ASPOST.ID- Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi melantik Dr. Abdul Gani Haitamy, S.H., M.H. sebagai Ketua STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe periode 2026–2030. Di bawah kepemimpinan baru ini, kampus kesehatan tersebut mulai membidik agenda transformasi besar memperkuat infrastruktur, mengembangkan program studi, hingga mengubah status kelembagaan menjadi Institut Muhammadiyah Lhokseumawe.
Pelantikan Abdul Gani dilakukan oleh Fitri Arofiati, S.Kep., Ns., MAN., Ph.D., Anggota Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, di Kampus STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe, Blang Panyang, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Senin (31/8/2026).
Momentum tersebut bukan sekadar pergantian kepemimpinan. Pada kesempatan yang sama juga dilakukan pengukuhan anggota Badan Pembina Harian (BPH) serta pembukaan Masa Ta’aruf Mahasiswa Baru (Mastamaru) STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe.
Kepemimpinan baru pun langsung membawa target ambisius untuk membawa kampus tersebut memasuki fase pertumbuhan yang lebih besar.
Bidik Transformasi dari STIKes Menjadi Institut
Di hadapan civitas akademika dan para tamu undangan, Abdul Gani Haitamy memaparkan arah strategis kepemimpinannya untuk empat tahun mendatang.
Salah satu agenda utama yang akan didorong adalah pengembangan kawasan kampus untuk menjawab kebutuhan fasilitas pendidikan yang terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah mahasiswa.
Saat ini, STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe memiliki sekitar 365 mahasiswa. Jumlah tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi institusi untuk memperkuat kapasitas layanan pendidikan.
“Kita masih memiliki lahan kosong di belakang kampus. Ke depan, kita akan membangun gedung baru untuk memenuhi kebutuhan fasilitas mahasiswa dalam proses belajar mengajar,” ujar Abdul Gani.
Pengembangan infrastruktur tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas proses pendidikan sekaligus memberikan ruang yang lebih representatif bagi aktivitas akademik mahasiswa.
Namun, pembangunan fisik bukan satu-satunya agenda yang dibawa.
Abdul Gani menegaskan, kepemimpinannya juga akan mengarahkan STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe menuju transformasi kelembagaan yang lebih besar.
“Kita akan berupaya melakukan perubahan bentuk dari STIKes menjadi Institut Muhammadiyah Lhokseumawe, sekaligus menambah program studi baru yang kompeten dan diminati masyarakat,” katanya.
Transformasi menjadi institut diharapkan membuka ruang pengembangan keilmuan yang lebih luas serta menghadirkan program-program studi baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan dunia pendidikan.
Muhammadiyah Tekankan Kolaborasi dan Pengawasan
Sementara itu, Fitri Arofiati menegaskan bahwa pengembangan perguruan tinggi Muhammadiyah membutuhkan kepemimpinan yang kuat, kolaboratif dan memiliki sistem pengawasan yang baik.
Menurutnya, Ketua perguruan tinggi tidak bekerja sendiri dalam menjalankan agenda pengembangan institusi. Badan Pembina Harian memiliki peran strategis untuk mendampingi sekaligus memastikan seluruh program berjalan sesuai dengan amanah dan nilai-nilai Muhammadiyah.
“BPH memiliki peran penting dalam mendampingi kepemimpinan perguruan tinggi agar seluruh program dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan organisasi,” katanya.
Kolaborasi antara pimpinan kampus, BPH, civitas akademika dan seluruh elemen Muhammadiyah dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun perguruan tinggi yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Pesan untuk Mahasiswa Aceh: Jangan Minder, Bermimpilah Besar
Pesan kuat juga disampaikan Fitri kepada mahasiswa, khususnya generasi muda Aceh.
Ia mengajak mahasiswa STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe untuk tidak pernah merasa rendah diri hanya karena berada jauh dari pusat pemerintahan dan pusat pertumbuhan nasional.
Menurutnya, Aceh memiliki sejarah panjang dalam melahirkan tokoh, pemikir dan ilmuwan yang memberikan kontribusi besar bagi bangsa.
“Jangan pernah merendah diri hanya karena kalian berada di Aceh. Justru dari Aceh telah muncul pemikir dan ilmuwan yang luar biasa,” pesannya.
Fitri menekankan bahwa masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda yang memiliki keberanian untuk bermimpi besar.
Namun, mimpi besar tersebut harus dibarengi dengan kerja keras, disiplin dan kesungguhan dalam membangun kompetensi.
Mahasiswa, katanya, harus menjadikan kampus bukan hanya sebagai tempat memperoleh ijazah, tetapi sebagai ruang untuk membentuk karakter, memperkuat kapasitas dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia.
Mastamaru Dimulai, Mahasiswa Baru Masuki Dunia Kampus
Pelantikan pimpinan STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe juga dirangkaikan dengan pembukaan Mastamaru bagi mahasiswa baru.
Wakil Wali Kota Lhokseumawe, Husaini, turut hadir dan secara simbolis melepas balon ke udara sebagai tanda dimulainya kegiatan tersebut.
Sebelumnya, dilakukan pemasangan selempang mahasiswa baru dan pemakaian almamater secara simbolis oleh Kapolres Lhokseumawe AKBP Dr. Ahzan bersama Fitri Arofiati.
Momentum tersebut menjadi awal perjalanan akademik bagi mahasiswa baru yang akan menempuh pendidikan di STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe.
Turut hadir Anggota DPRK Lhokseumawe Farhan, jajaran pengurus Muhammadiyah Provinsi Aceh, pengurus Muhammadiyah Kota Lhokseumawe, Kapolsek Muara Satu Iptu Abdul Karim, serta sejumlah tokoh dan tamu undangan lainnya.
Dengan kepemimpinan baru dan agenda transformasi yang mulai dicanangkan, STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe kini memasuki babak baru.
Tantangannya tidak hanya membangun gedung dan memperluas fasilitas pendidikan, tetapi juga menyiapkan institusi yang mampu menjawab kebutuhan masa depan, memperluas bidang keilmuan serta melahirkan sumber daya manusia unggul.
Dari Lhokseumawe, langkah menuju transformasi itu kini dimulai.
STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe bersiap memperluas kapasitas, memperkuat kualitas dan membidik perubahan besar menuju Institut Muhammadiyah Lhokseumawe.(asp)


