ASPOST.ID — Dua puluh satu tahun perjalanan perdamaian Aceh akan diperingati Pemerintah Kota Lhokseumawe dengan zikir dan doa bersama di Masjid Agung Islamic Center Lhokseumawe, Jumat malam, 14 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan 21 tahun Hari Damai Aceh, sekaligus momentum untuk mengenang perjalanan panjang perdamaian yang ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 15 Agustus 2005.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Lhokseumawe, A. Haris, S.Sos., M.Si., mengatakan Pemko Lhokseumawe telah mempersiapkan pelaksanaan zikir dan doa bersama dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat dan pemerintahan.
Menurutnya, sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepala organisasi perangkat daerah (OPD), para keuchik, pimpinan dayah, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, organisasi kemasyarakatan (Ormas), serta sejumlah elemen lainnya turut diundang dalam kegiatan tersebut.
“Insyaallah, kita akan melaksanakan zikir dan doa bersama dalam rangka memperingati Hari Damai Aceh di Masjid Agung Islamic Center Lhokseumawe pada Jumat malam, 14 Agustus 2026, setelah shalat Magrib,”kata A. Haris kepada aspost.id, Selasa sore (11/8/2026).
Bukan Sekadar Seremonial
A. Haris menegaskan, peringatan 21 tahun perdamaian Aceh tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial semata. Lebih dari itu, momentum tersebut harus menjadi ruang untuk memperkuat rasa syukur sekaligus meneguhkan kembali komitmen seluruh elemen masyarakat dalam menjaga perdamaian.
“Perdamaian Aceh merupakan hasil dari perjalanan panjang yang harus terus kita jaga bersama. Karena itu, momentum ini kita isi dengan zikir dan doa agar perdamaian, keamanan, dan persatuan masyarakat Aceh, khususnya Kota Lhokseumawe, senantiasa terpelihara,” katanya.
Ia berharap peringatan 21 tahun MoU Helsinki RI-GAM dapat menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga stabilitas daerah.
Menurutnya, kondisi Aceh yang aman dan damai merupakan modal penting untuk mendorong pembangunan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Mari kita jadikan perdamaian sebagai tanggung jawab bersama. Bukan hanya untuk generasi hari ini, tetapi juga untuk generasi Aceh di masa mendatang,” terangnya.
Ajak Masyarakat Hadir dan Berdoa Bersama
Pemko Lhokseumawe juga mengajak seluruh masyarakat untuk ikut meramaikan zikir dan doa bersama tersebut. Kehadiran masyarakat diharapkan menjadi simbol kebersamaan dalam merawat perdamaian yang telah berjalan selama lebih dari dua dekade.
Pemerintah kota mengimbau seluruh elemen masyarakat agar bersama-sama menjaga suasana tetap kondusif serta menjadikan perdamaian sebagai fondasi dalam membangun Aceh yang aman, bersatu, maju dan sejahtera.
Peringatan 21 tahun MoU Helsinki menjadi pengingat bahwa perdamaian bukanlah garis akhir dari sebuah perjalanan, melainkan amanah yang harus terus dijaga dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari Lhokseumawe, pesan perdamaian itu kembali digaungkan, menjaga damai adalah tanggung jawab bersama. (asp)


