ASPOST.ID- Karier militer Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Ali Imran, memasuki babak baru. Perwira TNI Angkatan Darat dari baret merah asal Aceh itu resmi menyandang pangkat Brigadir Jenderal (Brigjen) setelah mendapatkan kenaikan pangkat sekaligus amanah jabatan strategis sebagai Komandan Resimen Induk Daerah Militer Iskandar Muda (Danrindam IM).
Kenaikan pangkat tersebut menandai penguatan posisi Ali Imran di jajaran perwira tinggi TNI AD, sekaligus bagian dari rotasi dan pembinaan karier yang dilakukan Markas Besar TNI dalam rangka memenuhi kebutuhan organisasi.
Dalam mutasi tersebut, Brigjen TNI Ali Imran menggantikan Brigjen TNI Hasandi Lubis yang mendapat penugasan baru sebagai Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad). Hasandi Lubis akan mengikuti Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXVII Tahun Anggaran 2026 di Lemhannas RI.
Meski mendapat tugas tambahan sebagai Danrindam Iskandar Muda, Ali Imran masih tercatat menjabat sebagai Danrem 011/Lilawangsa. Jabatan tersebut sebelumnya ia emban sejak tahun 2024.
Rindam Iskandar Muda merupakan lembaga pendidikan militer di bawah Kodam Iskandar Muda yang berperan penting dalam membina, melatih, serta membentuk prajurit TNI AD tingkat Bintara dan Tamtama agar memiliki profesionalitas, kemampuan tempur, serta integritas tinggi dalam menjalankan tugas negara.

Rotasi jabatan yang melibatkan Ali Imran juga merupakan bagian dari perombakan struktur organisasi di lingkungan TNI AD yang menyasar sejumlah posisi strategis, mulai dari perwira menengah hingga perwira tinggi, termasuk jabatan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) hingga Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan).
Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Brigjen TNI Aulia Dwi Nasrullah menegaskan bahwa mutasi jabatan di lingkungan TNI merupakan hal yang rutin dilakukan sebagai bagian dari dinamika organisasi dan pengembangan karier prajurit.
“Mutasi jabatan di tubuh TNI merupakan hal yang biasa, dalam rangka pembinaan karier prajurit dan kebutuhan organisasi,” ujarnya.
Putra Aceh dengan Rekam Jejak Operasi Panjang
Brigjen TNI Ali Imran lahir di Banda Aceh pada 9 Juni 1978. Ia merupakan putra pasangan M Yusuf Syah dan Rohani.
Dalam kehidupan keluarga, Ali Imran menikah dengan Dini Hidayati dan dikaruniai tiga anak, yakni Aldi Pratama Yudha, Arafat Abqary Ahmadinejad, dan Azka Aulia Gossan.
Pendidikan dasarnya ditempuh di Banda Aceh, dimulai dari SDN 28 Banda Aceh (1991), SMPN 4 Banda Aceh (1994), hingga SMAN 3 Banda Aceh (1997). Ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi dengan meraih gelar sarjana dari Universitas Krisnadwipayana Jakarta pada 2014 dan gelar magister dari Universitas Malikussaleh Lhokseumawe pada 2026.
Karier militernya dimulai setelah lulus dari Akademi Militer (Akmil) tahun 2000 dengan kecabangan Infanteri Kopassus. Sejak saat itu, ia banyak ditempa dalam berbagai penugasan di satuan elite TNI AD, termasuk di Korps Baret Merah.
Ali Imran pernah bertugas di sejumlah satuan strategis seperti Kopassus, Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI, Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), hingga Pusat Intelijen Angkatan Darat (Pusintelad).
Berbagai operasi penting juga pernah ia jalani, di antaranya Operasi Denpur Cakra Aceh (2003), Satgas BIN Aceh (2008), Densandha Papua (2011), Satgas Bais Lauser (2015–2017), serta Satgas Palapa Aceh (2018).
Sepanjang pengabdiannya, Ali Imran juga menerima sejumlah tanda kehormatan negara, antara lain Satyalancana Dharma Nusa, Satyalancana Kesetiaan VIII Tahun, Satyalancana Dwidya Sistha, Satyalancana Ksatria Yudha, Satyalancana Wira Karya, Satyalancana Kesetiaan XVI Tahun, Satyalancana Wira Dharma, serta Satyalancana Santi Dharma XVIII.
Dengan pengalaman panjang di bidang operasi, intelijen, serta kepemimpinan teritorial, Brigjen TNI Ali Imran diharapkan mampu memperkuat sistem pendidikan dan pembinaan prajurit di lingkungan Kodam Iskandar Muda. (red)

