ASPOST.ID- Terminal Liquefied Natural Gas (LNG) Arun di Lhokseumawe, Aceh, mulai menunjukkan posisi strategisnya dalam peta bisnis LNG kawasan Asia. Melalui PT Perta Arun Gas (PAG), Subholding Gas Pertamina terus mengembangkan layanan Gassing Up and Cooling Down (GUCD) untuk kapal LNG domestik maupun internasional.
Pengembangan bisnis tersebut menjadi bagian dari strategi PAG mengoptimalkan aset LNG Arun sekaligus mendorong fasilitas tersebut menjadi pusat layanan GUCD dan LNG Hub yang terintegrasi di kawasan Asia.
President Director PAG, Yan Syukharial menyebut bisnis GUCD memiliki peluang yang semakin besar. Menurutnya, jika sebelumnya Singapura menjadi salah satu pemain utama layanan tersebut di Asia, Terminal PAG kini mulai menjadi salah satu pusat baru bagi kapal LNG yang membutuhkan layanan GUCD.
GUCD merupakan rangkaian proses penting sebelum kapal LNG melakukan pemuatan LNG. Proses tersebut memastikan tangki kapal berada dalam kondisi yang sesuai dan aman, termasuk melalui tahapan penggantian atmosfer tangki serta pendinginan secara bertahap untuk mencegah risiko akibat perubahan temperatur yang ekstrem.
“PAG pertama kali memperoleh pelanggan GUCD pada 2023 dari BP Singapore dengan volume sekitar 4.900 meter kubik LNG dan aktual molekul sekitar 115.060 MMBTU,” ucap Yan dalam keterangannya kepada awak media, pada Senin (28/9) lalu.
Seiring berkembangnya kepercayaan pasar, hingga 2026 PAG telah menerima lebih dari 38 kapal dari 15 perusahaan dunia yang memanfaatkan layanan GUCD. Khusus sepanjang 2026, sebanyak 18 kapal kargo telah dilayani dengan total volume LNG sekitar 70.000 meter kubik atau setara sekitar 1,6 juta MMBTU.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa Terminal LNG Arun tidak lagi hanya berfungsi sebagai fasilitas penerimaan dan regasifikasi LNG. Infrastruktur yang berada di kawasan Arun Lhokseumawe itu mulai dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem bisnis LNG yang melayani kebutuhan domestik sekaligus pasar internasional.
PAG sendiri saat ini mengoperasikan lima tangki LNG, termasuk Tangki F-6004 yang memiliki kapasitas 127.000 meter kubik. Revitalisasi tangki tersebut rampung pada awal 2026 dan dilengkapi fasilitas pendukung, termasuk dermaga untuk menerima kapal LNG berukuran kecil dengan kapasitas sekitar 3.500 meter kubik.
Dengan tambahan kapasitas tersebut, PAG menargetkan peningkatan utilisasi terminal sekaligus memperluas portofolio bisnis LNG. Pertagas sebelumnya menyebut revitalisasi fasilitas LNG Arun menjadi salah satu langkah untuk memperkuat posisi Arun sebagai hub LNG kawasan Asia dan memperluas peran perusahaan di luar bisnis transportasi gas melalui jaringan pipa.
PAG menyatakan pengembangan GUCD akan terus diarahkan pada peningkatan utilisasi aset, penguatan kompetensi sumber daya manusia, serta peningkatan keandalan fasilitas. Aspek health, safety, security and environment (HSSE), keandalan operasi dan kualitas pelayanan menjadi bagian penting dalam pengembangan bisnis tersebut.
Terminal Arun sendiri telah menjadi fasilitas penerimaan dan regasifikasi LNG sejak 2015. Pertagas mencatat fasilitas tersebut memiliki kapasitas regasifikasi 400 MMSCFD dan menjadi bagian dari infrastruktur yang mendukung kebutuhan energi Aceh dan Sumatera Utara.
Bagi Aceh, perkembangan bisnis GUCD dan LNG Hub Arun membuka dimensi baru pemanfaatan kawasan eks-LNG Arun. Jika tren pertumbuhan pelanggan internasional terus berlanjut, Arun berpotensi semakin terintegrasi dalam rantai pasok LNG regional, tidak hanya sebagai titik penerimaan LNG tetapi juga sebagai pusat layanan bagi kapal dan pelaku industri LNG.
PAG menargetkan pengembangan tersebut dapat memperkuat posisi Arun sebagai one stop energy infrastructure provider sekaligus mendukung peningkatan kontribusi bisnis LNG bagi Subholding Gas Pertamina.(asp)


