ASPOST.ID- Tentara Suriah berhasil mengambil alih kendali penuh atas kota strategis Tabqa beserta bandara militernya yang terletak di sepanjang Sungai Eufrat, menandai eskalasi signifikan dalam operasi militer cepat pemerintah di provinsi Raqqa, Suriah utara.
Seiring dengan kemajuan tersebut, pasukan suku Arab yang bersekutu dengan pemerintah Suriah dilaporkan telah memasuki pusat kota Raqqa, memperluas tekanan terhadap Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin kelompok Kurdi.
Menteri Informasi Suriah Hamza al-Mustafa pada Minggu pagi menyatakan bahwa pasukan pemerintah tidak hanya mengamankan Tabqa, tetapi juga Bendungan Eufrat, bendungan terbesar di Suriah dan aset vital nasional, setelah memukul mundur kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK).
Sumber dari pasukan suku yang bersekutu dengan Damaskus mengonfirmasi kepada Al Jazeera bahwa mereka telah menguasai gedung keamanan militer di Raqqa, lingkungan Mashlab, serta kawasan Shuaib. Sumber yang sama menyebutkan bahwa wilayah selatan Hasakah, dari Sur hingga al-Shaddadi, kini telah bersih dari kehadiran SDF.
Di al-Shaddadi, sebagian wilayah kota dilaporkan telah dikuasai setelah elemen SDF mulai mundur ke arah Hasakah. Beberapa anggota suku Arab dikabarkan membelot dari SDF, sementara sisa pasukan SDF menarik diri ke utara. Pos-pos pemeriksaan SDF juga runtuh di pedesaan timur laut al-Shaddadi hingga ke al-Hadadiyah, sepanjang jalur menuju Hasakah.
Seorang sumber keamanan Suriah mengatakan bahwa pasukan SDF di ladang minyak al-Omar dan al-Tanak di pedesaan timur Deir Az Zor juga telah mundur. Tentara Suriah kini menguasai ladang minyak al-Omar, ladang minyak terbesar di negara itu, sebagaimana dilaporkan kantor berita Reuters.
Pada Sabtu sebelumnya, Perusahaan Minyak Suriah mengumumkan bahwa ladang minyak Rasafa dan Sufyan di dekat Deir Hafer telah direbut kembali dan siap diaktifkan guna mendukung pemulihan ekonomi nasional. Kementerian Dalam Negeri Suriah menyatakan operasi penyisiran keamanan masih berlangsung di Deir Hafer setelah wilayah tersebut ditinggalkan pasukan SDF.
Pertempuran juga meluas ke wilayah timur Deir Az Zor, di mana pasukan suku melaporkan bentrokan dengan unit SDF di sejumlah kota, dalam koordinasi langsung dengan tentara Suriah. Mereka mengklaim telah merebut beberapa posisi strategis dan menyerukan anggota suku yang tergabung dalam SDF untuk meletakkan senjata.
Sementara itu, SDF menyatakan bahwa pasukan pemerintah menyerang posisi mereka di beberapa kota di Deir Az Zor, dengan tembakan artileri menghantam wilayah timur Sungai Eufrat. Tentara Suriah mengonfirmasi telah mengirimkan bala bantuan ke provinsi tersebut seiring meluasnya operasi militer di Suriah timur laut.
Administrasi Otonom Suriah Utara dan Timur, yang berafiliasi dengan SDF, menuduh pemerintah Suriah melanggar kesepakatan penarikan. Dalam pernyataannya, mereka menyebut Damaskus telah “menyerang pasukan kami di berbagai front sejak kemarin pagi”, meski pihaknya mengklaim telah menunjukkan itikad baik melalui penarikan dari sejumlah wilayah.
Peneliti senior non-residen Atlantic Council, Omer Ozkizilcik, menilai terdapat “peluang besar” bagi SDF untuk kembali ke meja perundingan setelah kemajuan teritorial cepat pemerintah Suriah dalam 48 jam terakhir. Menurutnya, sambutan positif sebagian masyarakat terhadap pasukan pemerintah menunjukkan kerapuhan dukungan sosial dan demografis SDF.
“Pertanyaannya sekarang adalah apakah SDF akan menerima realitas di lapangan dan menyetujui tuntutan Damaskus untuk berintegrasi ke dalam negara Suriah,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Analis keamanan Rob Geist Pinfold dari King’s College London memperingatkan bahwa Amerika Serikat kemungkinan tidak akan menoleransi konflik berkepanjangan terhadap SDF, mengingat risiko lolosnya sekitar 10.000 tahanan ISIS yang ditahan oleh kelompok tersebut. Ia juga menyebut telah muncul rekaman pembebasan tahanan di wilayah seperti Tabqa, yang berpotensi digunakan SDF sebagai alat tekanan politik.
Di sisi diplomatik, seorang pejabat Administrasi Otonom Suriah Utara dan Timur mengungkapkan bahwa Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa dan Komandan SDF Mazloum Abdi telah melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dan menggambarkan situasi sebagai “positif”. Kontak sebelumnya juga dilakukan antara utusan AS Tom Barrack dan Mazloum Abdi di Erbil, Irak, meski hasilnya belum dipublikasikan.
Pemerintah Suriah turut mengecam dugaan eksekusi tahanan dan warga sipil di Tabqa oleh SDF dan kelompok yang berafiliasi dengan PKK. Dalam pernyataan resmi, Damaskus menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius Konvensi Jenewa dan hukum humaniter internasional.(Sindonews/Aspost)

