“47 Hari Pasca Bencana, Rimba yang Terluka Mengirim Pesan Sunyi”
ASPOST.ID- Sungai-sungai di Aceh tak lagi hanya mengalirkan air. Arus keruh yang bercampur pasir kini membawa batang-batang kayu raksasa, sebagian berdiameter lebih besar dari pelukan orang dewasa. Kayu-kayu ini datang tanpa suara, namun menyimpan kisah panjang tentang hutan yang kehilangan penjaganya.
Empat puluh tujuh hari telah berlalu sejak bencana alam menerjang 18 kabupaten/kota di Aceh. Ribuan rumah hancur, sebagian hilang begitu saja, sementara yang lainnya rusak parah, sedang, atau ringan. Lumpur setinggi atap rumah perlahan mengering, namun banyak daerah yang masih belum dibersihkan oleh pemerintah.
Puluhan ribu warga masih bertahan di tenda pengungsi, menunggu penyelesaian pembangunan Hunian Sementara (Huntara), kecuali di Aceh Tamiang, yang telah berhasil membangun 600 unit Huntara.
Namun, luka ekologis akibat bencana ini masih terbuka lebar. Sepanjang aliran sungai, jejak kehancuran lingkungan jelas terlihat, tebing-tebing runtuh, akar-akar pohon terjerat, dan tanah tergerus hingga menyisakan bekas luka panjang di tubuh alam.
Kayu-kayu besar yang kini tersangkut di muara atau terdampar di pesisir bukan sekadar sisa bencana. Ia adalah bagian dari rimba yang tercerabut. Hutan yang dulu berdiri kokoh, menahan air dan melindungi bumi, kini hancur dan hanyut bersama arus banjir bandang. Alam yang selama ini setia memberi kehidupan kini memunculkan dampak dari kelalaian manusia.
Banjir bandang yang melanda pada 26 November 2025 bukanlah peristiwa yang terjadi tanpa sebab. Ia adalah rangkaian panjang akibat dari ketidakseimbangan yang telah terakumulasi selama bertahun-tahun. Alam tidak tiba-tiba murka. Ia memberi tanda, peringatan demi peringatan, hingga akhirnya berbicara dengan bahasa yang paling keras bencana.
Air bah ini tidak hanya membawa volume hujan yang besar, tetapi juga membawa beban kerusakan yang telah lama terjadi. Kawasan hutan yang seharusnya menjadi daerah tangkapan air kini kehilangan daya serapnya. Penebangan liar, pembukaan lahan secara besar-besaran, dan kerusakan kawasan resapan air perlahan mengikis benteng alami Aceh.
Di balik derasnya arus, ekosistem Aceh terguncang. Satwa kehilangan habitatnya, burung-burung tercerabut dari sarang, dan vegetasi hutan musnah dalam sekejap. Kesunyian menggantikan riuh kehidupan hutan. Langit, seolah ikut berduka, menyaksikan alam yang selama ini memberi kehidupan kini harus menanggung akibat dari ulah manusia.
Kayu-kayu raksasa yang hanyut hingga ke muara, tersebar di berbagai wilayah Aceh, bukan sekadar sisa bencana. Ia adalah simbol dari peringatan yang harus kita terima, kerusakan lingkungan bukanlah kutukan turun-temurun, melainkan hasil dari keputusan manusia di masa kini. Ketika hutan ditebang tanpa perhitungan, ketika perlindungan alam diabaikan, maka air akan mencari jalannya sendiri.
Bencana ini seharusnya menjadi titik balik. Ini bukan hanya tentang statistik korban dan kerugian materiil, tetapi momentum untuk melakukan refleksi kolektif. Jika hutan terus dilukai, yang diwariskan kepada generasi mendatang bukanlah kemakmuran, melainkan bencana yang berulang dan semakin mahal harganya.
Kayu-kayu besar itu terus hanyut di aliran sungai Aceh. Diam, namun menggugat. Pesannya jelas, jangan sakiti alam, atau ia akan menagih dengan harga yang tak bisa ditawar.(red)
