ASPOST.ID- Kepedulian terhadap korban banjir di Aceh Utara ditunjukkan oleh jajaran Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Lhokseumawe melalui serangkaian aksi kemanusiaan di Gampong Riseh Tunong, Kecamatan Sawang. Wilayah ini tercatat sebagai salah satu kawasan dengan dampak banjir paling parah di Kabupaten Aceh Utara.
Melalui kegiatan bakti sosial, Lapas Lhokseumawe menggelar trauma healing bagi anak-anak, menyalurkan bantuan sosial, serta membuka layanan pengobatan gratis bagi warga terdampak. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari respons cepat pascabencana yang melanda kawasan itu.
Kepala Lapas Kelas IIA Lhokseumawe, Wahyu Prasetyo, menegaskan bahwa kehadiran pihaknya merupakan wujud tanggung jawab sosial dan kepedulian kemanusiaan institusi negara terhadap masyarakat yang sedang mengalami musibah.
“Kami hadir bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga memberikan dukungan moral dan kemanusiaan bagi para korban banjir. Ini adalah bentuk empati kami terhadap penderitaan masyarakat,” ujar Wahyu, dikonfirmasi aspost.id kemarin.
Program trauma healing dilaksanakan pada Kamis, 29 Januari 2026, dengan fokus utama pada pemulihan kondisi psikologis anak-anak. Beragam aktivitas interaktif, seperti permainan edukatif dan hiburan ringan, dilakukan untuk menciptakan suasana aman dan menyenangkan.
Sejak kegiatan dimulai, anak-anak terlihat aktif berpartisipasi dan mulai menunjukkan ekspresi ceria. Interaksi yang terbangun secara perlahan membantu mereka melepaskan rasa takut dan kecemasan akibat bencana yang dialami.

Menurut Wahyu, pendekatan humanis menjadi kunci dalam kegiatan tersebut agar para korban, khususnya anak-anak, dapat mengekspresikan emosi dan kembali merasa diperhatikan.
“Anak-anak merupakan kelompok paling rentan dalam situasi bencana. Melalui kegiatan ini, kami berharap mereka bisa kembali merasa aman dan tidak kehilangan semangat,” katanya.
Selain pendampingan psikologis, Lapas Lhokseumawe juga menyalurkan bantuan sosial berupa paket kebutuhan pokok kepada warga. Banjir besar yang terjadi pada 26 November 2025 lalu mengakibatkan sebagian warga setempat kehilangan tempat tinggal serta harta benda.
“Kehadiran negara harus dirasakan langsung oleh masyarakat. Dalam kondisi seperti ini, solidaritas dan kepedulian menjadi hal utama untuk membantu warga bangkit,” tambah Wahyu.
Aksi kemanusiaan tersebut turut dilengkapi dengan layanan pengobatan gratis. Warga memanfaatkan layanan ini untuk memeriksakan berbagai keluhan kesehatan, mulai dari demam, infeksi saluran pernapasan, penyakit kulit, hingga gangguan pencernaan yang umum muncul pascabanjir.
Layanan kesehatan ini diberikan untuk memastikan masyarakat tetap memperoleh akses medis di tengah keterbatasan fasilitas akibat bencana.
“Kami berharap layanan kesehatan ini dapat meringankan beban warga. Kesehatan menjadi faktor penting agar masyarakat dapat segera pulih dan kembali menjalani aktivitas,”terang Wahyu. (asp)

