ASPOST.ID – Sebanyak 260 peserta yudisium Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah (STIKesMu) Lhokseumawe diingatkan agar tidak menjadikan kelulusan akademik semata-mata sebagai tiket memasuki dunia kerja. Lebih dari itu, gelar dan kompetensi yang diraih harus menjadi landasan untuk menjalankan profesi kesehatan dengan integritas, empati, serta tanggung jawab terhadap keselamatan manusia.
Pesan tersebut disampaikan Ketua STIKesMu Lhokseumawe, Dr. Abdul Gani Haitamy, S.H., M.H., dalam sambutannya kepada para peserta yudisium yang berasal dari lima program pendidikan, yakni S1 Keperawatan, S1 Gizi, D3 Farmasi, D3 Keperawatan, dan Profesi Ners.
Menurut Abdul Gani, yudisium merupakan tonggak penting yang menandai keberhasilan mahasiswa menyelesaikan proses pendidikan. Namun, kelulusan bukanlah garis akhir perjalanan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar ketika ilmu pengetahuan dan keterampilan mulai diterapkan di tengah masyarakat.
“Yudisium bukan sekadar pengumuman kelulusan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab moral dan profesional yang lebih besar. Ilmu yang telah diperoleh harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” demikian pesan Abdul Gani, dikampus setempat, pada Kamis (29/10).
Ia menegaskan, tenaga kesehatan memiliki posisi strategis dalam menjaga kualitas hidup masyarakat. Karena itu, kemampuan akademik dan keterampilan teknis harus berjalan seiring dengan etika profesi, kedisiplinan, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.
Abdul Gani mengingatkan bahwa profesi keperawatan, farmasi, dan gizi berhubungan langsung dengan kesehatan, keselamatan, serta kualitas hidup manusia. Oleh sebab itu, lulusan dituntut tidak hanya menguasai ilmu dan keterampilan sesuai bidangnya, tetapi juga mampu memberikan pelayanan yang profesional dan humanis.
Menurutnya, pasien bukan sekadar individu yang membutuhkan pengobatan atau tindakan medis. Mereka adalah manusia yang memiliki martabat, perasaan, serta harapan untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang layak.
Karena itu, setiap lulusan diharapkan mampu menempatkan empati dan penghormatan terhadap martabat pasien sebagai bagian penting dalam menjalankan tugas profesional.
“Jadilah tenaga kesehatan yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan dan keterampilan klinis, tetapi juga memiliki empati, integritas, kedisiplinan, dan kepedulian sosial,” menjadi salah satu penekanan dalam pesan pimpinan STIKesMu Lhokseumawe tersebut.
Yudisium dan Sumpah Profesi, Dua Amanah yang Berbeda
Dalam sambutannya, Abdul Gani juga menjelaskan pentingnya memahami makna yudisium dan pengambilan sumpah sesuai ketentuan masing-masing profesi.
Yudisium merupakan pengakuan resmi atas keberhasilan mahasiswa menyelesaikan persyaratan akademik. Sementara itu, sumpah profesi, bagi peserta yang memang diwajibkan mengikutinya, merupakan pernyataan komitmen moral dan profesional untuk menjalankan tugas berdasarkan etika serta ketentuan yang berlaku.
Keduanya memiliki makna yang berbeda, tetapi saling berkaitan dalam membentuk lulusan yang kompeten dan bertanggung jawab.
Kelulusan menjadi bukti pencapaian pendidikan, sedangkan komitmen profesional harus dibuktikan melalui perilaku, keputusan, dan kualitas pelayanan ketika menjalankan tugas.
Karena itu, para lulusan diharapkan tidak berhenti pada pencapaian administratif berupa ijazah atau pengakuan akademik. Mereka harus mampu membuktikan kompetensi dan integritas melalui pengabdian nyata kepada masyarakat.
Selain menekankan profesionalisme, Abdul Gani berpesan agar seluruh alumni senantiasa menjaga nama baik almamater dan mengamalkan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam kehidupan maupun pekerjaan.
Ia berharap lulusan STIKesMu Lhokseumawe mampu menunjukkan karakter insan berilmu, berakhlak mulia, menjunjung tinggi kejujuran, serta memegang teguh etika profesi di mana pun mereka mengabdi.
Menurutnya, identitas sebagai alumni perguruan tinggi Muhammadiyah membawa tanggung jawab untuk menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat, umat, dan bangsa.
Di tengah perkembangan dunia kesehatan yang semakin dinamis, para lulusan juga didorong untuk terus memperbarui pengetahuan, meningkatkan kompetensi, menguasai perkembangan teknologi kesehatan, serta beradaptasi dengan kebutuhan pelayanan yang terus berubah.
Abdul Gani menegaskan bahwa dunia kerja membutuhkan lebih dari sekadar ijazah. Karakter, etos kerja, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar merupakan bekal penting agar lulusan mampu bersaing sekaligus memberikan kontribusi nyata.
Menutup sambutannya, Abdul Gani berharap 260 peserta yudisium tersebut dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, baik di Aceh maupun di tingkat nasional.
Ia juga mengajak para lulusan untuk menjalankan profesi dengan kerendahan hati, kejujuran, dan semangat pengabdian, sekaligus mengambil peran dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
Keberhasilan para peserta yudisium, lanjutnya, tidak terlepas dari kerja keras mahasiswa, dukungan orang tua dan keluarga, serta peran dosen dan tenaga kependidikan yang mendampingi proses pendidikan.
Atas nama pimpinan perguruan tinggi, ia menyampaikan selamat kepada seluruh peserta yudisium dan mengapresiasi semua pihak yang telah berkontribusi dalam perjalanan akademik para lulusan.
Momentum yudisium tersebut diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan bagi keluarga dan almamater, tetapi juga menjadi titik awal lahirnya tenaga kesehatan yang kompeten, berintegritas, dan mampu memberikan pelayanan yang bermartabat bagi masyarakat.(asp)


