ASPOST.ID – Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) mendorong mahasiswa tidak berhenti pada gagasan, tetapi mampu mengubah kreativitas menjadi inovasi yang memiliki nilai ekonomi dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Dorongan itu mengemuka dalam Workshop Penyusunan Proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bertema “Optimisme Mendulang Cuan” yang digelar UPA Pengembangan Karier dan Kewirausahaan PNL di Gedung Training Development Center (TDC), Rabu (7/10/2026).
Sebanyak 60 mahasiswa dari berbagai jurusan mengikuti kegiatan tersebut. Mereka hadir atas inisiatif sendiri melalui proses pendaftaran dan sebagian telah memiliki serta menjalankan usaha.
Kepala UPA Pengembangan Karier dan Kewirausahaan PNL, Dr. (C). Zulkarnaini, SE., M.Si.Ak., CA., CIFRS., Ch.GFM, mengatakan workshop dirancang untuk menjawab tantangan yang kerap dihadapi mahasiswa, yakni bagaimana mengubah ide menjadi proposal yang terstruktur, inovatif, kompetitif, sekaligus memiliki peluang dikembangkan menjadi kegiatan bernilai ekonomi.
“Mahasiswa mendapatkan pemahaman mengenai konsep dan skema PKM, strategi penyusunan proposal, bagaimana membuat proposal lebih kompetitif, serta bagaimana melahirkan inovasi yang berpeluang menghasilkan nilai ekonomi,” kata Zulkarnaini.
Menurutnya, peserta juga mendapat ruang diskusi langsung dengan narasumber untuk menguji gagasan dan memperkuat konsep yang akan dikembangkan dalam proposal.
Workshop menghadirkan dua praktisi kewirausahaan, yakni Muhammad Nasir, Direktur Utama OLG Indonesia, dan Anita Lestari, Founder Seblak Ronyok. Kehadiran pelaku usaha tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan perspektif akademik dengan pengalaman nyata dalam membangun bisnis dan mengembangkan produk.
Tak berhenti pada pemaparan materi, sesi berikutnya diarahkan pada praktik penyusunan proposal. Mahasiswa mendapat pendampingan intensif dari reviewer PKM Nasional PNL, yakni Elwina, ST., MT., Yuli Anisah, SE., MM., dan Khairiah, SH., M.Hum.
Pendampingan tersebut diarahkan agar mahasiswa mampu menguji kelayakan ide, mempertajam substansi, memperbaiki sistematika, serta menyesuaikan proposal dengan ketentuan PKM.
Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan dan Alumni PNL, Ir. Syukri, ST., MT., menegaskan PKM tidak seharusnya hanya dipandang sebagai kompetisi untuk mengejar prestasi mahasiswa.
“PKM merupakan ruang pembelajaran untuk melatih mahasiswa berpikir kritis, kreatif, sistematis dan kolaboratif, sekaligus menerjemahkan persoalan menjadi gagasan dan solusi,” ujarnya.
Ia mengatakan PNL ingin membangun ekosistem mahasiswa yang mampu menghasilkan karya dengan manfaat lebih luas.
“PNL adalah kawah candradimuka, tempat ditempanya insan-insan yang berakhlak, inovatif, unggul, dan berdaya saing global. Karena itu, kreativitas mahasiswa harus terus diasah agar menghasilkan karya yang memberi manfaat dan dampak,” kata Syukri.
Berdasarkan Panduan PKM 2026, terdapat delapan bidang dalam skema pendanaan, yaitu PKM Riset Eksakta (PKM-RE), Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH), Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM), Penerapan IPTEK (PKM-PI), Kewirausahaan (PKM-K), Karsa Cipta (PKM-KC), Karya Inovatif (PKM-KI), dan Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK).
Sementara itu, terdapat dua bidang dalam skema insentif, yakni Artikel Ilmiah (PKM-AI) dan Gagasan Futuristik Tertulis (PKM-GFT).
Menurut Syukri, banyaknya skema tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memilih bidang sesuai karakter gagasan, kompetensi, serta persoalan yang ingin mereka jawab.
“Target konkretnya adalah lahir proposal-proposal PKM mahasiswa PNL yang berkualitas dan memiliki daya saing tinggi,” ujarnya.
Ia menambahkan, kampus tidak hanya mengejar peningkatan jumlah proposal yang diajukan, tetapi juga kualitas proposal yang mampu melewati proses seleksi hingga memperoleh pendanaan.
“Kita ingin terjadi transfer of knowledge dari narasumber dan para pendamping kepada mahasiswa, terutama bagaimana menemukan ide, mengembangkannya, kemudian menuliskannya menjadi proposal yang benar, kuat secara substansi, memenuhi ketentuan, dan kompetitif,”terangnya.
Bagi PNL, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar menemukan ide. Ide tersebut harus mampu diuji, ditulis, dikembangkan dan dipertanggungjawabkan hingga menjadi inovasi yang memiliki manfaat nyata.
Workshop itu pun diarahkan menjadi salah satu pijakan untuk membangun budaya inovasi di lingkungan kampus dari ide menjadi proposal, proposal menjadi inovasi, dan inovasi menjadi nilai ekonomi serta manfaat bagi masyarakat. (asp)


