ASPOST.ID- Ketua Umum DPP Wareh Keluarga Ulee Balang (KUB) Aceh, Dr. Ir. H. TA Khalid, M.M., menegaskan, keberadaan KUB tidak dibentuk sebagai organisasi politik ataupun kendaraan untuk kepentingan kelompok tertentu. KUB, kata dia, merupakan wadah kekeluargaan yang bertujuan merawat silaturahmi, memperkuat ukhuwah, serta menjaga hubungan antarketurunan Ulee Balang Aceh.
Penegasan tersebut disampaikan TA Khalid dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah yang digelar DPP KUB Aceh di Aula Arafah Asrama Haji Embarkasi Banda Aceh, Senin (2/11/2026).
Menurut TA Khalid, KUB dibangun atas dasar hubungan kekeluargaan dan garis keturunan, termasuk keluarga yang memiliki hubungan darah maupun keturunan Teuku dan Cut yang tersebar di berbagai wilayah Aceh hingga luar daerah.
“Wareh ini bukan organisasi politik, bukan organisasi apa pun. Ini hanya wadah tempat berkumpulnya ukhuwah kekeluargaan,” tegas TA Khalid yang juga Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi Gerindra ini.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan posisi KUB di tengah kehidupan sosial Aceh yang memiliki sejarah panjang dengan struktur adat, hubungan kekerabatan dan identitas keluarga.
TA Khalid mengatakan, keberadaan KUB hendaknya tidak dipandang semata sebagai perkumpulan keluarga, tetapi sebagai ruang untuk memperkuat komunikasi antargenerasi dan menjaga nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.
“Ini takdir Allah untuk melahirkan perkumpulan ini. Kita kuatkan demi kepentingan bangsa,” ujarnya.
Bukan Sekadar Berkumpul, KUB Ingin Merawat Ikatan Keluarga
Bagi KUB, persoalan utama yang ingin dijaga bukan sekadar identitas keturunan, melainkan bagaimana hubungan kekeluargaan tersebut tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Keluarga besar yang tersebar di berbagai daerah, menurut TA Khalid, membutuhkan ruang pertemuan yang dapat mempertemukan kembali generasi tua dan generasi muda. Karena itu, para keluarga, termasuk para gure-gure, Cut, Teuku dan seluruh wareh diharapkan dapat menjaga komunikasi serta memperkuat rasa saling menghormati.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kemudian dijadikan momentum untuk menghidupkan kembali semangat tersebut.
Maulid tidak hanya ditempatkan sebagai agenda keagamaan, tetapi juga menjadi ruang bertemunya keluarga besar yang selama ini terpisah oleh jarak dan aktivitas masing-masing.
“Semoga dengan Maulid ini dapat menjadi pelajaran dan iktibar bagi kami keluarga besar Ulee Balang Aceh dalam mendalami akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap TA.Khalid yang juga Anggota Banleg DPR RI.
Pesan tersebut menjadi penting karena keberadaan sebuah keluarga besar tidak hanya ditentukan oleh garis keturunan, tetapi juga oleh kemampuan generasinya menjaga akhlak, persaudaraan, komunikasi dan kepedulian sosial.
Peusijuek Kajati Aceh dan DandenIntel Kodam IM
Salah satu momen yang turut menjadi perhatian dalam rangkaian kegiatan tersebut adalah prosesi peusijuek terhadap Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Aceh, Teuku Rahmadsyah, yang disebut merupakan bagian dari keluarga besar KUB.
Teuku Rahmadsyah sendiri resmi dilantik sebagai Kajati Aceh pada Agustus 2026 dan menggantikan Yudi Triadi.
Kemudian juga dipeusiejuk Kolonel Inf. Teuku Husaini yang menjabat sebagai Komandan Detasemen Intelijen Kodam Iskandar Muda (DandenIntel Kodam IM).
Prosesi peusijuek tersebut bukan sekadar seremoni adat. Dalam konteks masyarakat Aceh, tradisi itu menjadi simbol doa, rasa syukur, penghormatan sekaligus harapan agar seseorang yang memperoleh amanah dapat menjalankan tugas dengan baik.
Momentum tersebut juga memperlihatkan bagaimana adat, agama dan hubungan kekeluargaan masih menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Aceh.
Dari Identitas Keturunan ke Kontribusi Sosial
KUB menyadari bahwa perkembangan zaman membuat hubungan antar generasi menghadapi tantangan tersendiri. Anak-anak muda Aceh tumbuh dalam lingkungan sosial yang jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Karena itu, menjaga silaturahmi menjadi salah satu cara untuk memastikan sejarah keluarga, nilai adat dan keteladanan para pendahulu tidak terputus begitu saja.
Pertemuan keluarga juga menjadi ruang untuk mengenalkan kembali hubungan antarketurunan kepada generasi muda, sehingga identitas keluarga tidak hanya diketahui melalui cerita, tetapi dipahami sebagai bagian dari sejarah sosial Aceh.
Di sisi lain, penegasan bahwa KUB bukan organisasi politik menjadi batas penting bagi arah perkumpulan tersebut.
KUB diharapkan tetap menjadi ruang kekeluargaan yang terbuka untuk menjaga silaturahmi, tanpa menjadikannya sebagai instrumen kepentingan politik praktis maupun kendaraan kelompok tertentu.
Maulid KUB Hadirkan Beragam Unsur Masyarakat
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah yang berlangsung di Aula Arafah Asrama Haji Embarkasi Banda Aceh, Senin (2/11/2026), dihadiri wareh dari berbagai daerah di Aceh.
Kehadiran keluarga besar tersebut menunjukkan bahwa ikatan kekerabatan masih memiliki daya rekat sosial ketika dipelihara melalui komunikasi, kebersamaan dan sikap saling menghargai.
Sejumlah unsur turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya unsur Kodam Iskandar Muda, Kapolda Aceh, anggota DPR RI dan DPRA, Pemerintah Aceh, pimpinan perguruan tinggi, tokoh masyarakat serta undangan lainnya.
Dengan semangat tersebut, KUB berharap keberadaan perkumpulan keluarga Ulee Balang tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi ruang silaturahmi yang mampu menjaga warisan sejarah dan budaya Aceh sekaligus mendorong generasi penerus untuk memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, daerah dan bangsa.(asp)

