ASPOST.ID – Peta persaingan Pemilihan Keuchik Gampong (Pilchikgam) Serentak Kota Lhokseumawe 2026 kian menarik. Sejumlah wajah lama kembali muncul untuk memperebutkan kepercayaan masyarakat, salah satunya Abdullah, mantan Keuchik Gampong Blang Poroh, Kecamatan Muara Dua, yang kini kembali mendaftarkan diri sebagai bakal calon keuchik.
Kembalinya Abdullah ke panggung politik tingkat gampong menjadi perhatian warga. Pasalnya, ia bukan sosok baru dalam pemerintahan Gampong Blang Poroh. Sebelumnya, Abdullah pernah dipercaya masyarakat untuk memimpin gampong tersebut sebagai keuchik.
Namun, masa kepemimpinannya tidak berlangsung hingga akhir periode. Pada tahun 2024, Abdullah memilih mengundurkan diri dari jabatannya sebagai keuchik setelah memutuskan maju sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Lhokseumawe pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024.
Saat itu, Abdullah bertarung di Daerah Pemilihan (Dapil) II yang meliputi Kecamatan Muara Dua melalui Partai Darul Aceh (PDA). Meski membawa pengalaman sebagai kepala pemerintahan gampong, langkah politiknya menuju parlemen belum membuahkan hasil.
Dalam persaingan yang melibatkan kandidat dari berbagai partai lokal maupun partai nasional, Abdullah belum memperoleh dukungan suara yang cukup untuk mengamankan satu kursi di DPRK Lhokseumawe. Hasil tersebut membuatnya harus mengakhiri langkah politiknya di tingkat legislatif.
Kini, setelah dua tahun berlalu, Abdullah memilih kembali mengabdikan diri kepada masyarakat di tingkat gampong. Ia memutuskan kembali maju sebagai bakal calon Keuchik Gampong Blang Poroh pada Pilchikgam Serentak Kota Lhokseumawe yang dijadwalkan berlangsung pada 20 September 2026.
Keputusan tersebut dinilai sebagai bentuk komitmennya untuk kembali melanjutkan pengabdian kepada masyarakat serta meneruskan berbagai program pembangunan yang sebelumnya sempat berjalan ketika dirinya masih menjabat sebagai keuchik.
Sejak Abdullah mengundurkan diri pada 2024, roda pemerintahan Gampong Blang Poroh dipimpin oleh Penjabat (Pj) Keuchik Jamaluddin. Setelah masa tugasnya berakhir, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh Pj Keuchik Basri yang hingga kini masih menjalankan pemerintahan gampong sambil menunggu terpilihnya keuchik definitif melalui Pilchikgam 2026.
Dengan pengalaman memimpin pemerintahan gampong serta pernah mengikuti kontestasi politik di tingkat legislatif, Abdullah dinilai memiliki bekal yang tidak dimiliki semua kandidat. Pengalaman tersebut diperkirakan menjadi salah satu modal penting dalam meyakinkan masyarakat untuk kembali memberikan mandat kepemimpinan kepadanya.
Kontestasi Pilchikgam 2026 juga menjadi momentum bagi masyarakat Blang Poroh untuk menentukan arah pembangunan gampong selama enam tahun ke depan. Karena itu, rekam jejak, kapasitas kepemimpinan, integritas, serta kemampuan membangun komunikasi dengan masyarakat akan menjadi faktor utama yang dipertimbangkan pemilih.
Sementara itu, pelaksanaan Pilchikgam Serentak di Kota Lhokseumawe dipastikan menjadi salah satu agenda politik lokal terbesar tahun ini. Sejumlah gampong diprediksi akan menghadirkan persaingan yang ketat antara petahana, mantan keuchik, tokoh masyarakat, kalangan profesional, hingga generasi muda yang ingin berkontribusi membangun daerahnya.
Di tengah dinamika tersebut, keputusan Abdullah untuk kembali maju sebagai bakal calon Keuchik Blang Poroh menjadi salah satu perkembangan politik lokal yang menarik untuk dicermati. Kini, keputusan akhir berada di tangan masyarakat Blang Poroh yang akan menentukan apakah pengalaman dan rekam jejak Abdullah layak kembali dipercaya untuk memimpin gampong atau justru memberikan kesempatan kepada figur baru pada Pilchikgam Serentak 20 September 2026.
Selain Abdullah, terdapat Bustami, yang saat ini masih aktif menjabat sebagai aparatur gampong. Kemudian M. Rasyid bin Has, sosok yang dikenal masyarakat karena pernah mengemban amanah sebagai Ketua Tuha Peut Gampong Blang Poroh.
Sementara itu, warna baru dalam kontestasi Pilchikgam kali ini hadir melalui Ziaul Hadi, seorang sarjana akuntansi dari kalangan pemuda yang maju sebagai bakal calon keuchik. Kehadirannya menjadi representasi generasi muda yang ingin berkontribusi dalam pembangunan gampong melalui gagasan, inovasi, serta tata kelola pemerintahan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.(*)

