ASPOST.ID – Hujan berintensitas tinggi memicu banjir di Kecamatan Blangjerango, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Rabu (7/10/2026) sore. Luapan sungai merendam permukiman warga, persawahan, perkebunan, hingga Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Sekuelen. Sejumlah warga sempat mengungsi ketika air mulai memasuki kawasan tempat tinggal mereka.
Meski air berangsur surut sekitar pukul 19.00 WIB, dampak banjir masih menyisakan persoalan serius. Selain merusak lahan pertanian dan mengotori rumah warga dengan lumpur, bencana tersebut menyebabkan salah satu akses jalan menuju Poskesdes dan permukiman penduduk amblas dihantam derasnya aliran air.
Kondisi ini menjadi perhatian karena kerusakan tidak hanya menyentuh infrastruktur dan mata pencaharian warga, tetapi juga berpotensi mengganggu akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.
Bangunan Poskesdes Sekuelen turut terendam air bercampur lumpur dengan ketinggian mencapai sekitar 60 sentimeter atau setinggi lutut orang dewasa. Perabotan dan peralatan medis di dalam fasilitas tersebut ikut terdampak.
Setelah air surut, warga bersama petugas kesehatan bergotong royong membersihkan sisa lumpur yang menutupi bangunan. Namun, pembersihan tersebut belum menghilangkan seluruh risiko kerusakan di sekitar fasilitas kesehatan itu.
Petugas medis Poskesdes Sekuelen, Diko Aidil, didampingi istrinya, mengatakan luapan air sungai sempat membuat dirinya dan keluarga harus menyelamatkan diri ke rumah warga ketika kondisi banjir meningkat.
Setelah situasi membaik, Diko bersama istrinya kembali ke Poskesdes dengan bantuan masyarakat setempat untuk membersihkan ruangan dan sisa material banjir.
Menurut Diko, persoalan yang kini perlu mendapat perhatian adalah kondisi bagian belakang bangunan Poskesdes. Tanah di sekitar struktur tersebut dilaporkan telah tergerus hingga sebagian jatuh ke aliran sungai, sehingga bagian belakang gedung terancam ambruk.
“Selain bagian belakang gedung yang terancam ambruk, saat ini salah satu akses jalan utama menuju Poskesdes dan permukiman warga juga amblas dihantam banjir,” kata Diko.
Sejumlah warga Desa Sekuelen juga menuturkan bahwa hujan deras dan luapan sungai sempat menimbulkan kecemasan, sehingga beberapa warga memilih mengungsi untuk menghindari risiko banjir yang lebih besar.
Mereka menyebutkan, genangan air dan lumpur turut merusak kawasan persawahan serta perkebunan milik masyarakat. Sejumlah rumah juga terdampak material lumpur yang terbawa arus sungai.
Ancaman belum sepenuhnya berakhir.
Surutnya air memang memungkinkan warga kembali ke rumah dan memulai pembersihan. Namun, kerusakan akses jalan serta kondisi tanah di belakang Poskesdes yang tergerus sungai menunjukkan bahwa dampak banjir masih membutuhkan penanganan lanjutan.
Pemeriksaan kondisi bangunan, penilaian kerusakan jalan, serta upaya pengamanan area yang terancam ambruk menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko lanjutan. Akses menuju fasilitas kesehatan juga perlu mendapat perhatian agar pelayanan kepada masyarakat tidak terhambat.
Hingga berita ini diturunkan belum terdapat data terperinci mengenai total kerugian material, luas lahan pertanian yang terdampak, maupun jumlah warga yang sempat mengungsi. Pendataan dan pemeriksaan lapangan diperlukan untuk memastikan tingkat kerusakan serta kebutuhan penanganan bagi masyarakat Desa Sekuelen.
Banjir yang terjadi di Blangjerango menjadi pengingat bahwa penanganan bencana tidak cukup berhenti ketika air surut. Pemulihan infrastruktur, perlindungan fasilitas kesehatan, dan kepastian akses warga harus menjadi bagian penting dari upaya penanganan pasca banjir. (asp)


