ASPOST.ID – Hampir tujuh bulan pasca banjir yang menerjang kawasan pedalaman Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, penderitaan warga belum juga berakhir. Rusaknya akses jalan dan jembatan membuat masyarakat di Gampong Reseh Tunong serta sejumlah gampong lainnya terpaksa mempertaruhkan keselamatan setiap hari hanya untuk menjalani aktivitas rutin.
Hingga Selasa (28/7/2026), jalur penghubung utama menuju permukiman warga belum sepenuhnya diperbaiki. Akibatnya, masyarakat harus menyeberangi aliran sungai menggunakan karung berisi pasir yang disusun sebagai pijakan darurat karena jembatan yang sebelumnya menjadi akses utama tidak lagi dapat dilalui.
Pemandangan yang mengundang keprihatinan tampak setiap hari. Seorang ayah terlihat menggendong anaknya di punggung sambil mengangkat sepeda melintasi derasnya arus sungai demi mengantar sang buah hati ke sekolah. Di lokasi yang sama, warga lainnya saling membantu menyeberangkan lansia, anak-anak, hingga barang kebutuhan pokok agar dapat melewati sungai dengan selamat.
Kerusakan infrastruktur akibat banjir tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi warga. Akses menuju kebun, pasar, sekolah, hingga fasilitas kesehatan menjadi sangat sulit dijangkau. Ketika hujan kembali turun dan debit air meningkat, jalur darurat tersebut tidak dapat digunakan sehingga masyarakat berisiko kembali terisolasi.
Kondisi memilukan itu kini menjadi sorotan publik setelah video dan foto perjuangan warga pedalaman Aceh Utara beredar luas di berbagai platform media sosial. Unggahan yang dibagikan oleh warga Kecamatan Sawang menuai ribuan tanggapan dari warganet yang mempertanyakan lambatnya pemulihan infrastruktur di wilayah terdampak banjir.
Masyarakat berharap pemerintah daerah, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat dapat segera mengambil langkah konkret dengan membangun kembali jembatan yang rusak serta mempercepat perbaikan jalan penghubung menuju Gampong Reseh Tunong dan gampong lainnya. Mereka menilai pemulihan infrastruktur merupakan kebutuhan mendesak agar aktivitas masyarakat, pelayanan pendidikan, kesehatan, dan roda perekonomian desa dapat kembali berjalan normal.
Peristiwa ini menjadi potret nyata bahwa masih banyak masyarakat di wilayah pedalaman yang membutuhkan perhatian serius pascabencana. Bagi warga Reseh Tunong, membangun kembali jembatan bukan sekadar menghadirkan infrastruktur, tetapi juga mengembalikan harapan, keselamatan, dan masa depan masyarakat yang hingga kini masih berjuang melawan keterisolasian.
Namun, itu semua sangat tergantung kepada pemerintah pusat yang memiliki dana besar untuk penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca banjir pada akhir Desember 2025 lalu.(asp)


