ASPOST.ID – Bencana tidak selalu datang dengan tanda yang panjang. Hujan lebat yang turun dalam hitungan jam dapat mengubah jalan menjadi genangan, menaikkan debit sungai, hingga memicu longsor di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Menghadapi potensi cuaca ekstrem tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Lhokseumawe memilih untuk tidak menunggu situasi darurat terjadi.
Sejak potensi hujan lebat diperkirakan meningkat, kesiapan personel dan peralatan penanggulangan bencana mulai diperiksa. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Lhokseumawe turun langsung memastikan berbagai perlengkapan penyelamatan benar-benar siap digunakan ketika keadaan memerlukan respons cepat.
Pengecekan dilakukan Senin (5/10/2026), mulai dari kondisi fisik peralatan operasional hingga sarana evakuasi, termasuk perahu karet (rubber boat) yang menjadi salah satu peralatan penting ketika banjir membutuhkan proses penyelamatan melalui jalur air.
Bagi petugas kebencanaan, pemeriksaan semacam ini bukan sekadar rutinitas. Dalam kondisi darurat, satu peralatan yang gagal berfungsi dapat berpengaruh terhadap kecepatan evakuasi dan keselamatan warga maupun petugas di lapangan.
Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kota Lhokseumawe, H. Said Bachtiar, ST., MT, menegaskan bahwa seluruh perangkat penanggulangan bencana harus berada dalam kondisi siap pakai.
“Kami tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun saat terjadi keadaan darurat. Oleh karena itu, pengecekan kelaikan seluruh armada operasional dan alat keselamatan, termasuk perahu karet, harus dipastikan dalam kondisi prima,”kata Said Bachtiar kepada aspost.id, Selasa (6/10/2026).
Menurutnya, kesiapan menghadapi bencana tidak hanya ditentukan oleh keberadaan peralatan, tetapi juga oleh kesiapan personel, logistik serta kemampuan bergerak cepat ketika laporan kejadian diterima.
Karena itu, pemeriksaan dilakukan secara terpadu oleh jajaran TRC untuk memastikan response time dapat ditekan semaksimal mungkin. Prinsipnya sederhana: ketika bencana terjadi, petugas tidak lagi sibuk mencari atau mempersiapkan peralatan, melainkan langsung bergerak menuju lokasi.
68 Gampong Jadi Ujung Tombak Informasi
Kesiapsiagaan juga tidak berhenti di lingkungan BPBD. Pemerintah gampong dan kecamatan memiliki peran penting karena merekalah yang berada paling dekat dengan masyarakat ketika tanda-tanda bencana mulai muncul.
BPBD Lhokseumawe meminta para keuchik di 68 gampong serta camat di empat kecamatan untuk memperkuat pemantauan di wilayah masing-masing dan segera melaporkan setiap potensi bencana, terutama banjir maupun tanah longsor.
Langkah tersebut menjadi penting karena kondisi cuaca di satu wilayah tidak selalu sama dengan wilayah lainnya. Hujan deras di kawasan hulu, misalnya, dapat berdampak terhadap wilayah yang berada lebih rendah meskipun intensitas hujan di lokasi tersebut tidak terlalu tinggi.
Masyarakat yang tinggal di kawasan rawan genangan, sekitar aliran sungai maupun wilayah yang memiliki potensi longsor juga diminta meningkatkan kewaspadaan.
BPBD mengingatkan warga agar tidak mengabaikan perubahan cuaca yang berlangsung cepat. Genangan yang awalnya terlihat biasa dapat berkembang menjadi situasi yang membahayakan apabila hujan terus berlangsung dan debit air meningkat.
Di tengah ancaman cuaca ekstrem, kesiapsiagaan pada akhirnya bukan hanya soal seberapa lengkap peralatan yang dimiliki pemerintah. Yang jauh lebih menentukan adalah seberapa cepat informasi diterima, seberapa cepat petugas bergerak, dan seberapa cepat masyarakat mendapatkan pertolongan.
Karena itu, sebelum hujan berubah menjadi bencana, BPBD Lhokseumawe memilih memastikan semuanya telah siap: personel siaga, peralatan diperiksa, armada dipastikan laik, dan jalur komunikasi dengan 68 gampong terus diperkuat.
Sebab dalam penanggulangan bencana, beberapa menit sebelum keadaan memburuk bisa menjadi sangat berharga.(asp)


