencatan senjata. Menurutnya, Iran tidak pernah memulai permintaan tersebut dan menekankan bahwa konflik harus berakhir dengan konsekuensi yang memberi efek jera terhadap pihak lawan. “Perang ini harus berakhir dengan cara yang membuat mereka berpikir ulang sebelum melakukan agresi di masa depan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Araghchi mengungkapkan bahwa pada tahap awal konflik, Amerika Serikat sempat mengajukan tuntutan “penyerahan tanpa syarat” kepada Iran, sebelum akhirnya mengubah pendekatan diplomatiknya.
Ketegangan yang terus meningkat di kawasan menjadikan Selat Hormuz sebagai titik krusial dalam dinamika geopolitik global. Jalur ini diketahui menjadi salah satu urat nadi distribusi energi dunia, dengan sebagian besar pasokan minyak internasional melintasi perairan tersebut. Setiap potensi gangguan di wilayah ini dinilai dapat berdampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan energi global. (asp)

