ASPOST.ID- Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al-Haythar, menegaskan bahwa kerusakan hutan dan ekspansi perkebunan sawit yang tidak terkendali menjadi salah satu faktor utama terjadinya berbagai bencana alam di Aceh. Ia kembali mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian hutan sebagai benteng ekologis dan masa depan daerah.
“Kenapa bencana ini terjadi? Karena banyak hutan yang sudah dibabat. Saya selalu bilang, jangan tebang hutan dan jangan terlalu banyak menanam sawit,” ujar Malik Mahmud, kepada awak media saat menyalurkan bantuan korban banjir di Aceh Tamiang, pada Ahad (21/12).
Menurutnya, pembangunan Aceh harus diarahkan pada model yang berkelanjutan dan berpihak pada kepentingan rakyat. Ia menekankan bahwa kehadiran investor dan pihak luar seharusnya membawa industri yang memberi nilai tambah di Aceh, bukan justru mengeksploitasi kekayaan alam tanpa manfaat jangka panjang bagi masyarakat setempat.
“Orang luar atau investor boleh masuk ke Aceh, tetapi membawa industri, bukan menebang kekayaan alam Aceh. Kepentingan kita harus kita jaga,” tegasnya.
Malik Mahmud juga mengajak masyarakat Aceh untuk lebih kritis dalam menilai investasi yang masuk dan memastikan pengelolaan sumber daya alam tetap berada di tangan rakyat Aceh sendiri. Ia menilai hal ini perlu ditinjau kembali demi kedaulatan ekonomi dan lingkungan daerah.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Nanggroe menyampaikan dukungannya terhadap kepemimpinan Muzakir Manaf (Mualem), seraya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu.
“Kita sendiri yang harus mengelola Aceh. Kita ikut di belakang Mualem. Saya bersama Mualem,” katanya.
Ia menutup pernyataannya dengan ajakan untuk berdoa dan bergotong royong demi menjaga dan membangun Aceh agar tetap lestari, berdaulat, dan sejahtera bagi generasi mendatang.(asp)
