ASPOST.ID- Peringatan Milad ke-800 Samudera Pasai di Kabupaten Aceh Utara tak hanya menghadirkan rangkaian kegiatan untuk mengenang kejayaan sejarah masa lalu. Di tengah kemeriahan Piasan Pasai, pemerintah daerah juga menghadirkan pelayanan publik yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Salah satunya melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Aceh Utara yang membuka layanan Identitas Kependudukan Digital (IKD) di area kegiatan Piasan Pasai.
Piasan Pasai yang berlangsung 7–13 September 2026 di Pelataran Kantor Bupati Aceh Utara, Landeng, Lhoksukon,dimanfaatkan sebagai momentum untuk mendekatkan layanan administrasi kependudukan kepada masyarakat sekaligus memperkenalkan pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan identitas penduduk.
Kepala Disdukcapil Aceh Utara, Safrizal, S.STP., M.A.P., mengatakan layanan IKD merupakan bagian dari transformasi administrasi kependudukan yang terus dikembangkan pemerintah untuk memberikan akses pelayanan yang lebih praktis dan adaptif bagi masyarakat.
“IKD merupakan identitas kependudukan dalam format digital yang dapat diakses melalui aplikasi resmi pada telepon pintar. Di dalamnya tersedia informasi kependudukan, termasuk data KTP-el serta sejumlah dokumen dan informasi administrasi kependudukan lainnya,”kata Safrizal kepada aspost.id, Kamis (10/9).
Ia menyebutkan, dengan IKD ini masyarakat tidak harus selalu bergantung pada dokumen fisik ketika membutuhkan informasi identitas kependudukan. Sistem digital tersebut dapat memuat biodata penduduk, Kartu Keluarga (KK), riwayat kepemilikan dokumen, hingga informasi golongan darah.
“Lebih dari sekadar menyimpan dokumen secara digital, IKD juga diarahkan untuk mendukung kemudahan masyarakat dalam mengakses berbagai layanan administrasi kependudukan secara elektronik,”ucapnya.
Piasan Pasai Jadi Ruang Edukasi Digital
Pemilihan lokasi layanan IKD di tengah pelaksanaan Piasan Pasai dinilai memiliki nilai strategis. Selain memberikan pelayanan langsung, keberadaan stand Disdukcapil menjadi sarana edukasi agar masyarakat semakin memahami manfaat dan penggunaan identitas digital.
Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa momentum peringatan 800 tahun Samudera Pasai dapat berjalan beriringan dengan agenda modernisasi pelayanan publik.
Di satu sisi, masyarakat diajak mengenang Samudera Pasai sebagai bagian penting dari sejarah peradaban Islam dan perdagangan di kawasan Asia Tenggara. Di sisi lain, masyarakat diperkenalkan dengan wajah pelayanan pemerintahan yang semakin terdigitalisasi.
663.640 Penduduk Aceh Utara, Kepemilikan KTP Capai 97,53 Persen
Transformasi digital administrasi kependudukan tersebut juga ditopang oleh capaian kepemilikan dokumen kependudukan masyarakat Aceh Utara yang relatif tinggi.
Berdasarkan Data Konsolidasi Bersih (DKB) Semester I Tahun 2026, jumlah penduduk Kabupaten Aceh Utara tercatat sebanyak 663.640 jiwa.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 455.343 jiwa merupakan penduduk yang wajib memiliki KTP. Sementara penduduk yang telah memiliki KTP mencapai 444.097 jiwa, atau sekitar 97,53 persen.
Untuk kepemilikan akta kelahiran, tercatat sebanyak 209.881 jiwa atau sekitar 94,77 persen dari penduduk usia 0–18 tahun telah memiliki akta kelahiran.
Sementara pencatatan akta kematian tercatat sebanyak 17.374 jiwa.
Capaian tersebut menjadi modal penting dalam mendorong tahap berikutnya, yakni memperluas pemanfaatan layanan administrasi kependudukan berbasis digital.
Kehadiran layanan IKD di Piasan Pasai menjadi salah satu upaya Disdukcapil Aceh Utara untuk membawa pelayanan lebih dekat kepada masyarakat. Warga tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga dapat mengenal secara langsung bagaimana identitas kependudukan digital dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah perubahan pola pelayanan publik yang semakin mengandalkan teknologi, digitalisasi administrasi kependudukan menjadi bagian penting untuk menciptakan layanan yang lebih cepat, praktis, aman, dan mudah diakses.
Piasan Pasai akhirnya tidak hanya menjadi panggung untuk merawat ingatan tentang kejayaan Samudera Pasai. Perhelatan tersebut juga menjadi ruang perjumpaan antara sejarah, masyarakat, dan wajah baru pelayanan publik yang semakin digital.
Dari kejayaan masa lalu, Aceh Utara menatap masa depan melalui pelayanan publik yang semakin dekat, modern, dan berbasis teknologi.(asp)

