ASPOST.ID- Dayah Zurriyatul Qur’ani Al Ma’arif (ZQA) di Gampong Buket Rata, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, kembali mencetak generasi Qurani. Dalam prosesi wisuda yang digelar khidmat pada Ahad (14/9), sebanyak 45 santri diwisuda sebagai penghafal Al-Qur’an, termasuk satu santriwan yang berhasil mengkhatamkan 30 juz.

Pimpinan Dayah ZQA, Tgk. Sulaiman Daud, M.H., yang akrab disapa Tgk. Lhokweng, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan acara tersebut.

“Kami sangat berterima kasih kepada Wali Kota Lhokseumawe, Ketua DPRK, Kemenag, Rektor UIN Sultanah Rasyidah, Komandan Lanud AURI, Muspika Blang Mangat, serta lembaga kemanusiaan nasional dan internasional seperti MER-C, YKMI, JRS, IOM, dan UNHCR atas dukungannya,” ungkap Tgk. Lhokweng dalam sambutannya.

Dalam wisuda kali ini, Muhammad Khalis dikukuhkan sebagai hafiz 30 juz, sementara Husnul Khatimah sebagai hafizah 27 juz. Santri lainnya telah menghafal antara 10 hingga 25 juz, menandai pencapaian signifikan dalam upaya mencetak generasi penghafal Al-Qur’an.

Dorongan Jadikan Lhokseumawe sebagai Kota Al-Qur’an

Tgk. Lhokweng menegaskan, wisuda ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya membangun motivasi dan semangat para santri untuk terus mencintai dan mengamalkan Al-Qur’an.

Ia juga menyuarakan harapan besar agar Lhokseumawe bisa dikenal sebagai Kota Al-Qur’an, tempat tumbuhnya generasi yang mencintai dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

“Kami berharap Pemerintah Kota Lhokseumawe dapat kembali menghidupkan kebijakan lama, yaitu mewajibkan siswa memiliki surat keterangan mampu membaca Al-Qur’an dari balai pengajian sebelum melanjutkan ke jenjang SMP. Ini penting untuk membentuk generasi Qurani sejak dini,” tegasnya.

Wisuda Khidmat Dihadiri Tokoh dan Lembaga Internasional

Acara wisuda ini turut dihadiri oleh tokoh masyarakat, pejabat pemerintah daerah, serta perwakilan lembaga-lembaga kemanusiaan dari dalam dan luar negeri. Komunitas Sedekah Seribu Sehari (S3) Al-Firdaus juga hadir dan langsung menetapkan dua santri yatim sebagai anak asuh mereka.

Prosesi wisuda dilengkapi dengan peusijeuk atau tepung tawar, serta pembacaan ikrar santri sebagai wujud komitmen mereka dalam menjaga hafalan dan menjalankan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan.(asp)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version