Close Menu
  • Home
  • Daerah
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
  • Dunia Islam
  • Internasional
  • Olahraga
  • Kabar Mahasiswa
  • Kesehatan
Pos-pos Terbaru
  • Pembangunan Sekolah Rakyat Rp 250 Miliar Dimulai di Lhokseumawe
  • Ketika Kayu Raksasa Hanyut, Alam Aceh Menggugat
  • Warga Terisolasi, Jembatan Gantung Rambong Payong Aceh Utara Hancur Diterjang Banjir Bandang
  • Pulihkan Trauma Banjir Aceh Utara, Kemenkes Perkuat Dukungan Kesehatan Mental Penyintas
  • Menkeu Purbaya Tinjau Bea Cukai Aceh, Tegaskan Peran Strategis Fiskal dalam Pemulihan Pasca Bencana

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Pembangunan Sekolah Rakyat Rp 250 Miliar Dimulai di Lhokseumawe

12/01/2026

Ketika Kayu Raksasa Hanyut, Alam Aceh Menggugat

12/01/2026

Warga Terisolasi, Jembatan Gantung Rambong Payong Aceh Utara Hancur Diterjang Banjir Bandang

11/01/2026
Kategori
  • ADVERTORIAL
  • DAERAH
  • Daerah
  • Decor
  • DUNIA ISLAM
  • Ekonomi
  • Home
  • INTERNASIONAL
  • KABAR HAJI
  • KABAR MAHASISWA
  • KESEHATAN
  • Kuta Raja
  • Nasional
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • Opinion
  • OTOMOTIF
  • Pase
  • Picks
  • Politik
  • TEKNOLOGI
  • Uncategorized
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, Januari 12
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Facebook X (Twitter) LinkedIn VKontakte
ASPOST.ID
  • Home
  • Daerah

    Pembangunan Sekolah Rakyat Rp 250 Miliar Dimulai di Lhokseumawe

    12/01/2026

    Warga Terisolasi, Jembatan Gantung Rambong Payong Aceh Utara Hancur Diterjang Banjir Bandang

    11/01/2026

    Pulihkan Trauma Banjir Aceh Utara, Kemenkes Perkuat Dukungan Kesehatan Mental Penyintas

    11/01/2026

    Menkeu Purbaya Tinjau Bea Cukai Aceh, Tegaskan Peran Strategis Fiskal dalam Pemulihan Pasca Bencana

    11/01/2026

    Ketua DPRK Aceh Utara Usulkan Kompensasi Negara bagi Keluarga Korban Banjir dan Longsor

    11/01/2026
  • Nasional
    1. Ekonomi
    2. Politik
    3. View All

    Jelang Pelantikan, Mualem Penuhi Undangan Tiga Dubes Asing

    26/01/2025

    Kuartal II Tahun 2023, Laba BSI Capai Rp2,82 triliun

    19/09/2023

    BSI Teken Kerja Sama Dengan PT PIM, Untuk Pembayaran Digital

    17/05/2023

    Pertamina Turunkan Harga Pertamax, Pertalite dan Solar Tergantung Pemerintah

    01/10/2022

    Fachrul Razi dan M.Yasir Layak Maju di Pilkada Lhokseumawe

    18/04/2024

    Bahas Limbah Nuklir Fukushima, Menlu Jepang dan China Bertemu di Jakarta

    08/07/2023

    Kejaksaan Punya Peran Strategis Untuk Sukseskan Pemilu Serentak 2024

    08/03/2023

    Ini Respons Jokowi soal NasDem Usung Anies Capres 2024

    03/10/2022

    Ketika Kayu Raksasa Hanyut, Alam Aceh Menggugat

    12/01/2026

    Reformasi Birokrasi Berbuah Prestasi, Lhokseumawe Raih Predikat A- dari KemenPAN-RB

    10/01/2026

    Indonesia Cetak Sejarah, Berhasil Capai Swasembada Pangan 2025

    07/01/2026

    Bupati Ayahwa Lewat Menko Polkam Minta Presiden Tinjau Dampak Banjir Terbesar Sepanjang Sejarah di Aceh Utara

    07/01/2026
  • Dunia Islam
  • Internasional
  • Olahraga
  • Kabar Mahasiswa
  • Kesehatan
ASPOST.ID
Home»Nasional»Ketika Kayu Raksasa Hanyut, Alam Aceh Menggugat
Nasional

Ketika Kayu Raksasa Hanyut, Alam Aceh Menggugat

RedaksiBy Redaksi12/01/2026Updated:12/01/2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email Telegram WhatsApp Copy Link
Sungai-sungai di Aceh tak lagi hanya mengalirkan air. Arus keruh yang bercampur pasir kini membawa batang-batang kayu raksasa, sebagian berdiameter lebih besar dari pelukan orang dewasa.
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email Bluesky Tumblr Reddit VKontakte Telegram WhatsApp Threads Copy Link

“47 Hari Pasca Bencana, Rimba yang Terluka Mengirim Pesan Sunyi”

ASPOST.ID- Sungai-sungai di Aceh tak lagi hanya mengalirkan air. Arus keruh yang bercampur pasir kini membawa batang-batang kayu raksasa, sebagian berdiameter lebih besar dari pelukan orang dewasa. Kayu-kayu ini datang tanpa suara, namun menyimpan kisah panjang tentang hutan yang kehilangan penjaganya.

Empat puluh tujuh hari telah berlalu sejak bencana alam menerjang 18 kabupaten/kota di Aceh. Ribuan rumah hancur, sebagian hilang begitu saja, sementara yang lainnya rusak parah, sedang, atau ringan. Lumpur setinggi atap rumah perlahan mengering, namun banyak daerah yang masih belum dibersihkan oleh pemerintah.

Puluhan ribu warga masih bertahan di tenda pengungsi, menunggu penyelesaian pembangunan Hunian Sementara (Huntara), kecuali di Aceh Tamiang, yang telah berhasil membangun 600 unit Huntara.

Namun, luka ekologis akibat bencana ini masih terbuka lebar. Sepanjang aliran sungai, jejak kehancuran lingkungan jelas terlihat, tebing-tebing runtuh, akar-akar pohon terjerat, dan tanah tergerus hingga menyisakan bekas luka panjang di tubuh alam.

Kayu-kayu besar yang kini tersangkut di muara atau terdampar di pesisir bukan sekadar sisa bencana. Ia adalah bagian dari rimba yang tercerabut. Hutan yang dulu berdiri kokoh, menahan air dan melindungi bumi, kini hancur dan hanyut bersama arus banjir bandang. Alam yang selama ini setia memberi kehidupan kini memunculkan dampak dari kelalaian manusia.

Banjir bandang yang melanda pada 26 November 2025 bukanlah peristiwa yang terjadi tanpa sebab. Ia adalah rangkaian panjang akibat dari ketidakseimbangan yang telah terakumulasi selama bertahun-tahun. Alam tidak tiba-tiba murka. Ia memberi tanda, peringatan demi peringatan, hingga akhirnya berbicara dengan bahasa yang paling keras bencana.

Air bah ini tidak hanya membawa volume hujan yang besar, tetapi juga membawa beban kerusakan yang telah lama terjadi. Kawasan hutan yang seharusnya menjadi daerah tangkapan air kini kehilangan daya serapnya. Penebangan liar, pembukaan lahan secara besar-besaran, dan kerusakan kawasan resapan air perlahan mengikis benteng alami Aceh.

Di balik derasnya arus, ekosistem Aceh terguncang. Satwa kehilangan habitatnya, burung-burung tercerabut dari sarang, dan vegetasi hutan musnah dalam sekejap. Kesunyian menggantikan riuh kehidupan hutan. Langit, seolah ikut berduka, menyaksikan alam yang selama ini memberi kehidupan kini harus menanggung akibat dari ulah manusia.

Kayu-kayu raksasa yang hanyut hingga ke muara, tersebar di berbagai wilayah Aceh, bukan sekadar sisa bencana. Ia adalah simbol dari peringatan yang harus kita terima, kerusakan lingkungan bukanlah kutukan turun-temurun, melainkan hasil dari keputusan manusia di masa kini. Ketika hutan ditebang tanpa perhitungan, ketika perlindungan alam diabaikan, maka air akan mencari jalannya sendiri.

Bencana ini seharusnya menjadi titik balik. Ini bukan hanya tentang statistik korban dan kerugian materiil, tetapi momentum untuk melakukan refleksi kolektif. Jika hutan terus dilukai, yang diwariskan kepada generasi mendatang bukanlah kemakmuran, melainkan bencana yang berulang dan semakin mahal harganya.

Kayu-kayu besar itu terus hanyut di aliran sungai Aceh. Diam, namun menggugat. Pesannya jelas, jangan sakiti alam, atau ia akan menagih dengan harga yang tak bisa ditawar.(red)

ACEH Bencana Sumatera Kayu Gelondongan Rumah Hilang Warga Mengungsi
Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link
Previous ArticleWarga Terisolasi, Jembatan Gantung Rambong Payong Aceh Utara Hancur Diterjang Banjir Bandang
Next Article Pembangunan Sekolah Rakyat Rp 250 Miliar Dimulai di Lhokseumawe
Redaksi
  • Website

Related Posts

Reformasi Birokrasi Berbuah Prestasi, Lhokseumawe Raih Predikat A- dari KemenPAN-RB

10/01/2026

Pasca Banjir Aceh Utara, Ratusan Warga Terserang Penyakit Kulit hingga ISPA

09/01/2026

Indonesia Cetak Sejarah, Berhasil Capai Swasembada Pangan 2025

07/01/2026
Leave A Reply Cancel Reply

Post Terbaru

Pembangunan Sekolah Rakyat Rp 250 Miliar Dimulai di Lhokseumawe

12/01/2026

Ketika Kayu Raksasa Hanyut, Alam Aceh Menggugat

12/01/2026

Warga Terisolasi, Jembatan Gantung Rambong Payong Aceh Utara Hancur Diterjang Banjir Bandang

11/01/2026

Pulihkan Trauma Banjir Aceh Utara, Kemenkes Perkuat Dukungan Kesehatan Mental Penyintas

11/01/2026
  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest
  • Instagram
  • YouTube
  • Vimeo
Highlights

Menkeu Purbaya Tinjau Bea Cukai Aceh, Tegaskan Peran Strategis Fiskal dalam Pemulihan Pasca Bencana

By Redaksi11/01/2026

ASPOST.ID- Menteri Keuangan Republik Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa mengunjungi Kantor Wilayah Bea dan Cukai Aceh…

Ketua DPRK Aceh Utara Usulkan Kompensasi Negara bagi Keluarga Korban Banjir dan Longsor

11/01/2026

Reformasi Birokrasi Berbuah Prestasi, Lhokseumawe Raih Predikat A- dari KemenPAN-RB

10/01/2026

Ada Apa? Wali Kota Lhokseumawe Copot Tiga Pejabat Eselon II di Awal 2026

10/01/2026
Demo Demo Demo Demo
Copyright © aspost.id
  • Home
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Sitemap

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Ad Blocker Enabled!
Ad Blocker Enabled!
Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.