“Kolaborasi DLH dan PIM“
ASPOST.ID- Pembinaan warga binaan tidak cukup hanya berorientasi pada kegiatan selama menjalani masa pidana. Keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk membangun kemandirian ekonomi setelah kembali ke masyarakat menjadi bagian penting dari proses reintegrasi sosial. Hal inilah yang dilakukan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Lhokseumawe melalui pelatihan pembuatan pupuk kompos berbasis fermentasi Superbokashi.
Bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Lhokseumawe dan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), pelatihan tersebut digelar di Balai Latihan Kerja (BLK) Lapas Kelas IIA Lhokseumawe, Rabu (28/10/2026). Kegiatan dibuka langsung oleh Kepala Lapas Lhokseumawe, Irhamuddin.
Program ini menggabungkan dua kepentingan sekaligus, yakni meningkatkan keterampilan warga binaan dan mendorong pemanfaatan bahan organik menjadi produk yang bernilai guna. Sampah organik yang berpotensi menjadi beban lingkungan dapat diolah menjadi pupuk kompos melalui proses fermentasi.
Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali pengetahuan dan keterampilan praktis mengenai pengolahan bahan organik. Bekal ini diharapkan dapat menjadi modal untuk mengembangkan kegiatan produktif, baik selama menjalani pembinaan maupun setelah kembali ke tengah masyarakat.
Kepala Lapas Lhokseumawe, Irhamuddin, menyampaikan, kegiatan ini terlaksana atas keterlibatan DLH Kota Lhokseumawe dan PT PIM dalam mendukung program pembinaan tersebut.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor diperlukan agar pembinaan di lembaga pemasyarakatan tidak berhenti pada pemberian keterampilan dasar, tetapi juga menumbuhkan kemandirian dan kepedulian terhadap lingkungan.
“Kolaborasi ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan baru yang bermanfaat bagi warga binaan. Kami ingin kegiatan pembinaan tidak hanya menghasilkan keterampilan praktis, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan pemanfaatan bahan organik secara produktif,” ujarnya.
Meski demikian, manfaat program semacam ini pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh pelatihan yang terlaksana. Kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan, kesinambungan pendampingan, serta peluang mengembangkan hasil produksi menjadi faktor penting agar pembinaan benar-benar memberikan dampak jangka panjang.
Karena itu, pengolahan sampah menjadi pupuk kompos berpotensi dikembangkan lebih jauh sebagai kegiatan produktif yang menghubungkan pembinaan kemandirian dengan pengelolaan lingkungan. Namun, keberlanjutan produksi dan manfaat ekonominya tetap membutuhkan dukungan, pendampingan, serta pengembangan yang terukur.
Lapas Kelas IIA Lhokseumawe berharap kerja sama dengan DLH Kota Lhokseumawe dan PT PIM dapat terus berlanjut melalui berbagai program pembinaan lainnya.
Melalui pendekatan tersebut, warga binaan diharapkan tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga memiliki bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri, produktif, dan bertanggung jawab setelah kembali ke masyarakat.
Hadir mewakili DLH Kota Lhokseumawe, Zulfikar Syarif mantan Plt Kadis Lingkungan Hidup, dan Cekram Poroh sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut.(asp)


