ASPOST.ID- Jumat malam, 16 April 2004, menjadi salah satu malam yang sulit dilupakan bagi sejumlah wartawan yang bertugas di wilayah Aceh Utara. Di tengah situasi konflik bersenjata yang masih berlangsung, mereka bergerak menuju Panton Labu untuk meliput pengepungan rumah Kapolsek Seunuddon yang berubah menjadi arena kontak tembak antara aparat keamanan dan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Sekitar pukul 20.00 WIB, sejumlah wartawan dari berbagai media berkumpul di kantor Biro Waspada Lhokseumawe, kawasan Pasar Inpres, Jalan Listrik, Lhokseumawe.
Informasi mengenai kontak tembak yang terjadi di Panton Labu menyebar cepat dari satu wartawan ke wartawan lainnya. Tanpa banyak waktu untuk bersiap, rombongan kemudian berangkat menggunakan tiga mobil menuju lokasi.
Di antara wartawan yang bergerak malam itu terdapat Nasir dan Muhammadan dari SCTV, Munir Nur dan Andy dari RCTI, Armia Jamil dari TPI, Muchtar dari Trans7, Zul Fikri dari Trans TV, Armiadi dari RRI, Ismail dari Serambi Indonesia, Imran dari Tempo, M. Jafar dari TV7, Zainuddin Abdullah dari Waspada, serta Hamdani dari Metro TV.
Sekitar pukul 21.30 WIB, rombongan tiba di Panton Labu.
Namun, para wartawan tidak dapat langsung mendekati rumah yang menjadi pusat pengepungan. Kontak tembak masih berlangsung. Aparat membatasi pergerakan wartawan dan hanya mengizinkan mereka berada di area ring 3.
Dari kejauhan, suara tembakan terdengar bersahutan.
Pergantian pasukan TNI dan Polri berlangsung sepanjang malam. Personel bergerak dari ring 3 menuju ring 2 hingga ring 1, sementara wartawan bertahan di area yang relatif lebih aman sambil terus memantau perkembangan situasi.
Malam pun dilalui di lokasi.
Sebagian wartawan memilih bermalam di depan teras rumah warga. Tidak ada tempat khusus untuk beristirahat. Di tengah suasana mencekam, suara tembakan sesekali masih terdengar, menjadi pengingat bahwa situasi di sekitar mereka belum benar-benar aman.
Pagi Hari, Wartawan Masuk ke Area Kepungan
Sabtu, 17 April 2004, situasi mulai berubah. Setelah area dinyatakan lebih aman dan mendapat pengawalan aparat, wartawan diperbolehkan mendekati ring 2 hingga ring 1.
Rumah warga di sekitar lokasi menjadi tempat perlindungan sekaligus titik pengamatan bagi para jurnalis. Dari sana mereka berusaha merekam setiap perkembangan, termasuk proses negosiasi aparat dengan anggota GAM yang masih berada di dalam rumah Kapolsek Seunuddon.
Rumah tersebut sebelumnya menjadi tempat penyanderaan tujuh anggota keluarga Iptu Muchtar.
Ketegangan berlangsung berjam-jam hingga sekitar pukul 11.30 WIB. Seorang anggota GAM yang dikenal dengan nama panggilan Bulek akhirnya keluar dari lokasi dengan membawa sepucuk pistol.
Kondisinya sudah terluka pada kedua kaki akibat tembakan.
Setelah pistol dijatuhkan, Bulek dibawa keluar dari lokasi dan kemudian ditempatkan di belakang rumah warga di bawah pohon kelapa. Sejumlah wartawan berada di lokasi dan menyaksikan proses pemeriksaan terhadapnya.
Kondisinya semakin kritis akibat luka tembak yang serius. Bulek kemudian meninggal dunia akibat pendarahan.
Dalam catatan mengenai peristiwa tersebut, seorang anggota GAM lainnya, Bereukah Ghulam, juga disebut tewas dalam baku tembak.
Berawal dari Penyanderaan Tujuh Anggota Keluarga
Pengepungan rumah Kapolsek Seunuddon bermula pada Jumat siang.
Sejumlah anggota GAM dilaporkan masuk ke wilayah Panton Labu. Keberadaan mereka diketahui aparat yang kemudian melakukan pengejaran dan pengepungan.
Dalam situasi tersebut, beberapa anggota GAM berhasil melarikan diri. Namun, sebagian lainnya menerobos masuk ke sebuah rumah yang kemudian diketahui merupakan kediaman Iptu Muchtar, Kapolsek Seunuddon.
Di dalam rumah terdapat anggota keluarga Iptu Muchtar.
Situasi kemudian berkembang menjadi penyanderaan.
Menurut catatan pemberitaan saat itu, tujuh anggota keluarga berada di dalam rumah, terdiri dari dua laki-laki dewasa dan lima perempuan. Salah seorang laki-laki merupakan Agus, anak Iptu Muchtar. Sementara lima perempuan terdiri atas seorang nenek, anak-anak, termasuk seorang bayi.
Saat kejadian berlangsung, Iptu Muchtar sendiri disebut tidak berada di rumah.
Menjelang Magrib, Agus berhasil keluar dari rumah dan bertemu dengan aparat yang melakukan pencarian. Dari keterangan Agus, aparat mengetahui bahwa keluarganya masih berada di dalam rumah dan telah disandera.
Pasukan TNI dan Polri kemudian memperketat pengepungan.
Negosiasi sempat dilakukan agar anggota GAM yang masih bertahan bersedia keluar dan menyerahkan diri. Namun, situasi kemudian berubah menjadi kontak tembak.
Di tengah kepungan dan tembakan, para sandera secara bertahap berhasil keluar dari rumah.
Satu Prajurit Gugur
Kontak tembak tersebut juga menimbulkan korban dari pihak aparat.
Juru Bicara Koops TNI saat itu, Letkol CAJ Asep Sapari, menyampaikan bahwa seorang prajurit dari Yon Kaveleri 4 bernama Sudarmaji gugur. Ia disebut meninggal akibat luka tembak di bagian lengan kiri.
Pada saat yang sama, aparat masih melakukan negosiasi dengan anggota GAM yang diyakini masih bertahan di dalam rumah.
Aparat menyebut beberapa anggota GAM yang berada di dalam rumah telah tewas, sementara upaya untuk meminta mereka yang masih hidup agar menyerah terus dilakukan.
Dari pihak keluarga, seluruh tujuh orang yang sebelumnya berada di dalam rumah akhirnya berhasil diselamatkan.
Rumah Mulai Terbakar
Situasi semakin menegangkan ketika bagian belakang rumah mulai terbakar.
Kontributor RCTI, Munir Nur, yang berada di lokasi saat itu melaporkan bahwa aparat masih meminta anggota GAM keluar dan menyerahkan diri.
Penduduk di sekitar lokasi sebelumnya telah dievakuasi ke sebuah gedung sekolah yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah yang dikepung.
Panton Labu yang biasanya ramai sebagai kawasan perdagangan mendadak berubah sunyi. Aktivitas warga terhenti, sementara aparat keamanan mengepung lokasi dari berbagai arah.
Sejumlah pejabat keamanan terlihat berada di lokasi, di antaranya Kapolres Aceh Utara AKBP Agus Salim, Dandim Aceh Utara Letkol Tatang Sulaiman, serta Wapangkoops Brigjen Suroyo Gino dan Juru Bicara Koops TNI saat itu, Letkol CAJ Asep Sapari
Catatan dari Garis Depan Konflik
Bagi para wartawan yang berada di Panton Labu malam itu, peristiwa tersebut bukan sekadar sebuah berita.
Mereka berada hanya beberapa ring dari lokasi kontak tembak. Mereka tidur di teras rumah warga, bekerja dengan perlengkapan seadanya, dan tetap bertahan meski suara tembakan masih terdengar sepanjang malam.
Keesokan harinya, mereka kembali masuk ke area yang sebelumnya menjadi titik pertempuran untuk memastikan fakta di lapangan.
Dua puluh dua tahun kemudian, kisah tersebut menjadi bagian dari catatan perjalanan jurnalistik di Aceh sebuah masa ketika wartawan tidak hanya dituntut mampu mendapatkan informasi tercepat, tetapi juga harus berhadapan langsung dengan risiko di tengah konflik.
Panton Labu, April 2004, menjadi salah satu episode yang memperlihatkan bagaimana para jurnalis Aceh bekerja dari dekat garis konflik, menyaksikan pengepungan, mendengar suara tembakan, merekam proses penyelamatan sandera, hingga mencatat jatuhnya korban dari kedua pihak.
Peristiwa itu kini menjadi bagian dari sejarah panjang perjalanan Aceh menuju berakhirnya konflik dan lahirnya perdamaian lewat MoU Helsinki RI-GAM pada 15 Agustus 2005 silam. (*)

