ASPOST.ID- Puluhan pasukan berseragam loreng dengan baret merah dan hijau ikut mendampingi konferensi pers terkait kasus insiden caleg DPRK Aceh Utara di Simpang Keuramat, Aceh Utara, baru-baru ini.

Konferensi pers yang digelar jajaran Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Kuta Pase dan DPW Partai Aceh Kota Lhokseumawe serta Aceh Utara berlangsung di kawasan Hotel Lido Graha Lhokseumawe, Jum’at (19/1/2024.

Kasus insiden pemukulan yang dialami oleh seorang caleg DPRK Aceh Utara, dari PKS di Kecamatan Simpang Keuramat, Aceh Utara, semestinya dapat diselesaikan secara damai.

Namun, pihak korban dan keluarga korban seperti menutup pintu untuk berdamai dengan pelaku yakni Dahlan Ishak akrab disapa Maklan kader Partai Aceh.

“Kita telah melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan kasus ini secara damai dan lebih bermartabat, sesuai keinginan dari aparatur gampong dan pihak kepolisian, tapi korban tetap tidak mau berdamai,”ucap Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Kuta Pase, Halim Abee saat konferensi pers di kawasan Hotel Lido Graha Lhokseumawe, pada Jumat, 19 Januari 2024.

Ia mengatakan, upaya damai yang dilakukan saat ini belum berhasil dan pihaknya siap menghadapi segala kemungkinan terjadi.

“Intinya, kita meminta semua pihak jangan memperkeruh pesta demokrasi dengan kejadian pemukulan di Simpang Keuramat. Perlu diingat kasus pemukulan itu terjadi karena ada pemicunya,”kata Halim.

Ia merasa khawatir jika ada pihak-pihak yang akan memicu ketegangan dan menganggu keamanan dalam pemilihan legislatif 2024. “Kami tidak menginginkan saudara kami juga didiskriminasi serta dipersekusi dalam bentuk pelanggaran pidana umum. Kasus itu berawal saat memasang alat peraga kampanye oleh Caleg PKS,”ucapnya.

Menurut Halim, upaya damai telah dilakukan dengan melakukan pendekatan dan lainnya, tapi sepertinya mereka ada kekuatan lain untuk membackup supaya jangan berdamai dan apa tujuannya pihaknya tidak tau.

“Kita tidak mengharapkan apa-apa lagi sama PKS, karena beberapa upaya telah kita lakukan. Kita juga meminta jangan ada upaya-upaya untuk mengbackup seperti pimpinan PKS di pusat, karena itu dapat memperkeruh suasana pemilu di Aceh,”terangnya.

“Kalau kita main bola dilapangan becek, maka masalah segol dan menyegol itu biasa terjadi. Kalau tidak siap tidak usah main kan seperti itu,”ucapnya.

Selain itu, lanjut Halim, pihaknya tidak akan menempuh upaya hukum apapun dalam kasus tersebut. “Sebenarnya kondisi seperti ini sudah terjadi pada pemilihan umum sebelumnya. Ketika itu banyak kader Partai Aceh sampai dibunuh, ditembak, hingga pembakaran mobil,”ungkapnya, seperti dilansir harianrakyataceh.

Untuk diketahui, kasus pemukulan itu berawal saat Denny Safrizal akrab disapa Tgk Abang Caleg DPRK Aceh Utara menaikkan spanduk dan umbul-umbul partai di pagar Mesjid Babussalam Simpang Keuramat pada Sabtu (13/1/2024) sekitar pukul 14.30 WIB.

Namun, Ketua Panitia Pembangunan Mesjid meminta agar umbul-umbul parta di copot karena hal tersebut tidak dibolehkan oleh aturan. Namun, malah sang caleg ngotot menentang dan mengeluarkan kata-kata “coba turunkan mau saya lihat siapa yang berani” cetus Teungku Abang.

Tidak ingin ribut mulut melebar, Mak Lan (Panitia Pembangunan Mesjid) yang juga kader Partai Aceh keluar dari warung kopi dengan niat untuk beranjak agar keributan mereda.

Ketika Mak Lan keluar dari kedai kopi sang caleg ikut keluar mengikutinya, dan menurut keterangan saksi di TKP Teungku Abang mengikuti Mak Lan dari belakang sambil memegang sebuah benda tumpul ditangannya.

Karena ingin membela diri Mak Lan juga meraih sebulah golok dari mobilnya sambil berkata “Apa mau bertarung sama saya” tanya mak Lan.

Saksi yang melihat peristiwa itupun mencoba melerai peristiwa tersebut dengan bermacam seruan. Bahkan pemilik warung kopi sudah mengingatkan Teungku Abang untuk beranjak dari tempat tersebut.

Baku-hantampun tidak terjadi saat itu, Mak Lan kembali duduk di warung sambil minum kopi.

Suasana sudah agak mereda, namun cek-cok mulut terus terjadi.

Selang beberapa saat, Geuchik Keude Simpang Empat Kecamatan Simpang Keuramat Aceh Utara Izwar Fuadi melintas di depan warung kopi tersebut. Lalu di sapa oleh Mak Lan sembari mempertanyakan apakah boleh memasang umbul-umbul partai di pekarangan mesjid.

Geuchik pun menanggapi pertanyaan warganya yang juga Ketua Panitia Pembangunan Mesjid dengan menyuruh sang caleg untuk menurunkan umbul-umbul partai yang dipasang di pagar mesjid itu.

Seruan geuchik ditanggapi dengan nada suara yang tidak bersahabat sehingga terjadilah adu argumen sampai-sampai Denny Safrizal mengajak duel dengan Geuchik.

Mendengar ajakan duel dari Caleg PKS itu, sekira pukul 14.25 WIB, Mak Lan yang sudah hilang kesabaran langsung meninju kearah mukanya sekali dengan tangan kirinya.

Menurut keterangan para saksi di warung kopi tersebut Denny Safrizal Caleg PKS tersebut sengaja menyulutkan emosi Mak Lan dan Geuchik untuk membuat manuver politiknya. Seolah-olah caleg lain tidak diterima di tempat tersebut. (ra/asp)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version