ASPOST.ID- Harapan baru mulai menyinari keluarga besar Dayah Al-Anhar Gampong Sawang, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. Setelah hanyut diterjang banjir besar pada November 2025, dayah tersebut kini bersiap dibangun kembali di lokasi yang lebih aman melalui dukungan pemerintah dan masyarakat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Utara, Tgk. Muhammad Yunus, S.H.I., meninjau langsung lahan relokasi dayah pada Rabu (8/7). Kunjungan itu menjadi langkah awal percepatan pembangunan kembali lembaga pendidikan Islam yang selama ini menjadi pusat pembinaan santri di pedalaman Aceh Utara itu.

Muhammad Yunus mengatakan, lahan baru yang akan menjadi kompleks Dayah Al-Anhar berupa tanah wakaf dari masyarakat sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan pendidikan Islam. Relokasi dilakukan karena lokasi dayah lama masuk dalam kawasan rawan bencana (zona merah), sehingga tidak lagi diperbolehkan adanya pembangunan.

“Ini bukan sekadar memindahkan bangunan, tetapi membangun kembali harapan. Pemerintah Aceh Utara berkomitmen memastikan para santri dapat belajar di lingkungan yang lebih aman, nyaman, dan layak,” ujar Muhammad Yunus.

Dalam peninjauan tersebut turut hadir ulama kharismatik Aceh Tgk. H. Hasballah Keutapang Nisam, unsur Muspika Kecamatan Sawang, tokoh masyarakat, serta pimpinan Dayah Al-Anhar. Rombongan meninjau sejumlah titik yang akan menjadi lokasi pembangunan asrama santri, ruang belajar, masjid, fasilitas sanitasi, serta sarana pendukung lainnya.

Pemerintah Aceh Utara di bawah kepemimpinan Bupati Ayah Wa dan Wakil Bupati Tarmizi Panyang menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat keberlangsungan pendidikan dayah sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia berbasis nilai-nilai keislaman.

Sementara itu, Pimpinan Dayah Al-Anhar, Tgk. Jamaluddin, menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah daerah serta dukungan para ulama dan masyarakat terhadap proses relokasi tersebut.

Menurutnya, lokasi baru yang lebih luas diharapkan mampu menghidupkan kembali aktivitas pendidikan dayah yang sempat terhenti akibat bencana. Meski demikian, pihaknya masih membutuhkan dukungan berbagai pihak untuk pembangunan asrama, ruang belajar, tempat ibadah, hingga penyediaan kitab-kitab bagi para santri.

Peninjauan ditutup dengan mengunjungi bekas kompleks Dayah Al-Anhar yang luluh lantak diterjang banjir. Di lokasi itu, hanya tersisa beberapa bangunan, termasuk fasilitas MCK dan bilik santri yang sudah tidak lagi layak digunakan, menjadi pengingat besarnya bencana sekaligus semangat untuk membangun kembali pusat pendidikan Islam tersebut. (asp)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version

Error occurred