ASPOST.ID- Perguruan tinggi vokasi dituntut tidak hanya mencetak lulusan siap kerja, tetapi juga melahirkan generasi muda yang mampu menciptakan lapangan kerja. Tantangan itulah yang coba dijawab Jurusan Bisnis Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) melalui Bisnis Festival 2026 yang digelar di area parkir Gedung Kantor Pusat Administrasi (KPA), Selasa (20/10/2026).
Mengusung tema “Ruang Berkarya, Ruang Berwirausaha”, festival yang memasuki tahun kedua penyelenggaraan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperkenalkan produk, menguji gagasan bisnis, sekaligus berinteraksi langsung dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Namun, tantangan kewirausahaan tidak berhenti pada kemampuan memamerkan produk. Mahasiswa juga perlu memahami kebutuhan konsumen, menghitung biaya produksi, menentukan harga yang kompetitif, membangun strategi pemasaran, hingga menjaga keberlangsungan usaha di tengah persaingan pasar.
Berangkat dari semangat tersebut, kegiatan yang diinisiasi Himpunan Mahasiswa Jurusan Bisnis (HIJABIS) ini melibatkan sivitas akademika Jurusan Bisnis PNL serta pelaku UMKM binaan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disperindagkop dan UMKM) Kota Lhokseumawe.
Keterlibatan pelaku usaha lokal membuka ruang pertukaran pengalaman antara mahasiswa dan praktisi. Interaksi tersebut diharapkan tidak hanya memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai dunia bisnis, tetapi juga menjadi awal terbentuknya jejaring usaha yang dapat dikembangkan setelah festival berakhir.
Wakil Direktur Bidang Akademik dan Sistem Informasi PNL, Dr. (C). Muhammad Arhami, S.Si., M.Kom., saat membuka kegiatan menegaskan bahwa Bisnis Festival merupakan salah satu bentuk implementasi pembelajaran kewirausahaan yang menghubungkan teori di ruang kuliah dengan praktik di lapangan.
Menurutnya, pendidikan vokasi harus mampu mendorong mahasiswa mengubah pengetahuan menjadi karya dan peluang ekonomi yang memiliki nilai tambah.
“Pendidikan vokasi tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan, tetapi harus mampu mendorong mereka mengimplementasikan ilmu menjadi karya dan peluang usaha. Jurusan Bisnis memiliki peran strategis sebagai salah satu fondasi pengembangan ekosistem kewirausahaan di lingkungan PNL,” ungkapnya.
Arhami menilai kreativitas mahasiswa yang ditampilkan dalam festival tersebut menjadi gambaran pentingnya ruang pembelajaran yang produktif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan dunia usaha.
Ia juga mendorong mahasiswa memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pemasaran, membangun identitas produk, serta meningkatkan daya saing di tengah perubahan perilaku konsumen.
“Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa tidak hanya belajar bagaimana memulai bisnis, tetapi juga bagaimana mengembangkan ide kreatif menjadi peluang ekonomi yang memiliki nilai tambah,” tambahnya.
Dorongan tersebut sekaligus menempatkan kewirausahaan sebagai salah satu kompetensi penting bagi lulusan perguruan tinggi. Di tengah persaingan mendapatkan pekerjaan, kemampuan membaca peluang dan membangun usaha dapat menjadi modal untuk menciptakan sumber penghasilan secara mandiri.
UMKM Jadi Ruang Belajar Menghadapi Realitas Pasar
Ketua Jurusan Bisnis PNL, Diana, S.E., Ak., M.Si., CA., CAPTT., mengatakan Bisnis Festival telah menjadi agenda tahunan yang digerakkan mahasiswa melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Disperindagkop dan UMKM Kota Lhokseumawe.
Menurut Diana, keterlibatan UMKM memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempelajari pengalaman nyata pelaku usaha dalam menghadapi dinamika pasar.
Ia berharap mahasiswa tidak membatasi orientasi karier hanya pada pekerjaan formal, tetapi berani mempertimbangkan kewirausahaan sebagai jalan untuk membangun kemandirian ekonomi sekaligus membuka kesempatan kerja bagi orang lain.
“Kami ingin membuka cakrawala berpikir mahasiswa bahwa kesuksesan karier tidak hanya diperoleh dengan menjadi pekerja, tetapi juga melalui keberanian menciptakan usaha dan membuka lapangan kerja. Kewirausahaan merupakan pilihan karier yang menjanjikan apabila dibangun dengan kreativitas, ketekunan, dan kemampuan membaca peluang,” ujarnya.
Diana menambahkan, festival tersebut diharapkan terus berkembang menjadi ruang tumbuhnya budaya kewirausahaan di lingkungan kampus, sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan dunia usaha.
Ke depan, keberlanjutan program semacam ini menjadi hal penting agar pengalaman mahasiswa tidak berhenti pada kegiatan pameran. Pendampingan usaha, penguatan pemasaran digital, akses permodalan, dan evaluasi perkembangan produk dapat menjadi bagian dari upaya mendorong lahirnya wirausaha muda yang berdaya saing.
Dukungan terhadap Bisnis Festival 2026 turut disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Disperindagkop dan UMKM Kota Lhokseumawe, Nelvia Surimaina, S.E., yang hadir bersama jajaran.
Ia mengapresiasi inisiatif mahasiswa PNL yang membuka ruang partisipasi bagi UMKM binaan pemerintah daerah. Kolaborasi tersebut dinilai berpotensi memperluas promosi produk lokal sekaligus menumbuhkan keberanian generasi muda untuk terjun ke dunia usaha.
“Kami sangat senang UMKM binaan Disperindagkop dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini. Mahasiswa harus berani belajar berbisnis sejak dini, mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah, dan terus mengembangkan potensi diri hingga mampu menciptakan lapangan kerja baru,” tuturnya.
Nelvia menegaskan komitmen Disperindagkop dan UMKM untuk terus mendukung kegiatan yang mendorong pertumbuhan UMKM, kreativitas generasi muda, dan penguatan kewirausahaan di Kota Lhokseumawe.
Kolaborasi kampus dan pemerintah daerah tersebut menjadi relevan di tengah kebutuhan memperkuat ekonomi lokal. Produk mahasiswa dan UMKM memerlukan lebih dari sekadar ruang promosi; keduanya juga membutuhkan inovasi, akses pasar, peningkatan kualitas, serta kemampuan menyesuaikan diri dengan kebutuhan konsumen.
Mahasiswa Didorong Berani Menguji Gagasan
Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Bisnis, Zakiul Fuad, menjelaskan bahwa tema “Ruang Berkarya, Ruang Berwirausaha” dipilih untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa memperkenalkan produk, menguji gagasan bisnis, serta membangun interaksi langsung dengan konsumen dan pelaku UMKM.
“Kami ingin festival ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar, berkarya, dan merasakan langsung pengalaman berwirausaha. Kehadiran UMKM eksternal juga menjadi kesempatan berharga untuk saling berbagi pengalaman dan memperluas jaringan usaha,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Bisnis Festival 2026, Putri Maisarah, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan tersebut, mulai dari pimpinan jurusan, mahasiswa, mitra pemerintah, hingga para pelaku UMKM yang berpartisipasi.
Penyelenggaraan festival ini memperlihatkan upaya PNL dalam memperluas pengalaman belajar mahasiswa di luar ruang kuliah. Akan tetapi, ukuran keberhasilan kewirausahaan pada akhirnya tidak hanya terletak pada ramainya kegiatan atau banyaknya produk yang dipamerkan, melainkan juga pada kemampuan mahasiswa mempertahankan usaha, mengembangkan pasar, dan menciptakan nilai ekonomi secara berkelanjutan. (asp)


