ASPOST.ID- Piasan Pasai 2026 tidak hanya menghadirkan kemeriahan budaya dalam rangka memperingati Milad ke-800 Samudera Pasai. Di balik panggung sejarah dan tradisi tersebut, geliat ekonomi masyarakat mulai terlihat nyata pasca bencana banjir akhir November 2025 lalu.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah stan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) binaan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) di Pelataran Kantor Bupati Aceh Utara, Landing, Kecamatan Lhoksukon.
Sejak pagi hingga sore, stan tersebut tak pernah sepi pengunjung. Beragam produk UMKM lokal, terutama tas dengan motif khas Aceh, menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat yang datang ke lokasi perhelatan Piasan Pasai 2026.
Sekretaris PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), Syahrul Kamal, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dan panitia penyelenggara Milad ke-800 Samudera Pasai.
Menurutnya, momentum tersebut bukan sekadar perayaan sejarah, tetapi juga dapat menjadi awal kebangkitan Aceh Utara setelah masyarakat menghadapi bencana banjir besar pada akhir November 2025.
“Piasan Pasai ini menjadi momentum yang sangat baik untuk membangkitkan kembali semangat masyarakat dan perekonomian Aceh Utara pasca bencana,” ujar Syahrul Kamal.
Antusiasme masyarakat terlihat jelas di stan UMKM binaan PIM. Pengunjung tampak antusias menyusuri berbagai produk kerajinan tangan, memilih motif, mencermati model, hingga membeli produk yang dianggap menarik.
Produk Putroena Souvenir menjadi salah satu primadona. Berbagai jenis tas dipajang, mulai dari tas kerucut, tas kerucut motif bulat, pouch, tas sabet, tas keupula, dompet, hingga tas model dior dalam berbagai ukuran.
Harga yang ditawarkan pun beragam, mulai dari Rp60 ribu hingga Rp850 ribu per unit, tergantung jenis, ukuran, bahan, motif, dan tingkat kerumitan pengerjaan.
Namun, kekuatan stan PIM tidak hanya terletak pada produk kerajinan.
Pengunjung juga dapat menemukan beragam produk pangan dan kebutuhan rumah tangga hasil produksi UMKM lokal. Mulai dari Bhoi, Dodol Ulayya, Sambal Asam Sunti, Rempah Aceh, Bubuk Kari U Neulhe, Keumamah Ummi, Asam Sunti Kering, Keripik Kentang, Bawang Goreng, Rujak Jamboe, kopi, hingga berbagai produk lainnya.
Ada pula produk mukena dan Pupuk Nitrea produksi PT PIM yang turut dipajang dalam stan tersebut.
Bahkan pada Jumat dan Sabtu (11-12/9/2026) sore, kepadatan pengunjung justru semakin terasa menjelang petang. Cuaca yang cukup panas tidak menyurutkan minat masyarakat untuk datang dan berbelanja.
Perwakilan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PIM, Devi Wahyuni, mengatakan tingginya antusiasme masyarakat telah terlihat sejak hari pertama pameran.
“Alhamdulillah, sejak dimulainya event ini memang sudah terlihat antusias masyarakat untuk berkunjung ke stan PT PIM lumayan tinggi, terutama membeli produk tas bermotif khas Aceh,”ucap Devi.
Menurut Devi, tingginya minat masyarakat tersebut berdampak langsung terhadap omzet pelaku UMKM.
Penjualan tas bermotif Aceh di stan tersebut mampu mencapai sekitar Rp4 juta hingga Rp4,5 juta per hari.
“Antusiasme pembeli tersebut terlihat dari hasil penjualan harian. Penjualan tas dalam sehari bisa mencapai sekitar Rp4 juta hingga Rp4,5 juta,”katanya.
Angka tersebut menjadi gambaran bahwa produk lokal Aceh memiliki pasar yang kuat ketika diberikan ruang promosi dan dipertemukan langsung dengan konsumen.
Di stan tersebut, Devi bersama Vira turut melayani pengunjung. Keduanya dengan sabar membantu calon pembeli memilih model, membuka dan memperlihatkan detail tas, mencocokkan motif, sekaligus menjelaskan harga dan jenis produk.
Bagi Devi, setiap produk yang dipasarkan bukan sekadar barang dagangan.
“Produk UMKM lokal bukan sekadar menjadi pelengkap pameran. Setiap tas bermotif Aceh, makanan tradisional, rempah, kopi, dan produk lainnya menyimpan kreativitas pelaku usaha yang terus berupaya mempertahankan produk lokal sekaligus menjangkau pasar yang lebih luas,”terangnya.
Ia menilai Piasan Pasai menjadi ruang penting bagi pelaku UMKM untuk membuktikan bahwa produk daerah mampu bersaing dan menarik perhatian masyarakat dalam sebuah perhelatan berskala besar.
“Stan UMKM binaan PIM menjadi salah satu ruang perjumpaan antara produk lokal dan masyarakat. Piasan Pasai ini menjadi kesempatan bagi produk-produk UMKM lokal untuk menunjukkan bahwa karya dari daerah mampu menjadi daya tarik di tengah perhelatan besar,” pungkasnya.
Piasan Pasai 2026 akhirnya tidak hanya meninggalkan kemeriahan panggung budaya. Di antara kain bermotif Aceh, tas hasil kerajinan tangan, aroma rempah dan kopi, serta transaksi yang terus bergerak, terselip pesan penting: kebangkitan Aceh Utara juga dapat dimulai dari UMKM, dari karya masyarakat, dan dari keberanian menghidupkan kembali ekonomi lokal.
Di tengah perayaan 800 tahun jejak Samudera Pasai, produk-produk lokal itu seolah membawa satu pesan dari bumi Pasai, sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga dapat menjadi energi untuk membangun masa depan. (adv)


