ASPOST.ID- Hujan belum juga reda ketika sejumlah pemuda mengangkat dus besar dan mulai berjalan menyusuri lorong sempit. Tanah yang basah berubah menjadi lumpur. Jalan yang licin membuat langkah mereka harus diperlambat.
Di dalam dus itu bukan barang dagangan. Ada kursi roda.
Malam itu, kursi roda tersebut harus tiba di rumah seorang warga yang selama ini hanya bisa berbaring dan bergantung kepada orang lain untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Kendaraan tak dapat menjangkau lokasi. Para relawan pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Bagi mereka, hujan, becek, gelap dan sempitnya akses bukan alasan untuk menghentikan langkah.
Itulah gambaran perjalanan Relawan Kemanusiaan KPA/PA Wilayah Kuta Pase ketika menyambangi warga yang membutuhkan bantuan di Kota Lhokseumawe dalam beberapa hari terakhir.
Mereka bergerak dari satu rumah ke rumah lainnya, menyisir empat kecamatan, Banda Sakti, Muara Dua, Muara Satu dan Blang Mangat.
Ada kursi roda yang harus dirakit langsung di dalam rumah. Ada paket sembako yang harus dipikul melewati lorong kayu pada malam hari. Ada pula warga penyandang disabilitas yang untuk pertama kalinya setelah sekian lama mendapatkan alat bantu yang dapat membuatnya lebih leluasa bergerak.
Di sebuah rumah papan sederhana, seorang warga lanjut usia terlihat terbaring lemah di atas tikar.
Para relawan masuk membawa kursi roda yang masih dalam keadaan terlipat. Mereka kemudian merakitnya perlahan di ruang sederhana tersebut.
Setelah kursi roda siap, dua orang relawan membantu memindahkan sang warga.
Perlahan tubuhnya terangkat.
Beberapa saat kemudian ia telah duduk di kursi roda.
Senyum muncul.
Keluarga yang berada di sekelilingnya turut larut dalam suasana haru. Tidak ada seremoni. Tidak ada panggung. Hanya sebuah kursi roda, sebuah keluarga dan rasa lega karena salah satu anggota keluarga mereka kini memiliki kesempatan untuk bergerak lebih mandiri.
Adegan serupa terjadi di sejumlah titik lainnya.
Di kawasan pesisir, paket sembako dibawa melewati lorong sempit yang diterangi lampu seadanya. Di rumah lainnya, seorang pemuda penyandang disabilitas menerima kursi roda yang diharapkan dapat membantunya kembali menjalani aktivitas dengan lebih leluasa.
Bagi relawan, bantuan itu mungkin terlihat sederhana.
Namun bagi penerima, maknanya bisa sangat besar.
Sebab ketika kemampuan bergerak terbatas, sebuah kursi roda bukan sekadar rangka besi dengan empat roda. Ia bisa menjadi alat untuk kembali keluar rumah, menemui tetangga, berkumpul bersama keluarga dan menjalani kehidupan dengan sedikit lebih mandiri.
Dari Rumah ke Rumah
Kegiatan sosial tersebut difasilitasi Mawardi selaku staf khusus Mualem dengan melibatkan jajaran Ketua Partai Aceh tingkat kecamatan, perwakilan KPA Wilayah Kuta Pase serta berbagai unsur organisasi dan relawan yang tergabung dalam Relawan Kemanusiaan KPA/PA Kuta Pase.
Selama beberapa hari, mereka menyalurkan puluhan kursi roda lipat dan puluhan paket sembako kepada masyarakat yang membutuhkan.
Bantuan tersebut merupakan amanah dari Ketua Umum Partai Aceh, H. Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem.
Juru Bicara KPA Wilayah Kuta Pase, Halim Abe, mengatakan kegiatan tersebut tidak dirancang sebagai kegiatan seremonial.
Menurutnya, kepedulian terhadap masyarakat harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan dilakukan secara berkelanjutan.
“Ini bukan kegiatan sekali jadi. Kepedulian seperti ini sudah menjadi bagian dari kegiatan rutin kami. Ketua PA kecamatan, perwakilan KPA wilayah, adik-adik dari berbagai unsur organisasi dan relawan, semuanya bergabung dalam Relawan Kemanusiaan untuk bergerak bersama,”kata Halim, kepada aspost.id, Rabu (27/8).
Mereka sengaja menyisir sejumlah wilayah selama beberapa hari agar bantuan tidak hanya berhenti pada tempat-tempat yang mudah dijangkau.
Sebab, menurut Halim, warga yang paling membutuhkan bantuan tidak selalu tinggal di tempat yang mudah ditemukan.
Sebagian berada di balik lorong sempit, di rumah panggung, di kawasan pesisir maupun di jalan yang sulit dilalui kendaraan.
Kemanusiaan di Atas Perbedaan
Ada satu hal yang ingin ditegaskan Halim: bantuan tersebut tidak melihat pilihan politik masyarakat.
“Selama dia adalah warga kita dan membutuhkan bantuan, maka kami berkewajiban untuk hadir dan membantu semampu kami. Kami tidak melihat siapa yang dia pilih, dari kelompok mana, atau apa latar belakangnya. Kemanusiaan harus berada di atas semua perbedaan,” tegasnya.
Ia menyebut semangat tersebut sejalan dengan pesan Ketua Umum Partai Aceh, Muzakir Manaf, agar seluruh jajaran KPA dan Partai Aceh terus menjaga kedekatan dengan masyarakat.
Bagi Halim, politik memiliki ruangnya sendiri. Begitu pula dengan kemanusiaan.
Ketika seseorang membutuhkan pertolongan, yang pertama harus dilihat adalah kebutuhan manusianya.
Yang Dibawa Pulang Bukan Hanya Bantuan
Pada akhirnya, perjalanan para relawan itu bukan hanya tentang berapa banyak kursi roda yang dibagikan atau berapa paket sembako yang disalurkan.
Ada cerita lain yang mereka bawa pulang dari setiap rumah.
Tentang orang tua yang kembali bisa duduk dengan lebih nyaman.
Tentang keluarga yang sedikit lebih lega.
Tentang seorang penyandang disabilitas yang kembali tersenyum.
Dan tentang warga yang mungkin untuk beberapa waktu merasa bahwa mereka tidak sedang menghadapi kesulitan seorang diri.
“Mungkin bagi sebagian orang, kursi roda hanyalah sebuah benda. Tetapi bagi saudara-saudara kita yang selama bertahun-tahun memiliki keterbatasan untuk bergerak, kursi roda bisa menjadi kaki baru dan membuka kembali ruang untuk menjalani hidup dengan lebih mandiri,” kata Halim.
Begitu pula sembako yang diberikan.
“Mungkin nilainya tidak seberapa. Tetapi kami ingin menyampaikan satu pesan sederhana: warga yang sedang menghadapi kesulitan tidak boleh merasa sendirian,” lanjutnya.
Kegiatan sosial itu, kata Halim, akan terus dilakukan selama masih ada kemampuan untuk bergerak dan membantu.
“Selama kami masih mampu bergerak dan berbuat, kami akan berusaha hadir. Siang atau malam, hujan atau panas, di jalan yang mudah maupun di lorong yang sulit dijangkau. Karena kami lahir dari rakyat, tumbuh bersama rakyat, dan pengabdian kami harus kembali kepada rakyat,” tutupnya.
Malam terus berjalan. Hujan mungkin belum berhenti.
Namun di salah satu sudut Kota Lhokseumawe, sebuah kursi roda telah sampai ke rumah yang dituju.
Dan bagi seseorang yang sebelumnya hanya bisa menunggu dalam keterbatasan, roda-roda kecil itu mungkin sedang membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik lagi kedepannya. (asp)


