ASPOST.ID- Beasiswa bukan sekadar bantuan pendidikan, melainkan peluang yang harus dibuktikan melalui prestasi, integritas, dan kontribusi kepada masyarakat. Pesan tersebut mengemuka dalam Capacity Building Generasi Baru Indonesia (GenBI) 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Lhokseumawe bersama lima perguruan tinggi di Aceh, Ahad (11/10).
Kegiatan yang dipusatkan di gedung serbaguna Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah (UIN SUNA) Lhokseumawe itu dirangkai dengan pelantikan GenBI. Pesertanya berasal dari UIN SUNA Lhokseumawe, Universitas Malikussaleh (Unimal), Politeknik Negeri Lhokseumawe, Universitas Samudra (Unsam), dan UIA.
Kolaborasi lintas kampus tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas mahasiswa, mulai dari kepemimpinan, integritas, literasi ekonomi dan keuangan, hingga kepedulian terhadap persoalan sosial. Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada kemampuan mahasiswa menerapkan pengetahuan itu dalam kehidupan nyata.
Rektor UIN SUNA Lhokseumawe, Prof. Dr. Danial, M.Ag., menegaskan bahwa anggota GenBI harus mampu memberikan manfaat melalui pemikiran, tenaga, dan kontribusi yang berdampak bagi bangsa, agama, serta generasi mendatang.
Menurutnya, dukungan Bank Indonesia terhadap pengembangan kapasitas mahasiswa perlu dimanfaatkan sebagai ruang untuk membangun kompetensi sekaligus memperkuat karakter dan integritas.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Lhokseumawe, Yudo Herlambang, menjelaskan bahwa Capacity Building dirancang untuk meningkatkan keterampilan dan kompetensi mahasiswa penerima program bantuan pendidikan kebanksentralan yang tergabung dalam GenBI.
Pembekalan mencakup pemahaman kebanksentralan, literasi ekonomi dan keuangan, kepemimpinan, serta kepekaan terhadap persoalan sosial dan lingkungan. Kompetensi tersebut diharapkan menjadi modal bagi mahasiswa untuk berperan aktif dalam mendorong perubahan positif di tengah masyarakat.
Tantangan GenBI: Melampaui Seremoni
Keterlibatan lima perguruan tinggi membuka peluang terbentuknya jaringan kolaborasi mahasiswa lintas kampus. Potensi ini dapat dikembangkan menjadi program edukasi keuangan, pemberdayaan masyarakat, hingga kegiatan sosial yang sesuai dengan kebutuhan daerah.
Namun, keberhasilan GenBI tidak cukup diukur dari jumlah peserta pelatihan, pelantikan pengurus, atau kegiatan yang terlaksana. Dampak program perlu terlihat melalui konsistensi aksi, jangkauan penerima manfaat, serta keberlanjutan kontribusi mahasiswa setelah kegiatan berakhir.
Di tengah tantangan ekonomi dan kebutuhan peningkatan literasi keuangan masyarakat, mahasiswa memiliki ruang strategis untuk menjembatani pengetahuan akademik dengan persoalan sehari-hari. Mereka dapat menjadi penggerak edukasi, penyebar informasi yang benar, sekaligus mitra masyarakat dalam membangun kemandirian.
Karena itu, Capacity Building GenBI 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai agenda pengembangan diri, tetapi menjadi titik awal lahirnya gerakan mahasiswa yang terukur dan berkelanjutan.
Pesan utamanya jelas: kesempatan memperoleh dukungan pendidikan harus berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial. GenBI akan semakin bermakna ketika kapasitas yang dibangun di ruang pelatihan benar-benar hadir sebagai manfaat yang dirasakan masyarakat.(asp)



