ASPOST.ID- Hujan kembali turun di Gampong Alue Papeun, Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara, Selasa (15/9/2026). Bagi sebagian orang, hujan mungkin hanya soal cuaca. Namun bagi warga di kawasan ini, hujan berarti jalan berubah menjadi medan berat yang harus mereka taklukkan setiap hari.
Lubang menganga, tanah berlumpur, dan genangan air menjadi pemandangan yang akrab bagi masyarakat. Jalan yang seharusnya menjadi akses utama untuk mengangkut hasil pertanian, menuju pasar, sekolah, hingga fasilitas pelayanan publik, justru kerap menyulitkan warga ketika musim penghujan tiba.
Kondisi tersebut semakin menjadi sorotan setelah video keluhan warga mengenai Jalan Alue Papeun ramai diperbincangkan di media sosial. Suara masyarakat yang sebelumnya bergema di ruang digital akhirnya mendapat respons langsung dari Pemerintah Kabupaten Aceh Utara.
Wakil Bupati Aceh Utara, Tarmizi Panyang, turun langsung ke Gampong Alue Papeun bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Aceh Utara untuk melihat kondisi jalan sekaligus mendengar persoalan yang disampaikan masyarakat.
Kehadiran Tarmizi berlangsung di tengah hujan. Ia tidak hanya meninjau kondisi ruas jalan, tetapi juga berdialog dengan Geuchik Gampong Alue Papeun, unsur mukim, tokoh masyarakat, serta warga.
Di hadapan pemerintah, warga menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi akibat buruknya akses transportasi.
Mobilitas antar gampong terganggu, aktivitas ekonomi tidak berjalan optimal, sementara anak-anak sekolah dan masyarakat yang membutuhkan akses menuju fasilitas kesehatan juga harus melewati jalan dengan kondisi yang memprihatinkan.
“Kami berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk memperbaiki akses tersebut, mengingat jalan ini menjadi salah satu jalur penting yang menghubungkan antar-gampong menuju Kecamatan Nisam dan wilayah sekitarnya,” ujar salah seorang warga setempat.
Bukan Sekadar Jalan Rusak
Ruas jalan yang menjadi perhatian masyarakat meliputi Alue Papeun–Banda Slamat sepanjang sekitar 7 kilometer dan Alue Papeun–Banda Khalifah sekitar 5 kilometer. Kedua ruas tersebut berada di Kecamatan Nisam Antara.
Bagi masyarakat, persoalan ini bukan sekadar tentang jalan yang berlubang atau belum nyaman dilalui. Jalan merupakan urat nadi kehidupan warga.
Sebagian masyarakat Alue Papeun menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian. Ketika akses jalan sulit dilalui, persoalannya dapat merembet ke berbagai aktivitas, mulai dari pengangkutan hasil pertanian hingga mobilitas menuju pusat perdagangan dan pelayanan masyarakat.
Kondisi itu terasa semakin berat saat hujan turun. Permukaan jalan yang berlumpur membuat kendaraan harus melaju lebih hati-hati. Bagi warga yang setiap hari menggunakan akses tersebut, perjalanan yang semestinya sederhana dapat berubah menjadi tantangan tersendiri.
Keluhan mengenai kondisi jalan tersebut juga memiliki dimensi historis. Alue Papeun merupakan salah satu wilayah yang diklaim sebagai basis Kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) terdampak konflik Aceh. Setelah perdamaian Aceh, masyarakat berharap pembangunan infrastruktur semakin membuka akses dan memperkuat kehidupan ekonomi di wilayah bekas konflik.
Namun, bagi warga setempat, harapan terhadap perbaikan jalan masih menjadi pekerjaan yang belum tuntas.
Dari Media Sosial ke Meja Pemerintah
Apa yang terjadi di Alue Papeun menunjukkan bagaimana persoalan di tingkat masyarakat dapat bergerak dari media sosial hingga mendapat perhatian langsung pemerintah daerah.
Keluhan mengenai jalan yang dipenuhi lubang menjadi pemicu perhatian publik. Respons pemerintah dengan turun ke lokasi memberikan ruang bagi warga untuk menyampaikan persoalan secara langsung, tanpa harus melalui perantara.
Bagi masyarakat, peninjauan tersebut tentu bukanlah tujuan akhir.
Mereka menunggu langkah berikutnya, perbaikan jalan yang benar-benar dapat dirasakan manfaatnya.
Warga berharap akses Alue Papeun–Banda Slamat dan Alue Papeun–Banda Khalifah secara bertahap dapat ditangani sehingga kembali layak digunakan untuk mendukung aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan mobilitas masyarakat.
Kehadiran Wakil Bupati di tengah hujan menjadi simbol bahwa keluhan warga telah sampai ke ruang pengambilan kebijakan. Kini, perhatian masyarakat tertuju pada tindak lanjut setelah peninjauan tersebut.
Sebab bagi warga Alue Papeun, jalan bukan sekadar hamparan tanah dan lubang.
Jalan adalah akses menuju sekolah, pasar, lahan pertanian, fasilitas kesehatan, dan masa depan.
Peninjauan telah dilakukan. Suara warga telah disampaikan. Kini, masyarakat menunggu satu hal yang paling mereka butuhkan perbaikan nyata. (asp)


