ASPOST.ID- Pengibaran bendera Bulan Bintang disertai seruan “merdeka” dalam peringatan 21 tahun perdamaian Aceh di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026), memicu perhatian luas di ruang digital setelah sejumlah foto dan video peristiwa tersebut menyebar di berbagai platform media sosial.
Rekaman yang beredar memperlihatkan sejumlah peserta membawa dan mengibarkan bendera Bintang Bulan, Alam Peudeung dan bendera putih di tengah kerumunan massa yang mengikuti kegiatan zikir dan doa bersama. Beberapa video juga memperlihatkan suasana ketika bendera tersebut dipasang di sejumlah titik di kawasan Masjid Raya Baiturrahman dan masih bertahan hingga saya ini. Bendera Bintang Bulan adalah bendera Aceh yang disahkan dalam Qanun Nomor 3 Tahun 2013 Tentang Lambang dan Bendera Aceh.
Laporan yang diterima aspost.id menyebut seruan “merdeka” terdengar dari tengah kerumunan. Sebuah spanduk bertuliskan “Acheh Has Every Right to be Independent” juga dilaporkan dibentangkan dari area gapura masjid.
Peristiwa tersebut kemudian berkembang menjadi kericuhan.
Sejumlah media melaporkan adanya bentrokan terjadi setelah seseorang memanjat tiang bendera dan menurunkan bendera Merah Putih untuk menggantinya dengan bendera Bintang Bulan. Polisi kemudian menggunakan gas air mata ketika situasi memburuk.
Bukan saja, dalam aksi itu juga dilaporkan sejumlah kendaraan roda empat yang berada dilokasi juga mengalami kerusakan dalam kericuhan tersebut.
Dari Banda Aceh ke ruang digital
Peristiwa tersebut dengan cepat berubah menjadi isu digital. Foto dan video suasana di sekitar Masjid Raya Baiturrahman beredar melalui Instagram, Facebook, YouTube, dan TikTok, memperlihatkan berbagai sudut kejadian mulai dari massa yang berkumpul, pengibaran Bulan Bintang, hingga situasi ketika terjadi ketegangan.
Salah satu rekaman Instagram yang terindeks publik memperlihatkan bendera Bintang Bulan di tengah kerumunan massa dan menyebut adanya sejumlah rekaman yang beredar mengenai peristiwa tersebut.
Kemunculan konten secara bersamaan di berbagai platform membuat isu tersebut bergerak melampaui ruang kegiatan peringatan Hari Damai Aceh. Peristiwa lokal di Banda Aceh berubah menjadi percakapan digital mengenai sejarah konflik Aceh, implementasi perdamaian, identitas politik Aceh, dan masa depan hubungan Aceh dengan pemerintah pusat.
Namun, belum tersedia data publik yang cukup untuk menyimpulkan secara akurat bahwa isu tersebut telah menjadi “trending” secara nasional atau internasional, maupun untuk menghitung total jumlah penonton seluruh video yang beredar. Sebagian besar platform juga memiliki sistem algoritmik yang berbeda dan tidak membuka seluruh data distribusi konten kepada publik.
Simbol sejarah kembali menjadi pusat perhatian
Bendera Bintang Bulan memiliki hubungan erat dengan sejarah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan konflik bersenjata Aceh. Karena itu, kemunculannya dalam peringatan 21 tahun perdamaian memiliki dimensi simbolik yang jauh lebih besar daripada sekadar pengibaran sebuah bendera.
Dalam kegiatan Sabtu tersebut, massa datang dari berbagai daerah di Aceh untuk mengikuti zikir dan doa bersama.
Selain itu, pada awalnya berlangsung sebagai zikir dan doa, sebelum sejumlah peserta mengeluarkan bendera Bintang Bintang. Media juga melaporkan adanya seruan “merdeka” dan spanduk bertuliskan “Acheh Has Every Right to be Independent.”
Di sisi lain, penyelenggara sempat mengimbau peserta agar tidak mengibarkan bendera Bintang Bulan selama kegiatan berlangsung, namun imbauan tersebut tidak sepenuhnya dipatuhi.
Seruan menjaga perdamaian
Munculnya simbol-simbol politik tersebut tidak serta-merta berarti bahwa seluruh peserta atau masyarakat Aceh memiliki tuntutan politik yang sama.
Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah menyerukan agar masyarakat menjaga perdamaian yang telah berlangsung selama 21 tahun dan menegaskan bahwa konflik maupun keributan tidak memberikan keuntungan bagi Aceh.
Sementara itu, Juha Christensen, tokoh Finlandia yang terlibat dalam proses perdamaian Aceh, mengatakan bendera GAM perlu dihormati sebagai bagian dari sejarah, bukan digunakan untuk kepentingan lain.
Pernyataan tersebut menunjukkan adanya dua lapisan berbeda dalam peristiwa ini, memori sejarah konflik dan perdamaian di satu sisi, serta ekspresi politik sebagian peserta di sisi lain.
Dua puluh satu tahun setelah Helsinki RI-GAM
Peristiwa tersebut terjadi tepat 21 tahun setelah penandatanganan MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005, yang mengakhiri konflik bersenjata antara Pemerintah Republik Indonesia dan GAM.
Karena itu, kemunculan kembali simbol-simbol perjuangan Aceh pada peringatan Hari Damai memiliki bobot historis yang sangat sensitif.
Bagi sebagian pihak, Bintang Bulan merupakan simbol sejarah perjuangan Aceh. Bagi sebagian peserta lain, pengibarannya menjadi bentuk ekspresi politik mengenai masa depan Aceh. Sementara bagi pemerintah dan tokoh perdamaian, keberlangsungan perdamaian menjadi prioritas yang harus dijaga.
Peristiwa Banda Aceh pada Sabtu ini menunjukkan bahwa 21 tahun setelah perdamaian Helsinki, memori konflik, identitas Aceh, tuntutan politik, dan persoalan implementasi perdamaian masih menjadi isu yang mampu menggerakkan emosi publik dan mendapatkan resonansi besar di media sosial. (asp)

