ASPOST.ID – Delapan abad perjalanan Samudera Pasai menjadi panggung refleksi sejarah sekaligus momentum memberikan apresiasi kepada figur-figur yang dinilai konsisten memberi kontribusi bagi masyarakat dan generasi muda.
Salah satu sosok yang mendapat sorotan pada momentum tersebut adalah Dr (C). Ir. Muhammad Hatta, SST., MT., CPS., CPPS., CMPS., CCLS., CTRS., CCHS., atau yang akrab disapa Bung Hatta.
Ia dianugerahi Tokoh Pemuda Inspiratif Aceh Utara 2026 pada malam puncak sekaligus penutupan rangkaian Milad ke-800 Bumoe Samudera Pasai dan Piasan Pase, Ahad malam, 13 September 2026.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M.
Anugerah itu diberikan atas perjalanan panjang Bung Hatta dalam menggerakkan kepemudaan, pendidikan, keagamaan, komunikasi publik, organisasi, profesi, adat dan budaya, serta membangun jejaring kolaborasi di berbagai lingkungan.
Bagi Bung Hatta, kiprah di tengah masyarakat bukan sekadar persoalan jabatan. Ia menempatkan pengabdian sebagai ruang untuk berbagi pengetahuan, membangun koneksi dan mendorong generasi muda agar berani mengambil peran.
Bukan Sekadar Bicara, tetapi Menggerakkan
Kedekatannya dengan kalangan muda menjadi salah satu ciri yang melekat dalam perjalanan Bung Hatta.
Ia kerap mendorong generasi muda agar tidak sekadar menjadi penonton di tengah perubahan zaman. Menurutnya, pemuda harus memiliki kapasitas, keberanian, integritas serta kemampuan membangun jejaring.
Pesan yang terus digaungkannya sederhana: terus belajar, meningkatkan kompetensi, memperluas wawasan, produktif, kreatif dan inovatif, sekaligus berani berkompetisi hingga level nasional dan internasional.
Semangat tersebut antara lain diwujudkan melalui Komunitas Pemuda Subuh (Kompas) Aceh Utara, yang dipimpinnya sejak 2022.
Bung Hatta juga konsisten terlibat dalam Safari Subuh dan Zikir Bersama Tadzkiratul Ummah di Aceh Utara. Aktivitas itu menjadi ruang pertemuan antara pemuda, masyarakat, ulama dan berbagai elemen sosial dalam membangun silaturahmi serta memperkuat nilai-nilai keislaman.
Di tengah kesibukan profesional dan sosial tersebut, ia tetap menjalankan amanah sebagai imam rawatib di Masjid Haji Muhammad Hanafiah Lhoksukon dan Masjid Al-Bayan Politeknik Negeri Lhokseumawe.
Ketika Komunikasi Menjadi Jembatan Kolaborasi
Bidang komunikasi publik menjadi bagian penting lainnya dari perjalanan Bung Hatta.
Pengalaman panjang dalam public speaking membuatnya dipercaya menjadi narasumber, moderator maupun master of ceremony dalam berbagai forum di tingkat daerah, nasional hingga internasional.
Namun, baginya, komunikasi bukan sekadar kemampuan berbicara di depan banyak orang.
Komunikasi harus mampu menjadi jembatan untuk mempertemukan gagasan, membangun hubungan, membuka ruang kolaborasi dan mendorong orang lain ikut bergerak.
Pemikiran tersebut juga dituangkannya melalui berbagai forum dan tulisan opini di media yang membahas komunikasi, kehumasan, public speaking, pendidikan, kepemudaan dan dinamika sosial kemasyarakatan.
Di lingkungan profesional, Bung Hatta dipercaya sebagai Koordinator Humas dan Kerja Sama Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL).
Ia juga dipercaya sebagai Ketua Forum Humas Politeknik Negeri se-Indonesia serta Ketua Forum Humas Perguruan Tinggi Aceh.
Posisi tersebut mempertemukannya dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha dan industri, media, organisasi profesi hingga masyarakat.
Pengabdian yang Mendapat Pengakuan Negara
Perjalanan Bung Hatta di bidang pendidikan dan pelayanan publik juga mendapat pengakuan negara.
Pada 2026, ia menerima Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto atas pengabdian dan kesetiaannya dalam menjalankan tugas sebagai aparatur negara.
Penghargaan tersebut melengkapi perjalanan profesionalnya yang berjalan beriringan dengan aktivitas sosial dan kemasyarakatan.
Selama tujuh tahun, Bung Hatta juga pernah dipercaya sebagai Tim Ahli Bupati Aceh Utara dalam tiga periode kepemimpinan.
Dalam kapasitas tersebut, ia berinteraksi dengan berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat serta terlibat dalam sejumlah agenda strategis.
Pada 2022, ia turut menjadi penghubung dan fasilitator dalam mempertemukan unsur ulama, umara dan aghniya untuk mendorong gagasan kemandirian ekonomi dayah di Dayah Kupie.
Sejak 2023 hingga kini, ia juga dipercaya menjadi moderator pengajian akbar di Galon Kupi, Kompleks SPBU Pulo Pisang, Sigli, yang menghadirkan sejumlah ulama kharismatik Aceh.
Modern dalam Cara Berpikir, Teguh Menjaga Identitas
Aktivitas profesional tidak membuat Bung Hatta meninggalkan akar budaya dan nilai-nilai Aceh.
Ia dipercaya sebagai Kepala Bidang Adat Istiadat Majelis Adat Aceh Kabupaten Aceh Utara, dengan perhatian pada pelestarian serta pewarisan nilai-nilai adat dan budaya kepada generasi berikutnya.
Menurut pandangannya, kemajuan tidak boleh membuat generasi muda kehilangan identitas.
Generasi muda Aceh harus mampu berpikir global, menguasai perkembangan zaman dan berkompetisi secara luas, tetapi tetap memahami adat, budaya dan nilai-nilai yang membentuk jati dirinya.
Pandangan tersebut menjadi semakin relevan ketika Aceh Utara memperingati 800 tahun Samudera Pasai.
Momentum sejarah tersebut bukan hanya tentang mengenang masa lalu, melainkan juga tentang bagaimana generasi hari ini menyiapkan manusia yang mampu meneruskan perjalanan peradaban.
Jejaring Organisasi yang Membentuk Pengalaman
Kiprah Bung Hatta juga terlihat dalam berbagai organisasi.
Ia telah dua periode dipercaya sebagai Sekretaris ICMI Orda Lhokseumawe dan sejak 2006 hingga kini mengemban amanah sebagai Sekretaris Ikatan Alumni Politeknik Negeri Lhokseumawe (IKAPOLINEL).
Ia juga aktif sebagai Dewan Pembina Asosiasi Pengelasan Indonesia (API) Provinsi Aceh, pernah menjabat Wakil Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Kota Lhokseumawe periode 2021–2024, serta kini dipercaya sebagai Dewan Pakar PII Kota Lhokseumawe periode 2024–2027.
Sebelumnya, ia juga aktif dalam Komisi Pengembangan Sumber Daya Manusia Forum Komunikasi Jejaring Pemagangan (FKJP) Aceh periode 2017–2019.
Di bidang kepemudaan, Bung Hatta pernah menjadi salah seorang Wakil Ketua DPD KNPI Aceh Utara periode 2018–2022, aktif di PERGUNU serta terlibat dalam berbagai organisasi profesi, sosial dan kemasyarakatan.
Lintasan tersebut membentuk pengalaman yang membuatnya terbiasa berkomunikasi dan berkolaborasi dengan berbagai kelompok.
Humanis di Tengah Beragam Kalangan
Di kalangan sahabat dan kolega, suami dari Cut Ramadhani, S.Pd., itu dikenal sebagai sosok humanis, komunikatif, rendah hati dan humoris.
Ia mampu tampil formal dalam forum resmi, tetapi tetap mudah mencair ketika berinteraksi dengan masyarakat maupun kalangan muda.
Kemampuan membangun kedekatan tersebut membuatnya dapat berkomunikasi dengan berbagai kalangan, mulai dari pemuda, akademisi, politisi, praktisi, pengusaha dan profesional hingga ulama, tokoh masyarakat, birokrat dan pemangku kepentingan lainnya.
Dari berbagai lintasan itulah sosok Bung Hatta memperoleh makna sebagai figur inspiratif.
Ia tidak hanya berbicara mengenai kompetensi, produktivitas, spiritualitas, profesionalisme, jejaring dan budaya. Nilai-nilai tersebut berusaha diwujudkannya melalui perjalanan dan aktivitas sehari-hari.
Dunia profesional membentuk kompetensinya. Organisasi menempanya dalam kepemimpinan dan kolaborasi. Public speaking mengasah kemampuan menyampaikan gagasan. Jejaring mempertemukannya dengan berbagai kalangan. Adat dan budaya menjaga identitas, sementara masjid dan aktivitas sosial-keagamaan membuatnya tetap dekat dengan masyarakat.
Anugerah di Tengah 800 Tahun Peradaban Pasai
Pemberian penghargaan kepada Bung Hatta menjadi semakin simbolis karena berlangsung di tengah peringatan 800 tahun Samudera Pasai.
Delapan abad Samudera Pasai bukan hanya catatan sejarah tentang kejayaan masa lalu. Momentum tersebut sekaligus menghadirkan pertanyaan bagi generasi sekarang: warisan seperti apa yang akan ditinggalkan kepada generasi berikutnya?
Dalam konteks itu, pembangunan manusia menjadi bagian penting dari perjalanan masa depan Aceh.
Generasi yang berilmu tanpa kehilangan adab. Profesional tanpa tercerabut dari akar budaya. Mampu berbicara sekaligus bersedia mendengar. Memiliki jejaring tetapi tetap menjaga integritas dan kerendahan hati.
Atas perjalanan tersebut, Dr (C). Ir. Muhammad Hatta, SST., MT., CPS., CPPS., CMPS., CCLS., CTRS., CCHS. dianugerahi Tokoh Pemuda Inspiratif Aceh Utara 2026.
Penghargaan itu bukan sekadar pengakuan atas apa yang telah dilakukan, tetapi juga menjadi amanah untuk terus memperluas manfaat dan menyalakan optimisme di kalangan generasi muda.
Sebab, sosok inspiratif tidak selalu diukur dari seberapa tinggi ia berdiri di atas panggung.
Lebih dari itu, ia diukur dari seberapa banyak orang yang terdorong untuk ikut melangkah.
Dan bagi Bung Hatta, perjalanan tersebut tampaknya belum selesai. Di tengah perubahan zaman, ruang pengabdian masih terbuka luas dan generasi muda tetap menjadi bagian terpenting dari perjalanan panjang itu.(asp)

