ASPOST.ID – Bencana banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Aceh Utara dan 17 kabupaten/kota lainnya di Provinsi Aceh tidak hanya mengundang perhatian karena dampak bencana itu sendiri, tetapi juga karena munculnya sebuah pengumuman viral yang menyoroti Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil. Iklan layanan masyarakat yang berbunyi “Dicari Ayah Wa Hilang” menjadi sorotan, dengan menyertakan foto sang bupati dan kalimat sindiran tajam. Iklan tersebut menyebutkan bahwa Bupati Aceh Utara terakhir kali terlihat sebelum bencana besar ini melanda wilayah tersebut.

Gambar yang viral ini diduga merupakan bentuk kritik terhadap absen atau kurangnya kehadiran Bupati di lokasi-lokasi pengungsian saat bencana, meskipun banyak pihak yang menilai bahwa sindiran tersebut tidak berdasar dan justru berpotensi merusak reputasi pemimpin daerah. Munculnya pengumuman tersebut memicu perdebatan sengit di media sosial, dengan berbagai opini yang saling bertentangan.
Terkait hal ini, Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak Kabupaten Aceh Utara, Fakhrulradhi, langsung memberikan klarifikasi. Menurutnya, Bupati Ismail A. Jalil bersama Wakil Bupati Tarmizi (Payang) telah bekerja tanpa lelah di lapangan, bahkan terjun langsung ke lokasi pengungsian untuk memberikan bantuan kepada warga yang terdampak.
“Jika ingin mencari Ayah Wa, jangan mencarinya di pendopo, carilah dia di tenda-tenda pengungsian atau rumah-rumah warga yang terdampak bencana. Mereka bekerja siang dan malam bersama masyarakat korban banjir,” tegas Fakhrulradhi saat memberikan penjelasan pada media pada Sabtu sore, 20 Desember.

Fakhrulradhi menambahkan bahwa sindiran ini tidak hanya merugikan pemimpin daerah, tetapi juga bisa melukai hati masyarakat yang telah menyaksikan kerja keras pemerintah daerah dalam merespons bencana. Para pemimpin daerah tersebut, lanjutnya, tidak hanya bertindak sebagai simbol otoritas, tetapi juga sebagai bagian dari upaya kolektif untuk membangun kembali daerah yang hancur akibat bencana alam.
Kebebasan berpendapat adalah hak yang dijamin bagi setiap warga negara, namun kontroversi ini mengangkat pertanyaan lebih besar: apakah bentuk kritik sarkastik dan sindiran semacam ini patut digunakan di tengah situasi darurat? Apakah cara ini dapat diterima dalam suasana bencana, di mana solidaritas dan kerjasama seharusnya lebih diutamakan?

Iklan tersebut kini menjadi perbincangan hangat di Aceh Utara dan bahkan menyebar luas hingga ke tingkat nasional, menambah dinamika dalam menghadapi dampak bencana yang sudah menantang. (asp)
