ASPOST.ID – Sebanyak 47 keuchik gampong terpilih di Kota Lhokseumawe dijadwalkan dilantik secara serentak pada Kamis, 8 Oktober 2026. Pengambilan sumpah dan pelantikan akan dikemas berbeda dengan menghadirkan sejumlah tradisi serta unsur adat Aceh.
Prosesi pelantikan dijadwalkan berlangsung mulai pukul 08.00 WIB di Gedung The Breze Harun Square Lhokseumawe.
Pelantikan tersebut menjadi tahapan lanjutan setelah pelaksanaan Pemilihan Keuchik Gampong (Pilchikgam) secara serentak di 46 gampong dalam wilayah Kota Lhokseumawe.
Pemerintah Kota Lhokseumawe tidak hanya menyiapkan pelantikan sebagai agenda administratif pemerintahan, tetapi juga memasukkan unsur adat dan budaya Aceh sebagai bagian dari rangkaian acara.
Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong (DPMG) Kota Lhokseumawe, Safriadi, S.STP., M.S.M., mengatakan persiapan pelantikan terus dimatangkan bersama sejumlah pihak, termasuk Majelis Adat Aceh (MAA), Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), serta para pemangku adat.
“Semua pemangku adat kita undang menghadiri pelantikan ini secara langsung. Di antaranya unsur kemukiman, Keujruen Blang, Tengku Raja Mesjid atau Imum Chik, Panglima Laot, serta berbagai unsur terkait lainnya,”ucap Safriadi saat dikonfirmasi aspost.id, Kamis (1/10/2026).
Menurut dia, pelibatan unsur adat tersebut merupakan bagian dari konsep pelantikan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai adat Aceh dalam momentum pergantian kepemimpinan di tingkat gampong.
Peusijuek Warnai Pelantikan
Salah satu rangkaian yang akan menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut adalah prosesi peusijuek atau tepung tawar.
Prosesi adat itu direncanakan dilakukan sebelum atau dalam rangkaian pengukuhan para keuchik terpilih. MPU Kota Lhokseumawe akan dilibatkan dalam rangkaian doa dan peusijuek oleh Ketua MAA Lhokseumawe bagi para pemimpin gampong yang baru terpilih.
“Bapak Wali Kota bertugas melantik, sedangkan MPU yang mendoakan dan melakukan peusijuek semua pemimpin gampong tersebut. Tentunya rangkaian acara akan berlangsung khidmat dan bernuansa adat Aceh,” ujar Safriadi.
Selain peusijuek, suasana adat juga akan diperkuat melalui penggunaan pakaian khas Aceh oleh peserta undangan.
Para keuchik terpilih akan mengenakan Pakaian Dinas Upacara (PDU) sesuai ketentuan. Sementara para ibu keuchik direncanakan mengenakan dheun bungong sagoe dengan motif khas Lhokseumawe.
Konsep tersebut diharapkan memberikan karakter tersendiri pada pelantikan sekaligus menampilkan identitas budaya lokal di tengah momentum penting pemerintahan gampong.
DPMG dan MAA Matangkan Konsep
Untuk memastikan rangkaian pelantikan berjalan sesuai konsep, DPMG Kota Lhokseumawe sebelumnya telah melakukan koordinasi dengan Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Lhokseumawe, H. Saifuddin Saleh, SH.
Pembahasan antara lain mencakup keterlibatan pemangku adat, penggunaan unsur bahasa Aceh, pelaksanaan peusijuek, serta berbagai tradisi yang dinilai relevan untuk dimasukkan dalam prosesi pelantikan.
Pelibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan upaya menggabungkan agenda pemerintahan dengan nilai-nilai adat yang selama ini hidup dan berkembang di tengah masyarakat Aceh.
Unsur kemukiman, Keujruen Blang, Imum Chik, Panglima Laot, MPU, MAA, serta unsur adat lainnya dijadwalkan hadir dalam kegiatan tersebut.
Bagi pemerintahan gampong, keberadaan lembaga dan pemangku adat tidak terlepas dari kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, keuchik sebagai pemimpin gampong diharapkan mampu menjalankan fungsi pemerintahan sekaligus memahami dan menghormati nilai-nilai adat yang berlaku di wilayahnya.
Momentum Awal 47 Keuchik Baru
Pelantikan 47 keuchik terpilih ini sekaligus menjadi awal bagi para pemimpin gampong untuk menjalankan mandat pemerintahan setelah proses pemilihan berlangsung.
Dengan dikemas dalam nuansa adat Aceh, prosesi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni pengambilan sumpah jabatan, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara pemerintahan gampong, masyarakat, dan lembaga adat.
Pemerintah Kota Lhokseumawe menargetkan seluruh rangkaian pelantikan berlangsung tertib, khidmat, dan lancar, sekaligus mencerminkan identitas budaya Aceh dalam penyelenggaraan pemerintahan di tingkat gampong.
Pelantikan 47 keuchik pada 8 Oktober 2026 pun akan menjadi salah satu agenda penting setelah pelaksanaan Pilchikgam serentak di Kota Lhokseumawe. (asp)

