ASPOST.ID- Universitas Malikussaleh (Unimal) menandai tonggak sejarah 25 tahun pendiriannya dengan menganugerahkan Penghargaan Utama Seperempat Abad kepada tokoh sentral di balik transformasi kampus, Prof. Dr. Apridar, S.E., M.Si.
Penghargaan prestisius berupa Pin Emas diserahkan langsung oleh Rektor Unimal, Prof. Dr. Herman Fitra, dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI di Kampus Bukit Indah, Lhokseumawe, pada Ahad (17/8).
Penghargaan itu menjadi bentuk apresiasi tertinggi atas kontribusi luar biasa Prof. Apridar dalam memajukan Unimal sebagai salah satu kampus kebanggaan Aceh.
Selain Prof. Apridar, penghargaan serupa juga diberikan kepada tokoh-tokoh lain yang dinilai berperan penting dalam perkembangan Unimal, yakni Prof. Dr. A. Hadi Arifin, M.Si., almarhum Adnan Ganto (diwakili keponakannya Dr. Juli Mursida), serta Sofyan Djalil.
Dedikasi Seumur Hidup di Unimal
Prof. Apridar bukan nama asing di lingkungan Unimal.
Karier panjangnya di kampus ini mencerminkan dedikasi, loyalitas, dan kepemimpinan progresif. Ia pernah menjabat di berbagai posisi strategis, mulai dari:
Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi
Dekan Fakultas Ekonomi
Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum dan Keuangan
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM)
Hingga akhirnya dipercaya memimpin sebagai Rektor dua periode (2010–2018)
Pada masa transisi penting menuju status negeri, Prof. Apridar memainkan peran sentral sebagai Ketua Panitia Persiapan Penegerian Unimal, di bawah kepemimpinan Prof. A. Hadi Arifin.
Rektor Visioner, Pembangun Kampus Modern
Menjabat sebagai Rektor selama delapan tahun, Prof. Apridar dikenal sebagai sosok visioner yang tidak hanya memperkuat sistem akademik, tapi juga merevolusi infrastruktur kampus. Di bawah kepemimpinannya, Unimal menjelma dari kampus sederhana menjadi institusi modern dengan fasilitas bertaraf nasional.
Sumber pembiayaan pembangunan yang berhasil ia mobilisasi mencakup:
Dana APBK Aceh Utara dan APBA Provinsi Aceh
Dana APBN untuk proyek-proyek strategis
Kontrak pembangunan senilai lebih dari Rp750 miliar dari Asian Development Bank (ADB)
Salah satu pencapaiannya yang monumental adalah peresmian Rumah Sakit Pendidikan Unimal, sepenuhnya dibiayai dari APBN, yang menjadi ikon baru layanan kesehatan dan pendidikan di Aceh.
Akademisi Produktif, Cendekiawan Ulung
Di balik kesuksesan manajerial, Prof. Apridar tetap aktif sebagai akademisi. Pada 2014, ia meraih gelar Profesor dari Kemendikbud Ristek Dikti. Hingga kini, ia telah menerbitkan 40 buku ajar dan referensi, banyak di antaranya beredar di toko buku nasional seperti Gramedia.
Selain di kampus, Prof. Apridar juga aktif sebagai Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh dan kerap menjadi narasumber kebijakan bagi pemerintah daerah.
Penghargaan sebagai Simbol Legasi
Pemberian penghargaan oleh Senat Unimal ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk pengakuan atas:
Dedikasi panjang di berbagai jenjang kepemimpinan kampus
Transformasi fisik kampus secara revolusioner
Peningkatan reputasi Unimal ke tingkat nasional dan internasional
Kontribusi akademik melalui puluhan karya tulis
Kepemimpinan visioner yang menempatkan Unimal di peta pendidikan nasional
Dalam sambutannya, Prof. Apridar menyampaikan rasa syukur dan dedikasi penghargaan ini kepada seluruh sivitas akademika.
“Penghargaan ini adalah milik kita bersama. Semoga Unimal terus maju dan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Aceh dan Indonesia,” ucapnya disambut tepuk tangan hadirin.
Figur Arsitek Kampus dan Teladan Anak Bangsa
Penganugerahan ini menjadi momen emosional sekaligus membanggakan, meneguhkan posisi Prof. Apridar sebagai arsitek utama kebangkitan Universitas Malikussaleh. Sosok “pemuda Pasai” yang bersahaja ini kini dikenang bukan hanya sebagai birokrat kampus, tapi sebagai pendidik, pemikir, dan pembangun peradaban Aceh.
Semoga dedikasi dan keteladanannya terus menjadi inspirasi dalam perjalanan Unimal dan dunia pendidikan Indonesia ke depan. (asp)

