ASPOST.ID- Pemerintah Kota Lhokseumawe kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat dukungan terhadap organisasi kemasyarakatan. Hal ini ditunjukkan dengan kehadiran Wali Kota, Dr. Sayuti Abubakar dalam kegiatan Halal Bihalal Forum Komunikasi Masyarakat Peusangan Raya (FK-MPR) yang dirangkai dengan pengukuhan pengurus baru, Ahad (19/4).
Kegiatan yang berlangsung khidmat di Aula Cabang Dinas Pendidikan Aceh Wilayah Lhokseumawe ini menjadi momentum strategis pasca-Idulfitri untuk mempererat silaturahmi serta memperkuat ukhuwah antar warga Peusangan Raya yang bermukim di Lhokseumawe dan sekitarnya.
Dalam sambutannya, Wali Kota Sayuti menegaskan bahwa peran organisasi berbasis kedaerahan sangat penting dalam menjaga stabilitas sosial dan memperkuat harmoni di tengah masyarakat multikultural. Kehadiran pemerintah, menurutnya, bukan sekadar simbolis, tetapi merupakan bentuk dukungan konkret terhadap penguatan peran komunitas sebagai pilar pembangunan sosial.
Puncak acara ditandai dengan prosesi adat peusijuek (tepung tawar) terhadap A. Haris resmi dikukuhkan sebagai Ketua Umum FK-MPR. Tradisi Aceh ini sarat makna sebagai simbol doa, restu, dan harapan agar kepemimpinan yang diemban mampu membawa organisasi ke arah yang lebih progresif, inklusif, dan berdaya saing.
Pengukuhan A. Haris dinilai memiliki signifikansi strategis, mengingat posisinya sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Lhokseumawe sekaligus bagian dari komunitas Peusangan Raya, sehingga memperkuat konektivitas antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun solidaritas kolektif.
Selain prosesi pengukuhan, kegiatan ini juga diisi dengan penyerahan santunan kepada anak yatim, tausiyah keagamaan, serta khanduri (makan bersama) yang berlangsung dalam suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan. Kehadiran tokoh masyarakat, ulama, dan berbagai elemen undangan mencerminkan tingginya dukungan terhadap FK-MPR sebagai wadah pemersatu masyarakat.
Melalui momentum ini, FK-MPR diharapkan semakin memperkuat perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong terciptanya kehidupan sosial yang harmonis, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi model penguatan solidaritas diaspora berbasis kultural di tingkat lokal maupun nasional.(*)

