ASPOST.ID- Masyarakat Aceh kembali berduka dengan wafatnya seorang ulama kharismatik Aceh, Tgk.H. Muhammad Amin Mahmud akrab disapa Abu Tumin Blang Blahdeh, pada Selasa (27/9) sekira 15.45 WIB.

Abu Tumin wafat dalam perawatan medis di Rumah Sakit Umum dr.Fauziah Bireuen. Kabar duka itu cepat beredar di media sosial, baik grup WhatsApp maupun media sosial Facebook. Abu Tumin akan dimakamkan di komplek Dayah Al-Maninatuddiniyah Babus Salam Blang Blahdeh, Kabupaten Bireuen.

Sementara itu, dilansir dari website laduni, Tgk. H. Muhammad Amin atau lebih akrab disapa dengan sebutan Abu Tumin lahir pada tanggal 17 Agustus 1932, di Desa Kuala Jeumpa, Kemukiman Blang Blahdeh, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen. Beliau merupakan putra dari pasangan Ayah Tgk. H. Mahmud Syah dan ibu Khadijah.

Pada hari Jum’at 13 Rajab 1384, Abu Tumin melepas masa lajangnya dengan menikahi Ummi Mujahidah. Abu dikaruniai enam orang anak, diantaranya, Khairiyah Faridah, Amirullah Syahirman, Haidar Syahminar, Muhammad, Khadijatul Mutsanna, dan Marhaban Isyatul Mardhiah.

Abu Tumin terlahir dengan mewarisi darah ulama dan menjejakkan kaki pertamanya di bumi juga di tanah Dayah yang dipimpin oleh kakeknya Tgk. H. Hanafiah, seolah menjadi sugesti bagi Tgk. Muhammad Amin muda untuk terus bergelut dengan ilmu pendidikan agama. Karenanya semenjak kecil beliau sudah memperlihatkan minat besar dalam belajar agama. Kala itu beliau belajar agama langsung pada orang tuanya Tgk. H. Mahmudsyah (Tgk. Muda) dan kakeknya Tgk. H. Hanafiyah (Tgk. Tua) di samping itu beliau juga belajar pendidikan formal di Vervolkschule.

Setelah beberapa lama belajar di dayah kakeknya, sampailah Tgk. Muhammad Amin muda untuk melanjutkan studi yang lebih tinggi, akhirnya ia memilih untuk menempuh perjalanan religiusnya ke kawasan selatan Nanggroe Aceh Darussalam tepatnya di daerah Labuhan Haji, tempat dimana Al-Mukarram Syekh H. Muhammad Muda Wali Al-Khalidy (Abuya Muda Wali) mengasuh sebuah Dayah Salafi yang kelak melahirkan ratusan ulama yang tersebar di seluruh Aceh maupun luar Aceh.

Di antara deburan ombak dan hembusan angin pantai Samudera Hindia, di sanalah Tgk. Muhammad Amin muda dan ratusan santri lainnya mendapat transferan ilmu dari Abuya sebelum akhirnya beliau kembali ke Negeri Jeumpa pada tahun 1960 untuk melanjutkan estafet kepemimpinan dayah warisan kakeknya yang sudah berdiri sejak tahun 1890. Dayah yang berlokasi satu komplek dengan dengan masjid Jami’ kemukiman Blang Bladeh ini pada awalnya belum mempunyai nama, hanya dikenal dengan sebutan “Rangkang”. Baru di masa kepemimpinan Abu Tumin dayah tersebut beliau beri nama dengan Al-Madinatuddiniyah Babussalam.

Semenjak kepemimpinan beliau, Dayah Al-Madinatuddiniyah Babussalam mengalami perkembangan yang sangat signifikan. (asp)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version