ASPOST.ID- Pemerintah Kota Lhokseumawe bersama Dinas Pangan Aceh meluncurkan program Gerakan Pangan Murah sebagai langkah strategis untuk menekan laju inflasi sekaligus menjaga stabilitas daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi yang dinamis.
Program yang digelar pada Selasa (21/4) di kawasan eks Terminal Bus Lhokseumawe tersebut menjadi bagian dari kebijakan pengendalian inflasi daerah yang berfokus pada stabilitas pasokan dan keterjangkauan harga bahan pokok, khususnya bagi kelompok masyarakat rentan.
Wakil Wali Kota Lhokseumawe, Husaini, S.E., saat membuka acara menegaskan bahwa program ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam menjamin akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar.
“Gerakan ini bukan sekadar intervensi harga, tetapi merupakan langkah konkret dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah serta melindungi daya beli masyarakat,” ujarnya.
Pelaksanaan program melibatkan kolaborasi lintas sektor, termasuk Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian, dan Pangan Kota Lhokseumawe serta Perum Bulog Kantor Wilayah Aceh. Sinergi ini dinilai krusial dalam memastikan distribusi pangan strategis berjalan efektif, efisien, dan berkelanjutan.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah komoditas utama dijual dengan harga di bawah pasar, di antaranya gula pasir 2 kilogram seharga Rp28.000, telur ayam satu papan Rp45.000, beras premium 5 kilogram Rp50.000, serta minyak goreng kemasan 2 liter Rp33.000. Kebijakan ini diharapkan mampu meredam gejolak harga sekaligus mengurangi beban pengeluaran rumah tangga.
Meski demikian, sejumlah analis ekonomi mengingatkan bahwa efektivitas program serupa sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan, perluasan jangkauan distribusi, serta ketepatan sasaran penerima manfaat. Tanpa itu, dampak terhadap pengendalian inflasi berpotensi tidak optimal.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan program secara bijak dan menghindari pembelian berlebihan, guna menjaga distribusi yang merata.
Dalam perspektif jangka panjang, Gerakan Pangan Murah diposisikan sebagai instrumen intervensi jangka pendek. Tantangan utama tetap terletak pada penguatan sektor produksi, efisiensi rantai pasok, serta stabilitas distribusi guna mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan, baik di tingkat daerah maupun nasional.(*)

