ASPOST.ID — Dua puluh empat tahun bukan waktu yang singkat. Bagi Aceh, rentang panjang itu menjadi perjalanan penuh penantian untuk kembali menempatkan nama provinsi berjuluk Serambi Mekkah tersebut di jajaran elit Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional.
Penantian itu akhirnya terbayar di Semarang. Pada MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 yang berlangsung di Jawa Tengah, kafilah Aceh mencatat capaian yang membanggakan dengan menempati peringkat keempat nasional dari 38 kafilah provinsi yang ambil bagian.
Capaian tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan MTQ Aceh. Sebelumnya, Aceh terakhir kali menembus jajaran 10 besar pada MTQ Nasional 2003 di Palangkaraya. Setelah itu, posisi Aceh terus berada di luar 10 besar dalam sejumlah penyelenggaraan berikutnya.
Kini, setelah melewati perjalanan panjang selama lebih dari dua dekade, Aceh kembali menjejak papan atas.
MTQ Nasional XXXI 2026 sendiri berlangsung di Kota Semarang pada 11–19 September 2026 dan diikuti 38 kafilah provinsi dari seluruh Indonesia.
Bagi Ketua Kafilah Aceh, Dr. Misran Fuadi, capaian tersebut bukanlah keberhasilan satu atau dua pihak. Menurutnya, hasil yang diraih merupakan buah dari kerja bersama antara pemerintah, LPTQ, pelatih, peserta, serta dukungan masyarakat Aceh.
“Prestasi ini adalah keberhasilan Pemerintah Aceh dan keberhasilan kita semua. Ini kemenangan para pelatih, peserta dan seluruh masyarakat Aceh,”kata Misran, kepada aspos.id, Sabtu malam (19/9).
Di balik posisi keempat tersebut terdapat kerja panjang yang tidak terlihat di panggung perlombaan. Pembinaan, latihan, persiapan peserta hingga koordinasi antarlembaga menjadi bagian dari proses yang akhirnya mengantarkan Aceh kembali diperhitungkan di tingkat nasional.
Kerja kolektif antara Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Aceh dan Pemerintah Aceh dinilai menjadi salah satu fondasi penting perjalanan kafilah Aceh di Semarang.
LPTQ Aceh disebut bekerja ekstra dalam mempersiapkan kafilah, termasuk memastikan para peserta mendapatkan pembinaan dan pendampingan sebelum maupun selama kompetisi berlangsung.
Hasilnya mulai terlihat dari sejumlah prestasi yang diraih peserta Aceh. Salah satunya datang dari regu Fahmil Qur’an putri Aceh yang berhasil menjadi juara pertama dengan mengumpulkan 1.505 poin pada babak final.
Capaian tersebut menjadi bagian dari rangkaian prestasi yang mengangkat posisi Aceh dalam perolehan nasional.
Sekretaris LPTQ Aceh, Tgk Jamal, menyebut keberhasilan menembus peringkat keempat bukan alasan untuk berpuas diri. Justru, capaian tersebut harus menjadi pijakan untuk membangun pembinaan yang lebih kuat menghadapi MTQ Nasional berikutnya.
Menurutnya, keberhasilan di Semarang merupakan awal dari kebangkitan Aceh di pentas MTQ nasional.
“Kita tidak boleh jumawa. Kita harus tetap bergerak karena MTQ Nasional berikutnya akan berlangsung di DKI Jakarta pada 2027,” katanya.
Target awal yang dipasang LPTQ Aceh sebelum keberangkatan ke Semarang sebenarnya relatif realistis, yakni membawa Aceh kembali masuk 10 besar nasional.
Target tersebut akhirnya terlampaui.
Bukan sekadar kembali ke 10 besar, Aceh justru mampu menembus posisi empat besar nasional.
Pencapaian itu menjadi semakin berarti karena datang setelah penantian panjang sejak 2003. Dua puluh empat tahun kemudian, nama Aceh kembali terdengar di papan atas MTQ Nasional.
Perjalanan di Semarang pun ditutup dengan optimisme baru.
Wakil Gubernur Aceh menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota kafilah, jajaran dinas terkait, pelatih dan LPTQ Aceh yang dinilai telah bekerja secara solid selama mengikuti kompetisi.
Pemerintah Aceh berharap capaian tersebut tidak berhenti sebagai sebuah prestasi sesaat, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan generasi Qur’ani di Aceh secara berkelanjutan.
Sebab, setelah 24 tahun menunggu untuk kembali ke papan atas, tantangan berikutnya sudah menanti.
Dan kali ini, Aceh datang bukan lagi sekadar sebagai peserta. Aceh datang dengan pengalaman baru, pernah menembus empat besar nasional setelah 24 tahun penantian.(asp)

