ASPOST.ID- Amerika Serikat (AS) mengumumkan pemberlakuan tarif terpisah atas impor ponsel pintar, komputer, semikonduktor, dan komponen terkait dalam satu hingga dua bulan ke depan.
Rencana tersebut sebelumnya disampaikan oleh Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick. Seperti dilansir ABC News pada 13 April lalu, langkah ini menandakan perubahan strategis untuk meningkatkan produksi dalam negeri mereka terutama untuk komponen penting penunjang peralatan elektronik.
“Kita perlu membuat semikonduktor, chip, dan panel datar di Amerika. Kita tidak bisa bergantung pada Asia Tenggara untuk semua hal yang beroperasi bagi kita,” kata Lutnick.
Hal ini menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump pada 11 April lalu untuk membebaskan telepon pintar, laptop, dan barang elektronik lainnya dari tarif timbal balik yang diberlakukan pada 2 April, yang dijuluki ‘Hari Pembebasan’.
Pemberitahuan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS, yang berlaku mulai 5 April, mencakup produk-produk seperti hard drive dan chip memori. Belum lagi, pemberitahuan tersebut menawarkan keringanan bagi importir seperti Apple dan Samsung.
Dalam pengungkapan terbaru, Lutnick mengklarifikasi bahwa barang-barang ini sekarang akan berada di bawah “jenis tarif fokus khusus” yang akan segera berlaku, meskipun barang-barang tersebut dikecualikan dari bea timbal balik.
Sementara Apple diketahui mengalihkan inventarisnya dari India dan Tiongkok ke AS selama minggu terakhir bulan Maret untuk menghindari batas waktu tarif Trump.
Perubahan kebijakan tersebut bertujuan untuk mengatasi masalah keamanan nasional, dengan Lutnick menegaskan bahwa negosiasi dengan negara lain tidak mungkin dilakukan.
“Hal-hal ini merupakan masalah keamanan nasional yang perlu dibuat di Amerika,” katanya.
Hal ini muncul di tengah peringatan dari para ahli bahwa iPhone “Buatan Amerika” dapat meroket hingga USD 3.500, yang mencerminkan potensi kenaikan biaya saat produksi dipindahkan.
Pemerintahan Trump berupaya melindungi konsumen dan mendukung perusahaan- perusahaan AS sambil mendorong kemandirian, meskipun pembalikan kebijakan yang cepat menimbulkan pertanyaan tentang stabilitas rantai pasokan.
Dengan semakin dekatnya tarif, fokus pada manufaktur chip dan elektronik dalam negeri dapat membentuk kembali dinamika perdagangan global. (jawapos/aspost)
