ASPOST.ID- Puluhan remaja dari berbagai usia sudah mulai terang-terangan menampakkan dirinya ke publik, dengan cara berpose memegang senjata tajam (Sajam) di media sosial (Medsos).
Hal itu seperti terlihat pada Kamis (18/1/2024) beredar luas beberapa lembar foto sekelompok remaja berpose di depan Kantor Bupati Aceh Utara di Landing, sambil memegang senjata tajam (Sajam).
Dalam salah satu foto itu ada 13 remaja dan beberapa diantaranya memegang senjata tajam seperti siap untuk beraksi jika ada yang menganggu mereka. Kelompok remaja ini menamakan diri Hantu Jalan (HJ). Itu jelas tertulis dalam sebuah bendera berwarna hitam.
Akun Medsos milik Mirza Gunawan, terlihat mengapload foto sekelompok remaja itu, dengan statusnya “Halaman Kantor Bupati Aceh Utara, Landing, Lhoksukon, Kamis 18 Januari 2024, 22.00, semoga Allah jauhkan kita dari bala.. Quu anfusakum wa ahliikum naaraa.

Menanggapi kondisi itu, Direktur Eksekutif Komunitas Komunikasi Informasi Rakyat Aceh (K2RA) akrab disapa Jamin menyampaikan, semua pihak harus bertindak cepat untuk mengatasi persoalan kenakalan remaja itu dengan aksi begal memakai sajam.
“Yang utama adalah orang tua para remaja untuk selalu mengontrol anaknya dalam pergaulan sehari-hari. Jika salah bergaul maka akan terjerumus ke hal-hal yang tidak kita inginkan, seperti aksi begal dan lainnya,”ucap Direktur Eksekutif K2RA ini.
Untuk itu, ia berharap kepada pemerintah daerah serta jajaran TNI/Polri, kalangan ulama dan pihak terkait lainnya agar bersikap tegas terhadap kenalan remaja pakai sajam di Aceh secara umum dan khususnya di wilayah Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara.
Untuk diketahui, begal merupakan kejahatan yang sedang marak terjadi dewasa ini dimana pelakunya sebagian masih berusia remaja. Keterlibatan remaja dalam tindakan pelanggaran telah banyak diteliti dan ditemukan bahwa keluarga dan teman sebaya sebagai unsur yang berkontribusi paling besar dalam kasus itu.
Kondisi keluarga yang bermasalah semakin dikuatkan ketika remaja bergabung dalam kelompok delinkuen sehingga mengarahkan remaja kepada perilaku delinkuen dan berujung menjadi begal, sementara itu sekolah sebagai lingkungan yang positif tidak dilengkapi dengan sistem dan sumber daya manusia yang kompeten untuk mendidik siswa dengan kecenderungan delinkuen.(asp)
