ASPOST.ID- Sebuah pertemuan sederhana dapat membuka kembali lembaran panjang tentang sejarah Aceh. Pertemuan Tarmizi Panyang dengan William Nessen, wartawan asal Amerika Serikat yang pernah berada langsung di tengah-tengah pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), menjadi sebuah momen yang tidak sekadar mempertemukan dua orang, tetapi juga mempertemukan kembali potongan-potongan sejarah konflik Aceh yang pernah menjadi perhatian dunia internasional.
Bagi masyarakat Aceh Utara, khususnya mereka yang pernah mengalami masa konflik, nama Tarmizi Panyang bukanlah nama yang asing. Ia dikenal sebagai salah seorang mantan kombatan GAM yang kemudian memasuki ruang politik dan pemerintahan. Kini Tarmizi Panyang menjabat sebagai Wakil Bupati Aceh Utara periode 2025–2030 bersama Bupati Ismail A. Jalil. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara mencatat Tarmizi alias Panyang lahir di Babah Krueng pada 1 Juli 1978.
Sementara itu, William Nessen mempunyai kisah yang berbeda. Ia datang ke Aceh sebagai wartawan untuk merekam konflik yang sedang berlangsung. Namun, keberaniannya membawanya jauh lebih dalam dibandingkan liputan jurnalistik biasa.
Pada masa Operasi Militer di Aceh tahun 2003, Nessen diketahui berada bersama pasukan GAM di wilayah Aceh Utara. Sejumlah laporan media pada saat itu menyebut Nessen berada di kawasan Nisam dan melakukan peliputan langsung dari lingkungan pasukan GAM.
Ia bukan sekadar berada di sekitar wilayah konflik. Nessen dilaporkan ikut bergerak bersama pasukan GAM, memotret sejumlah tokoh dan aktivitas mereka serta berusaha melihat langsung kehidupan gerilyawan dari dekat. Karena itu, keberadaannya menjadi perhatian serius pemerintah dan aparat keamanan Indonesia ketika itu.
Catatan pemberitaan pada Juni 2003 menyebut Nessen akhirnya menyerahkan diri kepada TNI di Desa Paya Dua, Kecamatan Nisam, Aceh Utara, pada 24 Juni 2003 sekitar pukul 10.30 WIB. Saat itu ia disebut sebagai wartawan lepas yang menjadi kontributor sejumlah media internasional, antara lain The Boston Globe, San Francisco Chronicle, The Sydney Morning Herald, dan The Independent.
Peristiwa tersebut kemudian menjadi berita internasional. Nessen dijemput dari kawasan Nisam dan dibawa ke Banda Aceh untuk menjalani pemeriksaan. Laporan media internasional pada masa itu juga mencatat bahwa Nessen telah melakukan perjalanan bersama GAM sejak dimulainya operasi besar militer Indonesia di Aceh pada Mei 2003.
Dari Tengah Konflik ke Era Perdamaian
Lebih dari dua dekade setelah peristiwa tersebut, Aceh telah berubah.
Senjata telah berganti dengan proses politik. Para mantan kombatan GAM banyak yang memilih jalur politik dan pemerintahan. Ruang-ruang yang dahulu menjadi bagian dari konflik kini menjadi tempat berlangsungnya pembangunan dan aktivitas masyarakat.
Tarmizi Panyang merupakan salah satu gambaran perjalanan tersebut.
Dari seorang yang memiliki pengalaman dalam sejarah konflik Aceh, ia kemudian memasuki arena politik. Pada 2024, Tarmizi Panyang bersama Ismail A. Jalil maju dalam Pilkada Aceh Utara. Pasangan tersebut ditetapkan sebagai pasangan terpilih dengan 357.738 suara dari 368.902 suara sah. Keduanya kemudian dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Aceh Utara periode 2025–2030.
Sebelumnya, Tarmizi juga pernah menduduki jabatan anggota parlemen Aceh atau DPR Aceh selama dua periode yakni (2014—2019) dan (2019—2024).
Pertemuan dengan William Nessen menjadi menarik karena keduanya memiliki titik persinggungan dengan sejarah Aceh dari sisi yang berbeda.
Tarmizi berada dalam perjalanan sejarah sebagai bagian dari masyarakat Aceh yang mengalami langsung masa konflik, sementara Nessen berada di sana sebagai seorang jurnalis asing yang datang untuk melihat, mencatat, memotret dan memberitakan konflik tersebut kepada dunia.
Untuk diketahui, riwayat organisasi Tarmizi diantaranya:
Anggota Pasukan Gerakan Aceh Merdeka (1998—2005),
Panglima GAM Sagoe Sawang (1998—2005),
Ketua DPC Partai Aceh Kecamatan Sawang (2006—Sekarang),
Penasehat Sirul Mubtadin (2023—Sekarang),
Wakil Ketua Pramuka Aceh Utara (2026-).(*)

