“Di saat ruang kerja ditinggalkan, medan pengabdian justru berpindah ke tengah banjir. Selama empat hari empat malam, Ketua DPRK Lhokseumawe sekaligus Ketua DPW Partai Aceh Lhokseumawe, Faisal H Isa, memilih berada di garis depan evakuasi warga dan penyaluran bantuan.
ASPOST.ID – Di balik peringatan Milad Partai Aceh ke-19 yang jatuh pada 7 Juli 2026, tersimpan sebuah kisah kemanusiaan yang hingga kini masih membekas di ingatan masyarakat Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe.
Ketika banjir besar menerjang kawasan tersebut pada akhir November 2025, publik sempat mempertanyakan keberadaan Ketua DPRK Lhokseumawe, Faisal H Isa. Selama beberapa hari, ia nyaris tidak terlihat di kantor dan sulit dihubungi melalui telepon.
Namun di lapangan, situasinya justru berbeda. Politisi Partai Aceh itu memilih berada di tengah bencana, memimpin langsung proses evakuasi warga yang terjebak banjir, menembus arus deras, hingga mengantarkan bantuan ke lokasi-lokasi yang terisolasi.
Banjir mulai melanda Kecamatan Muara Satu pada 26 November 2025 dan dengan cepat merendam sejumlah desa, di antaranya Cot Trieng, Ujong Pacu, serta Blang Naleung Mameh. Ribuan warga terdampak, akses transportasi terputus, sementara sebagian permukiman berubah menjadi lautan air.
Sebagai putra asli Blang Pulo, Faisal mengaku tidak bisa tinggal diam melihat kondisi kampung halamannya. Bersama aparat kecamatan, aparatur gampong, relawan, dan unsur terkait lainnya, ia turun langsung melakukan penyelamatan warga sejak hari pertama banjir.
Sehari kemudian, tim gabungan memperoleh bantuan satu unit perahu karet. Dengan perlengkapan yang terbatas, mereka berulang kali menerobos derasnya arus untuk mengevakuasi warga menuju tempat yang lebih aman.
Evakuasi dilakukan tanpa mengenal waktu. Siang dan malam, perjalanan terus dilakukan dari satu rumah ke rumah lainnya. Prioritas diberikan kepada kelompok rentan, termasuk anak-anak, perempuan, serta warga lanjut usia.
Salah satu momen yang paling diingat adalah ketika tim harus menyelamatkan seorang lansia yang mengalami kelumpuhan. Setelah berhasil dievakuasi, korban langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
“Yang paling penting saat itu adalah menyelamatkan warga terlebih dahulu. Ada seorang lansia yang lumpuh dan harus segera kami evakuasi ke rumah sakit,” kenang Faisal.
Proses penyelamatan berlangsung selama dua hari dua malam. Namun luasnya wilayah terdampak dan keterbatasan sarana membuat tidak semua warga dapat segera dievakuasi.
Sebagian warga akhirnya memilih mengungsi ke kawasan perbukitan karena rumah mereka sudah tidak memungkinkan untuk dihuni. Kondisi tersebut memunculkan persoalan baru, yakni keterbatasan bahan makanan dan akses logistik.
Menghadapi situasi itu, Faisal bersama tim kembali mengambil langkah yang tidak mudah. Mereka beberapa kali berjalan kaki menembus kawasan hutan untuk mengantarkan makanan, air bersih, dan kebutuhan pokok kepada para pengungsi yang terisolasi.
Perjalanan dilakukan berulang kali selama dua hari, melewati medan berlumpur dan jalur yang sulit dilalui kendaraan.
Setelah empat hari, debit air mulai berangsur surut. Namun bagi Faisal, tugas kemanusiaan belum selesai.
Ia tetap berada di lapangan membantu warga membersihkan rumah, sekolah, fasilitas umum, hingga masjid yang sebelumnya terendam banjir. Selain itu, ia juga menggunakan dana pribadi untuk membeli berbagai kebutuhan darurat yang kemudian disalurkan ke sejumlah posko pengungsian.
Bahkan setelah kondisi mulai membaik, Faisal masih terus mengunjungi permukiman warga untuk mendata rumah-rumah yang mengalami kerusakan akibat banjir sebagai bahan koordinasi dalam proses penanganan lanjutan.
Menurutnya, bencana tidak boleh berhenti pada fase tanggap darurat semata. Pemerintah diharapkan terus mempercepat proses pemulihan agar masyarakat dapat kembali menjalani aktivitas secara normal.
“Kami berharap penanganan pasca bencana terus menjadi perhatian bersama sehingga masyarakat yang terdampak bisa segera bangkit dan kondisi daerah kembali pulih,” ujarnya.
Di tengah dinamika politik, kisah tersebut menjadi salah satu potret bahwa kepemimpinan juga diuji pada saat bencana datang.
Bagi masyarakat Muara Satu, empat hari empat malam yang dihabiskan Faisal H Isa di tengah banjir bukan sekadar catatan aktivitas seorang pejabat, melainkan cerita tentang keberanian, kedekatan dengan masyarakat, dan pengabdian yang lahir saat daerahnya menghadapi masa-masa paling sulit.
Selamat Milad ke-19 Partai Aceh, dengan motto ” Ta Meu saboh Keu Atjeh Jang Leubeh Djroh”. (*)


