ASPOST.ID- Ramadhan tahun ini menghadirkan wajah berbeda di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Lhokseumawe. Di balik tembok tinggi dan pintu-pintu besi yang tertutup rapat, denyut spiritual justru terasa semakin kuat.

Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an, dzikir yang mengalun serempak, hingga tausiyah yang menyejukkan jiwa membentuk atmosfer religius yang hidup dan penuh makna.

Sejak awal bulan suci, jajaran Lapas Lhokseumawe mengintensifkan program pembinaan keagamaan sebagai fondasi pembentukan karakter warga binaan pemasyarakatan (WBP). Setiap usai shalat dzuhur berjamaah, kegiatan tafakur dan pembinaan rohani digelar bekerja sama dengan Kementerian Agama Kota Lhokseumawe.

Momen ini menjadi ruang kontemplasi tempat para warga binaan menata ulang perjalanan hidup, merefleksikan kesalahan masa lalu, sekaligus meneguhkan komitmen untuk berubah.

Rangkaian kegiatan Ramadhan dirancang sistematis dan berkelanjutan. Selepas Tarawih, Tadarus Al-Qur’an berlangsung khusyuk.

Program One Day One Juz digelar setiap sore selepas Ashar, disertai dzikir bersama, istighotsah, tausiyah rutin menjelang Tarawih, hingga pelaksanaan Sholat Tasbih. Tidak sedikit warga binaan yang melanjutkan ibadah secara mandiri di kamar hunian, menjadikan Ramadhan sebagai momentum pembinaan batin yang lebih personal.

Menariknya, demi menjaga kekhidmatan bulan suci, Lapas untuk sementara meniadakan layanan kunjungan tatap muka keluarga. Kebijakan ini lahir dari aspirasi para Kepala Kamar yang mewakili warga binaan. Mereka sepakat menjadikan Ramadhan sebagai fase fokus beribadah dan memperbaiki diri, tanpa distraksi.

Meski demikian, silaturahmi tetap difasilitasi melalui layanan penitipan makanan dan takjil yang dibuka setiap hari pukul 15.00–17.00 WIB. Skema ini menjadi jembatan emosional antara keluarga dan warga binaan, memastikan dukungan moril tetap terjaga tanpa mengurangi kekhusyukan ibadah.

Sebelumnya, pihak Lapas sempat menawarkan layanan kunjungan khusus saat momentum “Meugang”, tradisi khas masyarakat Aceh menyambut Ramadhan.

Namun melalui musyawarah internal, warga binaan memilih untuk tidak membuka kunjungan tatap muka, sebagai bentuk komitmen menjaga fokus spiritual sejak awal bulan suci. Sikap tersebut sekaligus merefleksikan implementasi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan yang menjamin hak warga binaan untuk menerima maupun menolak kunjungan.

Kepala Lapas Kelas IIA Lhokseumawe, Wahyu Prasetyo, menegaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan titik balik pembinaan.

“Ramadhan adalah bulan perbaikan diri. Pembinaan di lapas tidak berhenti pada menjalani masa pidana, tetapi menjadi proses hijrah yang nyata. Kami menghormati aspirasi warga binaan dan mendukung penuh melalui program keagamaan yang terarah,” ujar Wahyu Prasetyo dalam keterangannya kepada aspost.id, pada Ahad dini hari (22/2).

Menurutnya, pendekatan humanis dan partisipatif menjadi kunci keberhasilan pembinaan. Ketika kesadaran tumbuh dari dalam diri, proses reintegrasi sosial ke depan akan berjalan lebih kokoh dan bermakna.

Ramadhan di Lapas Lhokseumawe tahun ini bukan sekadar ritual, melainkan perjalanan batin kolektif. Di ruang yang terbatas secara fisik, harapan justru menemukan jalannya. Sebab di balik jeruji, cahaya perubahan tetap menyala pelan namun pasti.(asp)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version