ASPOST.ID – Semangat bangkit dari daerah yang pernah dilanda bencana banjir diwujudkan Muhammad Ikbar dengan prestasi membanggakan. Pelajar SMAN 2 Sawang salah satu kecamatan pedalaman Aceh Utara itu berhasil merebut juara pertama lomba permainan tradisional Aceh Ek Geunteut (Enggrang) dalam event Piasan Pasai Milad ke-800 Samudera Pasai di Kabupaten Aceh Utara.
Kemenangan tersebut menjadi lebih dari sekadar sebuah trofi. Bagi Muhammad Ikbar, prestasi itu merupakan persembahan untuk sekolah, keluarga, sekaligus masyarakat Kecamatan Sawang yang pada November 2025 lalu menjadi salah satu wilayah yang terdampak cukup parah akibat bencana banjir.
Di tengah berbagai keterbatasan yang masih dirasakan masyarakat pasca bencana, mulai dari kerusakan jalan, jembatan hingga sarana dan prasarana penunjang aktivitas ekonomi, semangat generasi muda Sawang untuk terus berprestasi justru tidak surut.
Muhammad membuktikannya melalui permainan tradisional yang membutuhkan keseimbangan, keberanian, konsentrasi dan ketangkasan.
“Ek Geunteut” Jadi Panggung Generasi Muda
Perlombaan Ek Geunteut atau Enggrang digelar oleh Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporaparekraf) Aceh Utara sebagai bagian dari rangkaian Piasan Pasai Milad ke-800 Samudera Pasai.
Kegiatan berlangsung di lingkungan Kantor Bupati Aceh Utara, Rabu (9/9/2026), dengan melibatkan para pelajar dari sejumlah sekolah.
Sejak babak penyisihan hingga partai final, persaingan berlangsung cukup ketat. Para peserta tidak hanya dituntut mampu berjalan menggunakan enggrang, tetapi juga harus menjaga keseimbangan, kecepatan dan ketepatan hingga mencapai garis akhir.
Di tengah persaingan tersebut, Muhammad Ikbar dari SMAN 2 Sawang tampil sebagai yang terbaik dan berhak membawa pulang gelar juara pertama.
Posisi kedua diraih Ahmad Rafi Akbar dari SMAN 1 Lhoksukon, sedangkan Fajar Ramadhan dari SMAN 1 Dewantara menempati peringkat ketiga.
Para pemenang menerima trofi, piagam penghargaan dan uang pembinaan. Juara pertama memperoleh Rp1 juta, juara kedua Rp750 ribu, sementara juara ketiga mendapatkan Rp500 ribu.
Warisan Budaya yang Kembali Hidup
Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup generasi muda, permainan tradisional Aceh menghadapi tantangan untuk tetap dikenal dan dimainkan.
Karena itu, kehadiran Ek Geunteut dalam rangkaian Piasan Pasai memiliki makna tersendiri. Permainan rakyat yang dahulu begitu dekat dengan kehidupan masyarakat kembali diperkenalkan kepada generasi muda melalui sebuah kompetisi yang dikemas secara menarik dan sportif.
Ek Geunteut bukan hanya permainan untuk mengisi waktu luang. Di dalamnya terdapat nilai keseimbangan, keberanian, konsentrasi, ketangkasan, disiplin dan sportivitas.
Kepala Disporaparekraf Aceh Utara Zulkifli, S.Ag., M.Pd., bersama Kepala Bidang Keolahragaan Zulfikar Z, S.Pd., MT., turut memantau jalannya perlombaan serta memberikan dukungan kepada para peserta.
Bagi Aceh Utara, momentum Milad ke-800 Samudera Pasai menjadi ruang strategis untuk mempertemukan sejarah, budaya dan kreativitas generasi muda.
Piasan Pasai tidak hanya menghidupkan kembali kejayaan sejarah Samudera Pasai, tetapi juga menghadirkan warisan budaya dalam bentuk yang lebih dekat dengan masyarakat masa kini.
Kemenangan Muhammad Ikbar dari Sawang sekaligus memperlihatkan bahwa semangat berprestasi dapat tumbuh dari berbagai kondisi. Dari daerah yang pernah menghadapi hantaman bencana, lahir generasi muda yang mampu berdiri di atas panggung prestasi dan membawa nama daerahnya.
Ek Geunteut pun bukan sekadar permainan masa lalu. Di tangan generasi muda, permainan tradisional Aceh kembali menjadi simbol kebanggaan, ketangguhan dan keberlanjutan budaya.
Piasan Pasai Milad ke-800 Samudera Pasai akhirnya tidak hanya menjadi perayaan delapan abad sejarah, tetapi juga menjadi panggung untuk memastikan warisan budaya Aceh tetap hidup, dimainkan dan dikenalkan kepada generasi berikutnya.(asp)

