ASPOST.ID – Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Utara dalam beberapa hari terakhir ini memunculkan perhatian terhadap keselamatan peserta didik dan tenaga pendidik. Di tengah aktivitas belajar yang tetap berjalan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Utara meminta seluruh sekolah meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan langkah antisipasi untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat penurunan kualitas udara.
Kepala Disdikbud Aceh Utara, Dr. Jamaluddin, S.Sos., M.Pd., menyampaikan sejumlah arahan kepada satuan pendidikan sebagai langkah pencegahan. Sekolah diminta tidak mengabaikan kondisi udara di lingkungan masing-masing, terutama ketika kabut asap semakin pekat dan berpotensi mengganggu kesehatan warga sekolah.
Salah satu langkah yang ditekankan ialah penggunaan masker bagi peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan, terutama saat perjalanan menuju sekolah maupun ketika beraktivitas di luar ruangan.
Disdikbud juga mengimbau sekolah membatasi kegiatan luar ruangan, termasuk olahraga dan upacara bendera. Kegiatan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi udara dan, jika memungkinkan, dialihkan ke dalam ruangan untuk mengurangi paparan asap.
“Langkah ini menjadi penting karena lingkungan sekolah bukan ruang yang terpisah dari risiko pencemaran udara. Ketika kabut asap menyebar, anak-anak dapat terpapar selama perjalanan, kegiatan di halaman sekolah, maupun aktivitas lainnya di luar ruangan,”ucap Jamaluddin dikonfirmasi aspost.id, Sabtu (17/10).
Tatap Muka Tetap Berjalan, tetapi Bukan Tanpa Evaluasi
Disdikbud Aceh Utara menyatakan pembelajaran tatap muka masih dapat dilaksanakan selama kondisi kabut asap dinilai memungkinkan dan tidak menunjukkan risiko kesehatan yang tinggi.
Namun, keberlangsungan kegiatan belajar tidak boleh dimaknai sebagai alasan untuk mengabaikan perkembangan kualitas udara. Kondisi di lapangan dapat berubah, sehingga keputusan sekolah perlu mempertimbangkan keselamatan peserta didik, bukan semata-mata mengejar rutinitas pembelajaran.
Kepala sekolah diminta memantau perkembangan kabut asap di wilayah masing-masing dan segera berkoordinasi dengan Disdikbud apabila situasi memburuk. Jika paparan asap dinilai berisiko bagi kesehatan, sekolah dapat mengusulkan penyesuaian pola pembelajaran, termasuk peralihan sementara ke Belajar dari Rumah (BDR) atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), sesuai hasil koordinasi dan kebijakan yang ditetapkan.
Opsi tersebut disiapkan untuk mengantisipasi kondisi yang berpotensi membahayakan kesehatan, khususnya pada kelompok yang rentan terhadap gangguan pernapasan. Paparan asap dapat memperburuk keluhan pernapasan dan meningkatkan risiko masalah kesehatan, terutama bagi anak-anak serta orang yang memiliki kondisi pernapasan tertentu.
Sekolah Jangan Menunggu hingga Kondisi Memburuk
Disdikbud menekankan pentingnya respons cepat dari setiap satuan pendidikan. Kepala sekolah diharapkan tidak menunggu hingga kabut asap semakin pekat untuk melakukan evaluasi dan mengambil langkah pencegahan.
Koordinasi dengan dinas menjadi bagian penting agar penyesuaian kegiatan belajar dilakukan berdasarkan kondisi aktual dan pertimbangan keselamatan. Pemantauan juga perlu dilakukan secara berkelanjutan, mengingat tingkat paparan asap dapat berbeda antara satu wilayah dan wilayah lainnya.
Di sisi lain, penerapan pembelajaran dari rumah juga perlu mempertimbangkan kesiapan siswa, ketersediaan sarana pembelajaran, serta kemampuan orang tua dalam mendampingi anak. Karena itu, setiap perubahan pola belajar harus dirancang agar perlindungan kesehatan tetap berjalan tanpa memperlebar kesenjangan akses pendidikan.
Persoalan kabut asap pada akhirnya bukan sekadar tentang apakah sekolah tetap dibuka atau pembelajaran dialihkan ke rumah. Hal yang lebih mendasar ialah bagaimana memastikan hak pendidikan tetap terpenuhi tanpa mengorbankan keselamatan peserta didik dan tenaga pendidik.
Disdikbud Aceh Utara mengimbau seluruh sekolah tetap waspada, menerapkan langkah pencegahan, membatasi aktivitas luar ruangan, serta menjalin koordinasi apabila kondisi udara memburuk.
Di tengah kabut asap yang belum sepenuhnya dapat dipastikan perkembangannya, kecepatan membaca situasi dan ketepatan mengambil keputusan menjadi kunci agar kegiatan pendidikan tetap berlangsung dengan mengutamakan kesehatan seluruh warga sekolah. (asp)

