ASPOST.ID – Delapan abad perjalanan Samudera Pasai tidak semestinya berhenti sebagai catatan sejarah atau romantisme kejayaan masa lalu. Momentum 800 tahun justru harus menjadi titik balik bagi generasi masa kini untuk melahirkan karya, prestasi dan peradaban baru yang membanggakan.
Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh, Zulfadli, yang akrab disapa Abang Samalanga, saat memberikan sambutan pada peringatan Milad 800 Tahun Samudera Pasai di Aceh Utara, Senin (7/9) malam.
Di hadapan masyarakat dan generasi muda Pasai, Zulfadli menegaskan bahwa sejarah tidak cukup hanya untuk dikenang. Kejayaan Samudera Pasai harus mampu menjadi energi untuk membangun masa depan Aceh di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
“800 tahun Pasai bukan sekadar angka. 800 tahun Pasai adalah jejak sejarah, identitas, marwah, dan persaudaraan yang diwariskan dari generasi ke generasi,” kata Zulfadli.
Menurutnya, Samudera Pasai bukan sekadar nama yang tercatat dalam lembaran sejarah Nusantara. Pasai merupakan bagian penting dari identitas masyarakat yang hingga kini tercermin melalui adat, budaya, nilai persaudaraan dan karakter masyarakatnya.
“Di tanah Pasai ini kita menemukan sejarah. Di tanah Pasai kita mengenal adat dan budaya. Dan di tanah Pasai pula kita belajar bahwa persaudaraan adalah kekuatan yang tidak hilang ditelan zaman,”katanya.
Jangan Berhenti pada Kebanggaan Sejarah
Zulfadli mengingatkan agar peringatan 800 tahun Samudera Pasai tidak berhenti pada seremoni dan kebanggaan terhadap masa lalu. Menurutnya, peringatan tersebut harus menjadi ruang refleksi untuk melihat sejauh mana generasi sekarang mampu meneruskan nilai-nilai besar yang diwariskan para pendahulu.
Ia mengajak masyarakat Pasai, terutama generasi muda, untuk membuktikan kecintaan terhadap sejarah melalui karya dan kontribusi nyata.
“Jangan hanya bangga menjadi orang Pase. Jadilah orang Pasai yang membanggakan Pasai,” tegasnya.
Ia mengatakan, masyarakat Aceh Utara dan Aceh memiliki alasan kuat untuk bangga terhadap Samudera Pasai. Kerajaan tersebut menjadi salah satu tonggak penting perjalanan sejarah dan peradaban di kawasan Nusantara.
Namun, kebanggaan tersebut menurutnya harus diikuti dengan tanggung jawab. Generasi masa kini harus mampu menjadikan warisan sejarah sebagai modal moral dan inspirasi untuk menghadapi tantangan masa depan.
“Kalau sejarah adalah akar, maka generasi muda Pasai adalah pohon yang akan menghasilkan buahnya,” ujarnya.
Dari Sejarah Menuju Prestasi Baru
Lebih jauh, Zulfadli berharap generasi muda tidak hanya mengenal Samudera Pasai melalui buku-buku sejarah. Semangat kejayaan masa lalu harus diterjemahkan dalam bentuk prestasi dan inovasi di berbagai bidang.
Mulai dari pendidikan, ekonomi, teknologi, kewirausahaan, kebudayaan hingga pembangunan daerah.
Menurutnya, generasi muda Pasai memiliki peluang besar untuk menjadi aktor utama dalam menentukan wajah Aceh pada masa mendatang. Karena itu, sejarah harus ditempatkan bukan hanya sebagai warisan, tetapi sebagai sumber inspirasi untuk menciptakan perubahan.
“Jangan sampai kita hanya menjadi generasi yang mewarisi cerita kejayaan. Kita harus menjadi generasi yang mampu menuliskan cerita kejayaan berikutnya,” katanya.
Momentum Milad 800 Tahun Samudera Pasai, lanjutnya, harus menjadi titik tolak untuk memperkuat persaudaraan sekaligus membangun kepercayaan diri masyarakat dalam menghadapi masa depan.
Ia juga mengajak generasi muda untuk menjadi penjaga sejarah sekaligus pelaku perubahan dengan tetap memegang teguh adat, budaya dan nilai-nilai persaudaraan.
“Mari kita jaga persaudaraan. Mari kita rawat adat dan budaya. Mari kita hormati sejarah. Dan mari kita jadikan semangat Pasai sebagai energi untuk membangun Aceh,” pungkasnya.
Peringatan 800 tahun Samudera Pasai dengan demikian tidak hanya menjadi momentum untuk menoleh ke masa lalu, tetapi juga menjadi ajakan untuk menatap masa depa agar dari tanah yang pernah melahirkan salah satu pusat peradaban penting di Nusantara itu kembali lahir generasi yang mampu mengukir prestasi baru. (asp)


