ASPOST.ID- Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat sebanyak 769 batang kayu hanyut dengan total volume 1.260,49 meter kubik akibat banjir melanda Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, pada 26 November 2025.

Kayu-kayu tersebut dimanfaatkan untuk mendukung pemulihan wilayah terdampak, terutama pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga korban bencana.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Subhan menjelaskan, kayu hanyutan dipilah di sejumlah titik, termasuk di halaman rumah warga dan alur sungai mati, agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan legal.

“Kayu hanyutan kami pilah di halaman rumah warga dan di sungai mati untuk dimanfaatkan, terutama mendukung pembangunan hunian sementara,” ujar Subhan dalam keterangan tertulis yang diterima awak media pada Sabtu (10/1).

Pendataan tersebut merupakan akumulasi hingga Kamis (8/1), sebagai bagian dari penanganan pasca bencana banjir di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Di wilayah itu, Kemenhut mengerahkan 87 personel dengan dukungan 38 unit alat berat milik Kemenhut, TNI, dan Kementerian Pekerjaan Umum. Kegiatan difokuskan pada pemilahan kayu di sekitar permukiman warga agar dapat segera dimanfaatkan.

Pemanfaatan kayu hasil banjir tersebut telah digunakan oleh Rumah Zakat untuk pembangunan sembilan unit huntara. Dari jumlah tersebut, delapan unit masih dalam tahap pembangunan, sementara satu unit telah selesai dan siap dihuni.

Selain mendukung pembangunan huntara, 54 personel Kemenhut dan Saka Wanabakti juga diterjunkan untuk membersihkan sejumlah fasilitas pendidikan yang terdampak banjir di Aceh Utara, guna mempercepat pemulihan aktivitas belajar mengajar.

Sementara itu, di Provinsi Sumatera Utara, pemilahan kayu di wilayah Garoga telah mencapai 100 persen di Garoga I, Garoga II, dan Garoga III. Adapun pada jalur Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol, progres pemilahan telah mencapai 80 persen.

Hingga Kamis (8/1), hasil pengolahan kayu di wilayah tersebut mencapai 228 batang dengan volume 3,1560 meter kubik, sehingga total akumulasi menjadi 793 batang kayu dengan volume 12,0035 meter kubik. Kayu tersebut dialokasikan untuk pembangunan huntara di Desa Batu Hula, Kecamatan Batang Toru.

Tak hanya pemanfaatan kayu, Kemenhut juga melakukan penataan lingkungan dan land clearing untuk rencana pembangunan huntara dan hunian tetap di areal PTPN IV Desa Aek Pining. Dari total rencana pembukaan lahan seluas 15 hektare, hingga saat ini telah terealisasi sekitar 1,028 hektare.

Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah terpadu pemerintah dalam mempercepat pemulihan wilayah terdampak banjir sekaligus memastikan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan dan berpihak pada masyarakat. (asp)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version