ASPOST.ID- Pelantikan Ziaul Hadi, SE, yang akrab disapa Dek Chik, resmi dilantik sebagai Keuchik Gampong Blang Poroh, Kota Lhokseumawe, periode 2026–2032, bukan sekadar pergantian kepemimpinan di tingkat gampong.
Di balik kemenangan dalam Pemilihan Keuchik Gampong (Pilchikgam) pada 20 September 2026, tersimpan perjalanan panjang seorang putra daerah untuk mengemban amanah masyarakat.
Dek Chik resmi dilantik dan diambil sumpah bersama 46 keuchik terpilih lainnya serta satu Keuchik Pengganti Antarwaktu (PAW) oleh Wali Kota Lhokseumawe, Dr. Sayuti Abubakar, SH., MH., di Gedung Harun Convention Hall, Lhokseumawe, Kamis (8/10/2026).
Bagi masyarakat Blang Poroh, pelantikan tersebut menjadi titik awal bagi kepemimpinan baru. Sebab, setelah proses demokrasi di tingkat gampong berakhir, tantangan berikutnya adalah bagaimana mandat masyarakat diterjemahkan menjadi pemerintahan yang bekerja, terbuka dan mampu menjawab kebutuhan warga.
Dalam Pilchikgam, Ziaul Hadi memperoleh 302 suara, mengungguli tiga kandidat lainnya. Bustami meraih 238 suara, Abdullah 177 suara, sementara M. Rasyid Has hanya mengantongi 18 suara.
Angka tersebut menjadi mandat politik sekaligus tanggung jawab sosial bagi Dek Chik. Kemenangan di bilik pemilihan kini harus berlanjut menjadi kerja nyata di tengah masyarakat.
Ziaul Hadi merupakan putra asli Gampong Blang Poroh. Ia lahir di Blang Poroh pada 10 Oktober 1990.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Negeri 3 Muara Dua, kemudian dilanjutkan ke MTsN Lhokseumawe dan MAN Lhokseumawe. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Malikussaleh dan meraih gelar Sarjana Akuntansi pada 2016.
Latar belakang tersebut menjadi salah satu bekal yang dibawanya dalam memimpin pemerintahan gampong, terutama di tengah tuntutan pengelolaan administrasi, keuangan dan program pembangunan yang semakin membutuhkan transparansi serta akuntabilitas.
Namun, perjalanan Dek Chik menuju kursi keuchik juga memiliki ikatan sejarah dengan pemerintahan Blang Poroh.
Ia merupakan putra Usman Raban, mantan Keuchik Blang Poroh yang memimpin gampong tersebut pada 1988–2006.
Pengalaman sang ayah memimpin Blang Poroh dalam rentang waktu panjang, termasuk melewati masa konflik Aceh hingga memasuki era perdamaian pasca penandatanganan MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005, menjadi bagian dari latar perjalanan keluarga yang kini diteruskan oleh generasi berikutnya.
Kini, sejarah tersebut memasuki babak baru.
Jika dahulu sang ayah memimpin Blang Poroh dalam situasi sosial politik yang berbeda, Dek Chik menghadapi tantangan pemerintahan gampong di era ketika masyarakat menuntut pelayanan yang cepat, keterbukaan informasi, pengelolaan anggaran yang dapat dipertanggungjawabkan, serta pembangunan yang benar-benar menyentuh kebutuhan warga.
Bukan Sekadar Menang Pilchikgam
Setelah pelantikan, kemenangan 302 suara bukan lagi sekadar angka.
Di hadapan Dek Chik terbentang tanggung jawab untuk memastikan roda pemerintahan gampong berjalan efektif, pelayanan publik semakin baik, pembangunan memiliki arah yang jelas, dan masyarakat mendapatkan ruang untuk menyampaikan aspirasi.
Dek Chik menyadari bahwa membangun gampong tidak dapat dilakukan seorang diri.
“Insyaallah kita akan melanjutkan program pembangunan Gampong Blang Poroh ke arah yang lebih baik lagi ke depannya dengan dukungan semua elemen masyarakat,”kata Dek Chik.
Ia menyebut, untuk membangun gampong itu sangat membutuhkan kebersamaan antara pemerintah gampong dan masyarakat. Karena itu, komunikasi dengan warga menjadi bagian penting dalam menentukan arah pembangunan.
“Untuk membangun gampong membutuhkan kebersamaan, dukungan dan partisipasi seluruh masyarakat. Pemerintah gampong tidak bisa berjalan sendiri. Karena itu, kita akan membuka ruang komunikasi dan menerima masukan dari masyarakat dalam menentukan arah pembangunan,”terang Dek Chik kepada aspost.id, Kamis (8/10).
Ia menegaskan, pembangunan ke depan tidak hanya diarahkan pada pembangunan fisik. Peningkatan kualitas pelayanan publik, pemberdayaan ekonomi dan penguatan kapasitas masyarakat juga menjadi bagian penting dalam agenda pemerintahannya.
Tantangan Enam Tahun di Depan
Dengan usia yang relatif muda dan latar belakang pendidikan akuntansi, Dek Chik kini memasuki fase baru dalam perjalanan pengabdiannya.
Enam tahun masa jabatan bukan waktu yang singkat. Di dalamnya terdapat tuntutan untuk mengelola pemerintahan, anggaran, pembangunan dan dinamika sosial masyarakat secara bersamaan.
Karena itu, ukuran keberhasilan kepemimpinan Dek Chik pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh program yang direncanakan, tetapi sejauh mana kebijakan tersebut dirasakan masyarakat.
Blang Poroh kini menaruh harapan pada wajah baru pemerintahannya.
Mandat telah diberikan. Sumpah telah diucapkan. Pekerjaan sesungguhnya baru dimulai.
Bagi Dek Chik, memimpin Blang Poroh bukan sekadar meneruskan jejak keluarga, tetapi membangun babak baru dengan menjadikan masyarakat sebagai bagian penting dari setiap proses pembangunan gampong.(asp)


