ASPOST.ID- Kapolres Lhokseumawe AKBP Dr. Ahzan menghadiri doa bersama dan buka puasa yang digelar Komite Peralihan Aceh (KPA) Daerah II Wilayah Samudera Pasee dan Partai Aceh di Masjid Syuhada Cot Plieng, Gampong Beunot, Kecamatan Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara, Ahad (15/3/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 17.00 WIB itu berlangsung khidmat dan penuh keakraban. Acara ini menjadi ajang mempererat silaturahmi antara unsur kepolisian, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta jajaran KPA/PA di wilayah Pase.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakapolres Lhokseumawe Kompol Salmidin, Kabag Ops Kompol M. Abdhi Hendriyatna, Kasat Lantas AKP Irfan Firdaus, Kasat Binmas AKP Faisal TB, Camat Syamtalira Bayu Muslem, Kapolsek Syamtalira Bayu AKP Gunanto, serta perwakilan Danramil 05 Syamtalira Bayu Serma Wahyudi.
Dari unsur KPA dan eks Pejuang GAM ikut hadir seperti Ayah Kuari, Panglima KPA Daerah II Wilayah Samudera Pase Mahmudsyah akrab disapa Ayah Mud, Panglima Sagoe Mujahidin Sulaiman akrab Ulee Bara, para tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan anggota KPA/PA dan masyarakat setempat.
Dalam sambutannya, Kapolres Lhokseumawe mengajak masyarakat menjadikan bulan suci Ramadhan sebagai momentum memperkuat persaudaraan, meningkatkan kepedulian sosial, serta mempererat hubungan antar elemen masyarakat.
“Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk saling memaafkan dan memperkuat kebersamaan. Kita semua tentu tidak luput dari kesalahan, karena itu mari kita jadikan bulan penuh berkah ini sebagai momentum memperbaiki diri dan mempererat tali persaudaraan,” ujar Ahzan.

Ia juga berharap nilai-nilai spiritual yang diperoleh selama Ramadhan dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk membangun kehidupan yang lebih harmonis, damai, dan saling menghargai.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan santunan kepada anak yatim oleh Tgk Zainuddin bersama Kapolres Lhokseumawe dan Panglima KPA/PA Wilayah Samudera Pasee sebagai bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat yang membutuhkan.
Masjid Syuhada Cot Plieng yang menjadi lokasi kegiatan memiliki nilai sejarah penting bagi masyarakat Aceh. Masjid ini berdiri sejak masa pendudukan Jepang dan dinamakan Masjid Syuhada untuk mengenang perjuangan ulama muda Aceh, Teungku Abdul Jalil.
Teungku Abdul Jalil dikenal sebagai ulama pejuang yang memimpin perlawanan rakyat Aceh dalam Peristiwa Cot Plieng tahun 1942 melawan tentara Jepang. Ia menolak bekerja sama dengan penjajah dan memimpin perlawanan rakyat meskipun dengan persenjataan terbatas.
Dalam perjuangan tersebut, Teungku Abdul Jalil gugur sebagai syuhada pada November 1942. Untuk mengenang pengorbanan dan semangat perjuangannya, masyarakat kemudian menamai masjid tersebut sebagai Masjid Syuhada Cot Plieng. (red)

